Moderasi Beragama yang Disalahpahami
InformasiKesalahpahaman dalam memahami gerakan moderasi beragama tak dapat dipungkiri dapat terjadi di era disrupsi seperti sekarang ini. Ada anggapan moderasi beragama merupakan pemikiran sesat yang terpengaruh pemikiran liberalisme. Padahal sebenarnya moderasi beragama adalah jalan yang tepat.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Nur Syam selaku Narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama di Tengah Geliat Islam Radikal (18/06), terdapat dua kutub di dalam kehidupan, yaitu kutub kanan yang kerap disebut radikalisme atau ekstrimisme dan kutub kiri yang disebut sebagai liberalism dan komunisme. Sementara ada juga yang theistic dengan pemikiran hanya ada kebenaran tunggal, yaitu tafsir yang berasal dari kelompoknya dan northeistic yang menyatakan bahwa tak ada kebenaran yang mutlak.
"Yang satu teks minded dan yang lain konteks minded. Keduanya memiliki otoritasnya masing-masing yang tak bisa didialogkan apalagi diintegrasikan," jelasnya dalam acara Seminar Nasional yang digelar melalui aplikasi Meeting Zoom.
Bukan Turunan Pemikiran Liberal
Paham islam wasathiyah atau moderasi beragama berada di antara dua kutub tersebut dan tak memasuki kawasan kanan dan kiri. Demikian disampaikan oleh Nur Syam bahwa sebagai konsekuensi jalan tengah, islam wasathiyah memahami dua kutub dalam posisi yang sama kurang relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural.
"Moderasi beragama bukanlah turunan dari pemikiran liberal yang di dalam praktik pemahaman keagamaannya lebih menekankan pada konteks bahkan dengan mengabaikan teksnya," tuturnya.
Nur Syam pun kembali menyampaikan bahwa gerakan moderasi beragama untuk berada di antara dua kutub ekstrim, kiri dan kanan, radikal dan liberal. Tak hanya itu, moderasi beragama dipastikan akan tetap berada di dalam paham ahli sunnah wal jamaah bersesuain dengan jumhur ulama dan diamalkan oleh mayoritas umat Islam.
"Menggunakan akidah, ritual, atau ibadah dan muamalah sesuai dengan fiqh ahlu sunnah wal jamaah," ucapnya.
Bukan Kebebasan yang Tiada Batas
Lebih lanjut moderasi beragama bukan perubahan lebih lanjut dari pemikiran liberal yang sumbernya berasal dari pemikiran filsafat liberalism dari dunia barat. Demikian Nur Syam menyampaikan bahwa Islam sama sekali tidak mengajarkan kebebasan yang tiada batas. Sebab manusia sudah dipedomani dengan ajaran agama sebagai basis di dalam segala segi kehidupan, yaitu berpikir, bersikap, dan bertindak.
"Sebagai pedoman gerakan moderasi beragama maka teks tetap dipertahankan. Apalagi jika teks tersebut masuk dalam kategori ayat-ayat muhkamat dan menjadi dalil qat'i, tetap yang ayat mutasyabihat maka bisa ditafsirkan sesuai dengan konteks yang terkait. Tetapi tetap saja bahwa konteks tidak boleh terlepas dari teks," ucapnya.
Sedang dalam Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama tersebut, menurut eks narapidana yang ditangkap oleh Densus 88 sebab ikut terlibat dalam deklarasi ISIS di Solo Jawa Tengah dan dugaan teroris meyembunyikan informasi pelaku teroris Noordin dan Dr Azhari, M Saifuddin Umar atau kerap disapa Abu Fida mengatakan bahwa setidaknya ada tiga cara untuk mewujudkan moderasi beragama pada kalangan ekstrimis.
"Menaklukkan hati (At-ta'lif qabla taklif), disibukkan dengan kegiatan alternatif kebangsaan (Tangan), merubah paradigma (kepala) degan dialog dan komunikasi dua arah," pungkasnya yang juga sebagai Narasumber dalam acara Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama di Tengah Geliat Islam Radikal.

