Mendampingi Anak Hyperaktif, Dua Hal ini yang Perlu Diketahui
InformasiMemiliki anak yang tumbuh dengan sehat dan aktif menjadi impian setiap orang tua. Hanya saja memiliki anak yang aktif secara berlebihan justru perlu mendapat perhatian khusus. Hal ini sebagaimana disampaikan Dewi Savitri Dosen Psikologi Islam Universitas Indonesia mengatakan bahwa anak yang terus bergerak merupakan hal yang normal dan disebut aktif. Namun, saat bergerak tak mengenal waktu dan tempat justru termasuk anak hyperaktif.
Tak semua anak dapat dikategorikan sebagai anak yang hyperaktif. Namun, terdapat usia-usia tertentu. Adapun beberapa tanda-tanda yang dapat diidentifikasi bahwa anak dikatakan hyperaktif, yaitu tak mudah berkonsentrasi, tak mudah fokus, dan tak kenal budi-pekerti, seperti kepada orang tua.
"Ada usia tertentu, misalnya anak usia satu tahun kalo anaknya tidak bisa diam alias bergerak terus bukan termasuk hyperaktif. Baru kalo berusia di atas tiga tahun, terus anak tersebut terus bergerak dan tak bisa diam disebut hyperaktif," terangnya.
"Sementara, anak yang hyperaktif usia di atas tujuh tahun, orang tua perlu dengan segera untuk mencari solusinya," tambahnya.
Faktor Fisik Dan Mental
Anak yang hyperaktif dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu fisik dan mental. Faktor fisik dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti masuk pada masa pertumbuhan usia. Sementara, faktor mental dapat dipengaruhi beberapa hal, yaitu halaman rumah yang luas, peraturan di rumah yang masih longgar dan atau terlalu ketat.
"Kalo dipengaruhi mental biasanya terjadi pada anak dewasa. Kalo di dalam rumah peraturannya terlalu ketat. Akibatnya pada mental. Jadi hal itu dapat membuat anak diam di dalam dan liar di luar," ucapnya.
Selain itu, anak yang hyperaktif juga disebabkan oleh makanan. Makanan juga dapat berpotensi membuat anak jadi hyperaktif. Seperti halnya disampaikan Dewi, ia mengatakan bahwa makanan juga dapat berpotensi mempengaruhi gerak anak terlebih makanan yang manis. Sebab, di dalam makanan yang manis mengandung banyak zat aditif.
Baca Juga : Integrasi Ilmu: Saling Menyapa Sains dan Agama
"Hanya saja belum banyak penelitian yang menjelaskan terkait hal ini. Selain itu, makan di luar jam makan, serta memakan makanan yang diolah dari tepung, seperti mie. Dan juga yang dapat berpotensi membuat anak jadi hyperaktif yaitu makanan pedas," ujarnya.
Lebih lanjut, selain disebabkan karena makanan, ia mengatakan bahwa anak yang hyperaktif juga disebabkan oleh ADHD (Attention Deficit Hyperactivity) atau anak yang memiliki gangguan konsentrasi. Untuk menangani dan mendampingi anak yang hyperaktif karena ADHD, maka disarankan agar orang tua memberikan perhatian khusus.
"Misalnya anaknya itu suka nyanyi terus tak kenal waktu dan tempat. Maka, orang tua bisa mengalihkan aktivitas bernyanyi tersebut menjadi membaca ayat al-Qur\'an atau bisa juga menggambar. Dialihkan permainannya. Itu cara penyalurannya," tuturnya.
"Lantas kita tidak bisa mengatakan kalo itu bawaan dari lahir atau nggak. Kita perlu cek itu terlebih dahulu ke dokter," tambahnya.
Beri Aturan Dan Batasan Waktu
Terakhir disampaikan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi anak yang hyperaktif, yaitu adanya aturan yang jelas, adanya batasan yang jelas, memberi perintah dengan kalimat tunggal, memakan makanan yang sehat, dan tak memberi anak tugas yang berlebihan.
"Buatkan aturan dan batasan yang jelas, misalnya waktu makan dan waktu bermain. Selain itu, jangan memberi anak tugas terlalu banyak. Sedang, saat mau memberi tugas pada anak tidak hanya lewat bicara. Akan tetapi, juga lewat menggambar. Misalnya, jadwal mandi ditempel di dekat kamar mandi. Sedang, jadwal makan ditempal di depan kulkas," jelasnya.
"Selebihnya orang tua juga harus tetap sabar dan ikhlas. Minta sama Allah (agar sholat dan sabar menjadi penolongnya) selama mendampingi anak. Harus punya wibawa. Man Sabaro Dhofira, barang siapa yang bersabar maka akan beruntung," pungkasnya.(Nin)

