(Sumber : idcloudhost.com)

Pola Gerakan Sosial Digital Berbasis Twitter untuk Melawan Covid-19

Riset Sosial

Tulisan berjudul “Twitter Based Digital Social Movement Pattern to Fight Covid-19” merupakan karya Mohammad Thoriq Bahri dan Derajad Sulistyo Widhyharto. Artikel ini terbit di Jurnal Sosial Politik (JSP) tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pola gerakan sosial yang terjadi selama pandemi Covid-19 melalui dataset twitter bersisi 23.476 tweet di seluruh dunia dengan tagar #COVID19 yang diperoleh dari tanggal 2 Maret hingga 9 April 2020. Metode kualitatif dengan Social Network Analysis (SNA) digunakan sebagai kerangka penelitian. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis big data dengan software pemetaan NodeXI, RStudio dan Geph. Ekstraksi data dilakukan dengan data mining yaitu proses mengekstraksi data dan pola dari kumpulan data yang besar. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, identifikasi aktor kunci. Ketiga, twitter sebagai media gerakan sosial digital. 

  

Pendahuluan 

  

Adanya transformasi internet yang menyebabkan struktur sosial dan pola interaksi masyarakat yang berubah, menjadikan muncul istilah masyarakat informasi. Di era ini, orang berbicara di internet dan melakukan percakapan sehingga memicu gerakan sosial. Definisi gerakan sosial merupakan gerakan yang terorganisir, melibatkan entitas sosial informal yang terlibat dalam konflik ekstra-institusional untuk mencapai tujuan bersama. Jika ditinjau dari teori gerakan sosial, maka kesamaan tujuan antara entitas yang terlibat menjadi aspek terpenting bagaimana gerakan sosial digital dapat dipicu. 

  

Di era masyarakat informasi seperti saat ini, twitter merupakan salah satu platform media sosial yang menyediakan update secara real time mengenai apa yang terjadi di dunia. Twitter dianggap media paling sederhana dan efisien daripada platform jaringan sosial lainnya dalam hal penyebaran informasi. Melalui penggunaan hashtag, twitter dikonseptualisasikan sebagai platform penghasil data terbesar. 

  

Gerakan sosial digital dengan menggunakan hashtags dikenal sebagai cara paling efektif untuk menciptakan gerakan tanpa batas dari komunitas akar rumput hingga elit. Di sisi lain, berbeda dengan gerakan sosial tradisional yang hanya terjadi pada satu lapisan masyarakat. Gerakan digital melalui platform twitter menyebar melintasi dimensi sosial dan struktur. Misalnya, pandemi Covid-19 menciptakan gerakan sosial digital di platform twtter yang mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan guna memerangi pandemi dengan 628 juta tweet yang direkam dengan tagar #Covid-19.

  

Identifikasi Aktor Kunci

  

Terdapat beberapa hasil analisis terkait identifikasi aktor kunci yang terlibat dalam hashtag terkait Covid-19 dalam jaringan percakapan platform twitter. Pertama, pemula percakapan (conversation starter) yang diidentifikasi menggunakan analisis edge weight yang menunjukkan peringkat jaringan pengguna twitter. Pengguna pemula percakapan mencoba membuat klaster percakapan dan membangun kepedulian masyarakat terhadap suatu isu.  Kedua, influencer yang menciptakan opini bagi pengguna di jaringan percakapan dengan sering membuat tweet. Kemudian, tweet akan diretweet oleh pengguna lain. Singkatnya, pengguna ini memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi ke pengguna lain di lebih dari satu ‘kelompok’ percakapan. Influencer didominasi oleh akun yang terkait dengan pemerintah dan aktivis. Ketiga, para penggiat aktif (active engagers) yang menyebarkan informasi secara massif kepada para pengikutnya. Kemudian, informasi tersebut di retweet oleh para pengikut mereka. Penggiat aktif ini bertanggung jawab atas penyebaran informasi dan membuat koneksi antara pengguna lain dalam jaringan. Peran penggiat aktif dalam gerakan sosial digital adalah membangun birokratisasi yang juga dikenal sebagai ‘formalisasi gerakan’. Artinya, para aktor akan menjadi mengorganisir dan memunculkan spesialisasi pekerjaan antar aktor. Keempat, pembangun jaringan (network builder) yang memainkan peran penting dalam jaringan. Mereka berperan dalam menghubungan dua atau lebih banyak influencer dalam jaringan. Kelima, jembatan informasi (information bridge) yakni pengguna dalam jaringan diskusi online yang berperan untuk membantu influencer dan terlibat secara aktif dalam jaringan. 

  

Twitter Sebagai Media Gerakan Sosial Digital 

  

Terdapat beberapa temuan dari hasil penelitian tersebut. Pertama, terkait bagaimana twitter mengubah bentuk gerakan sosial, terutama dengan penggunaan #Covid19. Twitter sudah menciptakan wawasan baru terkait difusi karena kemampuannya menyebarkan informasi dan ide secara langsung tanpa batasan geografis. Perilaku para pengguna twitter ‘melanggar’ prinsip teori difusi awal yang diyakini bahwa menyebarkan gagasan dengan cepat harus melalui kontak langsung antar aktor yang terjadi secara intensif. Hal ini divalidasi oleh temuan penelitian bahwa #Covid-19 menciptakan gerakan sosial digital untuk mendorong kebijakan pemerintah dalam waktu relatif singkat. 

  

Kedua, twitter sebagai ruang publik baru. Gerakan sosial digital menggunakan media sebagai alat dan mediator penting, sehingga menciptakan ruang publik baru. Namun, para elit dan aktivis masih menjadi aktor utama dalam gerakan sosial. Di dalam #Covid-19 pengguna paling aktif akan mencoba selalu terlibat guna memperluas pengaruh mereka terhadap publik. 

  

Ketiga, perubahan peran media. Jika sebelumnya media sebagai agen pengumpul informasi, berubah menjadi agen pengembangan jaringan. Informasi yang berasal dari jurnalis dan media akan di retweet oleh para kelompok influencer, sehingga menciptakan kemunculan gerakan tertentu. Misalnya, akun @Ekagustiwana yang membuat donasi untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 melalui Kitabisa dengan informasi yang ditweet oleh jurnalis dan media sebelumnya. 

  

Keempat, adanya klaster percakapan yang intens antar aktor yakni kelompok tertentu dengan aktor berlawanan seperti pemerintah dan organisasi internasional yang memiliki wewenang untuk melakukan tindakan preventif dan represif dalam memerangi Covid-19. Artinya, ada dua dominasi pengguna yang berperan sebagai “hubs” dan “bridges”.  Hubs dapat dijelaskan sebagai ‘simpul’ dengan jumlah interaksi yang tinggi dengan simpul lainnya. Hubs akan menyebarkan tweet secara besar-besaran pada jaringan mereka. Di sisi lain, bridges dapat dijelaskan sebagai orang yang berpengaruh membuat ‘simpul’ pemerintah yang memiliki ‘nilai tinggi’. Pengguna bridges memiliki kemampuan menyebarkan informasi kepada seluruh sub kelompok dan dari sat uke lompok ke kelompok lain. 

  

Kesimpulan 

  

Secara garis besar, temuan penelitian ini menunjukkan perbedaan pola gerakan sosial digital dan tradisional. Pola gerakan sosial di era digital ditandai dengan gerakan tanpa batas dan lintas struktur sosial. Berbeda dengan gerakan sosial tradisional yang kebanyakan dilakukan pada aktor dengan struktur sosial yang sama. Pola gerakan sosial digital relatif berbeda, meski memiliki langkah yang sama, yakni muncul, menyatu, birokratis dan gerakan itu sendiri. Namun, berlangsung dalam ruang publik digital tanpa batasan sosial atau politik. Gerakan sosial digital dapat memaksa pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang lebih baik untuk memerangi pandemi Covid-19. Penelitian ini dapat menjadi referensi menarik terkait peran lain dari media sosial. Di sisi lain penelitian ini berhasil memberikan pembaharuan-pembaharuan lain terkait dengan konsep maupun teori yang sudah ada sebelumnya. Penjelasan analisis dilakukan secara detail dan ringan, sehingga sangat mudah untuk dipahami.