Marak Kekerasan Siber, Suara KOPRI Dibutuhkan
InformasiSeiring berkembangnya teknologi yang disertai dengan kecepatan arus informasi, tak heran semakin berkembang pula berbagai kekerasan siber berbasis gender yang terjadi di media sosial. Hal ini sebagaimana disampaikan Kalis Mardiasih penulis buku "Muslimah yang Diperdebatkan" mengatakan, belakangan ini sering terjadi kekerasan siber di media sosial yang berbentuk, yaitu Harassment, Doxxing, NCII, Hacking, Outing, dan Grooming. Harrasment merupakan penggunaan kata-kata yang bersifat seksual, merendahkan, menghina tubuh atau seksualitas.
"Selain itu, juga sering terjadi NCII (Non Consensual Intimate Image). Melakukan intimate image di media sosial, apapun alasannya tidak boleh," ucapnya pada hari puncak acara Semarak Kabangkitan Kartini muda yang diselenggarakan oleh KOPRI Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya secara daring via Zoom, (21/04).
Sedang, Doxing merupakan pengumpulan dan penyebaran informasi personal. Sementara, Hacking adalah pencurian akun dengan cara meretas. Dan Grooming merupakan pendekatan oleh orang asing kepada anak muda dengan tujuan untuk memperdaya.
Harus Menjadi Suara Alternatif
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sudah waktunya generasi muda milenial mengambil peran untuk berbagi konten positif di media sosial. Misal, salah satunya dengan menyuarakan isu kesataraan gender. Adapun cara menyampaikan konten positif, menurut Kalis, sudah waktunya menggunakan bahasa yang populer.
"Harus menjadi suara alternatif di ruang digital. Dengan caranya masing-masing. Misalnya saya menyuarakan isu perempuan dengan cara story telling. Iya, karena saya suka mencatat pengalaman perempuan. Mencatat pengalaman perempuan yang termarginalkan. Serta, orang-orang yang kecil yang jarang terekspos. Dimana menurut saya itu luar biasa," ujarnya.
Baca Juga : Di Balik Lukisan Henna Indah Untuk Pengantin
Bahkan, menurutnya, di era digital saat ini generasi muda PMII harus menjadi suara alternatif untuk menjawab segala problematika sosial dan keagamaan yang terjadi di tengah masyarakat khususnya ruang digital.
"Agar ruang digital tak lagi dipenuhi hanya dengan suara yang mengusung tema, seperti Indonesia tanpa pacaran, perempuan harus di rumah saja, dan masih banyak lainnya," tegasnya.
Saatnya Bergerak dan Memulai
Demikian Neni Nur Hayati Directur Eksecutive Empowerment Partnership (DEEP) sekaligus penulis memaparkan bahwa terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh generasi millenial di era digital saat ini, yaitu mulai dengan fokus dan konsisten pada penciptaan ruang publik, melek teknologi, perkuat literasi, mengambil peran, turut mengawal kebijakan yang memiliki dampak pada kepentingan perempuan dan anak, kompetitif secara sehat, dan sosialisasi langsung turun dengan gerakan kolektif untuk meciptakan inovasi.
"Kini saatnya bergerak dan memulai. Berkonsentrasi pada hal kecil dan sederhana namun tidak menyederhanakan konsep dasar. Pilihan isu dan tema yang crowdsourching dan dipahami oleh sebagian besar orang lewat media online," ujarnya.
"Kita semua harus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan untuk perempuan agar kehidupan perempuan menjadi lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan," tutupnya.
Acara Semarak Kebangkitan Kartini Muda ini dihadiri oleh segenap kader-kader KOPRI UIN Sunan Ampel Surabaya dan luar UIN Sunan Ampel Surabaya sebanyak 44 peserta. Demikian acara ini terselenggara atas dukungan, yaitu Nur Syam Centre dan UINSA Public Speaking.(Nin)

