(Sumber : nursyamcentre.com)

Fakta Saat Nusantara Masih Bernama Hindia Belanda

Informasi

Mempercepat kemajuan dan mencerdaskan kehidupan bangsa salah satunya dapat dimulai dengan pengembangan penelitian, teknologi dan inovasi. Dan semua hal tersebut ternyata telah dilakukan saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Sofian Effendi Wakil Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Guru Besar UGM menjelaskan bahwa dalam Amandemen keempat UUD I945 pasal 31 ayat 5 berbunyi, pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjungjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

 

"Adendum itu menjadi mandate penyelenggara pemerintahan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi," terangnya dikutip dari Kompas.com, (03/03).

 

Guru Besar UGM pun kembali menyampaikan bahwa dalam pelaksanaannya maka DPR dan pemerintah berdasar pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 Pasal 3 menetapkan pembentukan BRIN. Adapun tugasnya adalah membantu presiden di bidang pengkajian, penerapan, invensi, dan inovasi. Serta penyelenggaraan tenaga kenukliran dan keantariksaan secara nasional dan terintegrasi.

 

"Dalam melaksanakan tugas pemerintahan BRIN harus melibatkan semua unsur masyarakat," ujarnya.

 

Pengembangan Sains dan Teknologi

 

Menelik sejarah dahulu, Soffian menuturkan bahwa perjalanan sains dan teknologi negeri Indonesia sudah cukup panjang. Demikian publikasi ilmiah bermutu international dan keberadaan lembaga penelitian professional ada sejak Nusantara masih bernama Hindia Belanda di bawah VOC.

 

"Berawal 1761, pendeta bernama JM Mohr membangun observatorium dengan teropong cukup besar. Terletak di Molenviet Osst yang sekarang bernama Jl Hayam Wuruk dan Jalan Gadjah Mada," tuturnya.

 

Aktif Penelitian dan Publikasi Jurnal

 

Kala zaman Hindia Belanda telah cukup banyak dokter, sarjana pertanian lulusan universitas terbaik di Belanda dan negara-negara di Eropa direkrut sebagai ambtenar oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Selain itu, para sarjana juga terlibat dalam kegiatan penelitian dan aktif menerbitkan publikasi dalam jurnal-jurnal ilmiah terbitan Hindia Belanda atau Singapura.

 

"Yang mutunya setara dengan publikasi ilmiah pusat sains dan teknologi dunia di Eropa dan Amerika Utara," ujarnya.

 

Berdasarkan tulisan Sofian yang diunggah dalam laman Kompas (03/03) mengutip Andrew Goss tahun 2016 dinyatakan bahwa telah banyak ratusan artikel ilmiah di jurnal botani dan biologi. Serta buku dan famplet tentang keindahan alam terbitan Hindia Belanda.

 

"Jadi koleksi perpustakaan Universitas Michigan, AS, mulai terbitan tahun 1840," pungkasnya.