(Sumber : istimewa/PWNU)

HAVANA Ke - 98 : Respon Generasi Milenial Dalam Menghadapi Era Digital

Informasi

Melihat berbagai gejala dan perubahan yang terjadi secara signifikan di tengah pandemi. Semua sektor dituntut untuk dapat beradaptasi dengan penggunaan telkomonikasi digital. Hal ini yang demikian menuntut generasi milenial bergerak untuk merespon perubahan tersebut dengan tanggap dan cepat.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Reza Ahmad Zahid atau yang akrab disapa Gus Reza Pengasuh Ponpes Al- Mahrusiah, Lirboyo, Kediri bahwa generasi milenial sebagai insan yang berakal harus dapat mengetahui zamannya, serta gelaja dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Demikian disampaikannya pada acara Jagongan Jawagis bertema 'Motivasi Milenial untuk Menghadapi Era Digital' di malam pembukaan HAVANA (Hari Lahir Nahdlatul Ulama) ke - 98 yang digelar secara virtual streaming Youtube Aula Channel, AMTV, dan AMTV Digital.

 

Tak hanya itu, ia juga menyampaikan bahwa generasi milenial harus melakukan hal positif untuk merespon segala gelaja dan perubahan yang terjadi. Hal positif yang dilakukan tak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang banyak di sekitarnya.

 

"Generasi bangsa itu harus melakukan tiga hal, yaitu 'arifan bi zamanih, mustaqbilan bi sya'nih, dan 'arifan bi rabbih. Yang dimaksud dengan 'arifan bi zamanih yaitu  seseorang yang mempunyai akal harus mengetahui zamannya, serta gejala dan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Sedang, yang dimaksud dengan mustaqbilan bi sya'nih, dimana generasi bangsa harus melakukan hal-hal yang positif. Jadi tidak hanya memberi energi positif untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain," jelasnya.

 

Selain merespon gejala dan perubahan yang terjadi di sekitar, generasi milenial juga harus dapat menyeimbangkan dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa, serta mengikuti prinsip ajaran agama Islam. Demikian disampaikan oleh Gus Reza bahwa setelah merespon gejala dan perubahan, serta melakukan hal yang positif. Maka, hal terakhir yang harus dilakukan yaitu tetap mendekatkan diri kepada Sang pencipta alam semesta.

 

"'arifan bi rabbih, mengetahui tuhannya, dia harus berprinsip pada jalan yang ditunjukkan oleh Tuhannya, yaitu al-Qur'an dan Hadist. Ikutilah zaman yang seperti ini, tapi tidak boleh tergerus dengan zaman," ujarnya.

 

"Yang lockdown itu buminya, tapi langitnya tak pernah lockdown. Kita harus terus berdoa. Langitnya tak pernah tutup 24 jam. Kita akan selalu dekat pada Allah dan berdoa pada Allah. Kita harus optimis. Idza ahabbalallahu 'abda ibtalahu, yang artinya jika Allah mencintai hambaNya, maka dia akan mengujinya," tutur Gus Reza.

 

Terus Berkembang dan Terus Belajar


Baca Juga : Dilema Gender: 'Khunsa' Menurut Medis dan Hukum Islam

 

Sama halnya Guz Reza, dr. Mohammad Haris atau yang sering disapa Gus Haris Pengasuh Ponpes Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo juga mengatakan bahwa generasi milenial paling tidak mengikuti zaman, namun tidak tergerus di dalamnya. Ia juga mengatakan bahwa sesungguhnya di tengah pandemi justru menjadi peluang. Demikian menjadi tanggung jawab bersama untuk mengajak generasi milenial untuk mampu beradaptasi dan terus berkreasi, walau di tengah masa yang sulit seperti sekarang ini.

 

"Harus terus bersatu, terus belajar, terus berkembang, dan terus mensyiarkan agama Islam. Misalnya, ngajinya dapat disebarkan kepada banyak orang dengan memanfaatkan aplikasi yaitu Youtube," terangnya dalam acara Jagongan Jawagis dalam malam pembukaan Harlah NU ke-98, (Sabtu, 13/14/2021) yang digelar secara virtual.

 

Menggunakan Pengetahuan Untuk Berkreasi

 

Tak jauh berbeda dengan Gus Reza dan Gus Haris, Makki Nasir atau yang kerap dipanggil Ra Makki Pengasuh Ponpes Falahun Nashirin, Senenan, Bangkalan mengatakan, mati dan hidup seseorang tak lepas dari sebuah cobaan dan ujian. Lebih lanjut, kata Ra Makki, Sang Maha Kuasa menciptakan mati dan hidup tiada lain untuk menguji setiap manusia. Hal ini dilakukan untuk mengetahui siapa saja di antara manusia yang paling banyak melakukan tindakan yang baik.

 

"Sebagaimana tertuang dalam ayat al-Qur'an surat Al-Mulk ayat 2 yaitu, alladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa artinya yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya," ucapnya.

 

Dengan begitu generasi milenial dapat terus berusaha melakukan yang terbaik dengan menggunakan setiap pengetahuan yang dimiliki untuk terus berkarya dan berkreasi. Seperti yang disampaikan Ra Makki, di era digital saat ini tak ada sekat antara bangsa dan agama. Maka, generasi milenial harus mampu membungkus segala ide menjadi sebuah inovasi baru.

 

"Agar hal ini dapat mewujudkan sebuah peradaban bangsa yang baik, serta melestarikan paham aswaja," ujarnya.

 

Untuk itu, Ra Makki mengatakan kembali, sudah menjadi keharusan untuk selalu mengingat dan mempelajari tiga unsur, yaitu sejarah, filsafat, dan budaya. Untuk melangkah ke depan mengkaji apa yang terjadi.

 

"Kita ini patut bersyukur menjadi sebuah organisasi yang teruji dan terbesar di dunia. Untuk menjadi organisasi, pertanyaannya, bukan tentang apa yang terjadi?. Melainkan, bagaimana reaksi pada apa yang terjadi?. Tentu kita ketahui semua ini merupakan ketentuan dari Allah," pungkasnya.

 

Sedang, malam puncak HAVANA ke - 98 akan digelar pada tanggal 28 Februari 2021 tepatnya 16 Rajab 1442 secara virtual streaming Youtube di Aula Channel, AMTV, dan AMTV Digital. (Nin)