(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Persaudaraan Sebagai Inti Perayaan Imlek

Opini

Sebagian masyarakat Indonesia yang beragama Kong Hu Cu  baru saja merayakan hari  Imlek, tahun 4078 HE. Perayaan Imlek bagi masyarakat  Kong Hu Cu kali sekarang agak berbeda nuansanya dengan peringatan perayaan Imlek tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya tentu saja adalah wabah Covid-19 yang mendera kehidupan masyarakat dalam strata dan etnis apapun. Perayaan Imlek yang harus dilakukan dengan gegap gempita,  akan tetapi kali ini dilakukan  dengan keheningan di rumah masing-masing karena ancaman Wabah Covid-19 sebagai penyakit kerumunan. Makanya tempat Ibadah Klenteng yang biasa dijadikan sebagai tempat perayaan juga harus direka ulang  upacara keagamaannya untuk menghargai protocol kesehatan yang tidak bisa dilanggar.

  

Kehidupan agama di Indonesia yang biasanya berada di ruang public dipaksa oleh Pandemi Covid-19 untuk berada di ruang domestic. Ada domestifikasi agama yang terjadi pada seluruh upacara keagamaan yang biasa dilakukan di ruang public. Kegiatan keagamaan yang biasanya diikuti dalam jumlah besar anggota masyarakat lalu menjadi harus diselenggarakan di rumah masing-masing. Tentu tidak ada yang protes sebab memang harus melakukannya. Siapa yang melanggar tidak hanya potensial tertular Covid-19, akan tetapi  juga diancam dengan hukuman berdasarkan regulasi yang berlaku.

  

Oleh karena itu menjelang peringatan Imlek, seluruh televisi harus menyiarkan iklan layanan masyarakat atau iklan public agar penyelenggaraan perayaan imlek menjauhi kerumunan atau dilakukan di rumah masing-masing. Makanya di layar televisi bisa dilihat pemberitaan penyelenggaraan perayaan Imlek yang dilakukan di rumah-rumah atau kalau di tempat ibadah dalam jumlah yang sangat sedikit dengan penerapan protocol yang ketat, dan bahkan juga dijaga oleh aparat keamanan untuk memastikan bahwa tidak terdapat kerumunan yang menyebabkan penyebaran kasus terpapar Covid-19. 

  

Tahun baru Imlek berawal pada hari pertama bulan pertama (Hanzi) dan berakhir pada tanggal ke-15 bulan purnama (Cap Go Meh). Malam tahun baru Imlek disebut “malam pergantian tahun”. Perayaan tahun baru merupakan perayaan terbesar bagi etnis China. Bahkan di beberapa negara yang memiliki jumlah penduduk China besar, seperti Singapura, Vietnam, Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan dan sebagainya, perayaan Imlek sangat ramai. Di Singapura, misalnya perayaan Imlek sungguh menarik banyak wisatawan dari seluruh dunia. Di sini terdapat pawai di jalan-jalan utama Singapura, semacam karnaval pada saat peringatan Hari Kemerdekaan di Indonesia. Ramai sekali. Dengan teknologi lampion, maka perayaan ini sungguh sangat menarik. 

  

Perayaan Imlek sungguh sangat tua. Kekaisaran di China silih berganti melakukan peringatan, dan akhirnya disepakati bahwa tahun baru (Imlek) sekarang tahun 2021 adalah yang ke-4078 HE yang dihitung berdasarkan hari kelahiran Huang Di tahun 2697 SM. Penanggalam ini juga disebut sebagai penanggalan Tao. Penanggalan China termasuk penanggalan kuno sebagaimana penanggalan Kaum Aztek di Amerika Selatan. Bisa dibayangkan bahwa jauh sebelum penanggalan tahun Masehi dan Hijriyah, bangsa China sudah memiliki system penanggalan yang baku.

  

Perayaan Gong Xi Fa Cai merupakan upacara yang diselenggarakan oleh etnis China tanpa membedakan apapun agama dan keyakinannya. Meskipun bukan beragama Kong Hu Cu, masyarakat China menganggap bahwa memperingati tahun baru China merupakan suatu bentuk penghormatan terhadap para leluhurnya yang sudah ribuan tahun eksis di dalam system keyakinan dan kepercayaan yang baku. Oleh karena itu bisa dinyatakan bahwa tahun baru Imlek adalah upacara kebersamaan yang dilakukan oleh etnis China di manapun berada. 

  

Leluhur etnis China, maksud saya Konfusius,  adalah orang bijak dan tukang kayu, namun masyarakat China di manapun berada memiliki komunitas yang selalu berkembang dengan dunia perdagangan. Di Canada dikenal ada kampung China atau Chinese Town, yang terdiri dari para pengusaha yang berhasil secara ekonomis di Canada. Demikian pula di Australia, Sydney, juga didapati Kampung China atau China Town. Jika ingin cita rasa masakan Indonesia maka orang bisa datang ke sini untuk menikmati makanan ala Warung Padang.

  

Sebagai tahun baru, maka Imlek menghadirkan kebersamaan dan persatuan. Semua etnis China menganggap bahwa tahun baru China adalah milik mereka, meskipun secara khusus diperingati oleh masyarakat Kong Hu Cu. Masyarakat China memiliki kekhasan dalam kaitannya dengan leluhurnya. Mereka begitu antusias untuk menghormati leluhurnya dengan berbagai upacara. Makanya, dengan melakukan upacara “perayaan imlek” sama artinya dengan menghormati leluhurnya yang sudah menjadi lantaran kehidupannya yang sekarang.

  

Imlek bagi masyarakat China bukan sekedar peringatan tahun baru. Tetapi merupakan peringatan akan kesatuan dan persatuan atau persaudaraan. Di antara yang menjadi panduannya adalah guanxie atau ajaran Konfusius tentang etika hubungan horizontal. Makna guanxie  tidak hanya sebagai basis relasi perdagangan atau bisnis akan tetapi ajaran moral yang terkait dengan relasi sosial di antara masyarakat Tionghoa. Berbasis pada ajaran Konfusius ini, maka keterikatan antar warga China menjadi terikat erat. 

  

Maka perayaan Imlek sesungguhnya merupakan wadah bagi penyemaian terus menerus tentang etika sosial khusus untuk sesama warga Tionghoa tetapi juga relasi sosial antara warga Tionghoa dengan warga lainnya. Manifestasi dari perayaan imlek adalah upaya untuk menjaga relasi dengan Tuhan, leluhur dan juga dengan sesama umat manusia. Selamat merayakan Imlek semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menaungi dengan pencerahan untuk semua makhluk di dunia.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.