(Sumber : Bershalawat )

Membincang Kaum Oportunis Pada QS. Al-Quraisy

Daras Tafsir

M. Sa'ad Alfanny

Mahasiswa Studi Islam UIN Sunan Ampel, Surabaya

  

Dalam istilahnya, al-Qur\'an selain berfungsi sebagai penyampai pesan ketuhanan namun juga berperan menjadi gambaran terhadap peristiwa terdahulu sekaligus karakter manusia, termasuk kaum oportunis. Surah yang dapat dikaji atas konteks oportunistik salah satunya adalah QS. Al-Quraisy yang berpokok menjelaskan ciri-ciri kebiasaan kaum Quraisy. Surah tersebut menceritakan kemudahan yang kaum Quraisy dapat dalam kebiasaan ekspedisi perdagangan pada musim panas dan dingin. Secara historis, kaum Quraisy akan melakukan perdagangan pada musim dingin di negeri Yaman dan pada musim panas melakukan ekspedisi perdagangan di negeri Syam atau sekarang dikenal dengan Negara Suriah. Dalam artikel ini kemudian akan ditulis sikap oportunistik yang dipertontonkan oleh kaum Quraisy pada QS. Al-Quraisy beserta ibrah yang dapat kita petik dari kisah tersebut.

  

QS. Al-Quraisy dan Potret Oportunistik Kaum Quraisy 

  

Pada ayat pertama QS. Al-Quraisy Allah berfirman لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ “kebiasaan atas kaum Quraisy”, atau yang dimaksud sebagai kebiasaan adalah ekspedisi perdagangan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Menurut Ibnu Katsir, lafad إِيلَافِ Merujuk pada kebiasaan atau perjanjian dari kaum Quraisy yang Merujuk pada perjalanan dagang dengan aman karena perlindungan dari Allah SWT. Kemudian dilanjutkan penjelasan pada ayat kedua إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ “yaitu kebiasaan ekspedisi dagang pada musim dingin dan panas”. Menurut Tafsir Al-Muyassar menyatakan bahwa hal ini secara jelas menyiratkan bahwa kaum Quraisy sangat dipermudah oleh Allah melakukan ekspedisi perdagangan sebagai penghormatan atas penjagaan mereka terhadap Ka\'bah yang memang berada di sekitar mereka. Atas dasar itulah justru kaum Quraisy terlena sehingga fokus pada keuntungan dagang bukan mendekatkan diri kepada Allah. Maka dari itu pada ayat ke-3 Allah memberikan legitimasi bahwa فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ “maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Allah) sang pemilik rumah (Ka\'bah) ini”. 

  

Dalam referensi yang lain pada Tafsir Al-Maraghi menyatakan bahwa kaum Quraisy melakukan sikap inkonistensi terhadap praktik beribadat mereka dengan pendekatan mereka ketika membutuhkan rezeki dan perlindungan. Namun pasca mendapatkan apa yang mereka mau, mereka justru melupakan hal yang menjadi inti dalam kehidupan yakni beribadah. Dalam Tafsir Munir karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dijelaskan bahwa kaum Quraisy mendapatkan kenikmatan meliputi aspek sosial, ekonomi, dan keamanan yang kemudian hendak mereka syukuri, namun mereka malah terlena akan kenikmatan kemakmuran yang Allah berikan kepada mereka. Hal tersebut merupakan sikap oportunistik yang dipertampilkan oleh kaum Quraisy. 

  

Kemudian Allah memberikan firman yang memberikan legitimasi kepada kaum oportunis dengan ayat ke-4 yakni الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ “yang memberi mereka makan saat kelaparan dan memberi rasa aman ketika mereka ketakutan”. Sayyid Qutb kemudian pada Tafsir fenomenalnya fi Zilal al-Qur\'an memberikan penafsirannya pada kaum Quraisy yang justru mementingkan bisnisnya daripada kepentingan spiritual padahal hidup mereka di bawah naungan Ka\'bah. 

  

Kesimpulan 

  


Baca Juga : Rabi'ah al-Adawiyyah: Cinta Ilahi dan Pengabdian Sejati

Kaum Quraisy menjadi saksi bahwa kemudahan yang diberikan Allah justru menjadikan kita terlena terhadap segala kenikmatan. Terbukti dengan turunnya Surat al-Quraisy menuturkan kebiasaan dan pola hubungan antara kaum tersebut dengan Tuhannya sang pemilik Ka\'bah. Hal ini menjadi menarik dikaji pada era modern ketika agama hanya digunakan sebagai komoditas kepentingan. Banyak sekali manusia modern yang menggunakan tabir agama sebagai keuntungan pribadi namun nilai keagamaan diabaikan ketika tidak sejalan dengan kepentingannya. Semestinya, kita mempunyai mentalitas spiritual kapanpun dan dalam keadaan apapun menyandarkan diri kita kepada nilai-nilai dan ajaran Islam. Umat ​​Islam secara umum juga harus melek bahwa segala bentuk keamanan yang hadir pada diri kita merupakan karunia dari Allah SWT. Selain itu, ketika diberi kenikmatan oleh Allah hendaknya kita tidak terlena dengan hal tersebut. Justru seharusnya kita mengaplikasikan karunia tersebut dengan lebih bersyukur dan berdoa kepada-Nya, bukan justru menyekutukan-Nya. (Wallahu A\'lam).

  

Referensi:

Al-Quran 

Ahmad Mustafa al-Maraghi, at-Tafsir al-Maraghi.

Ibnu Katsir, at-Tafsir al-Qur\'an al-Adzim. Jilid 4.

Kementerian Urusan Islam Arab Saudi, al-Muyassar.

Sayyid Qutb. fi-Zilal al-Qur`an.

Wahbah az-Zuhayli, at-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa asy-Syari\'ah wa al-Manhaj.

- [ ] Tabik, A

l-Faqir Mohammed Sa\'ad Alfanny