(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Potret al-Syamil fi Balaghat al-Qur'an: Serba-Serbi Proses Penyusunan (Bagian Kedua)

Daras Tafsir

Latar Belakang Penyusunan(*)

  

Sebagaimana lazimnya sebuah karya—apapun itu—yang kemunculannya kerap dilatarbelakangi oleh satu-dua sebab, al-Syamil yang ditulis oleh Gus Awis itu pun demikian. Ide penyusunannya berawal dari pertanyaan salah seorang dosen, sekitar tahun 2016, yang menanyakan kitab balaghat al-Qur’an sebagai bahan materi mengajar di Pascasarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Jawa Timur. Melalui percakapan via telepon itu, Gus menjawab bahwa ia tidak mempunyai kitab yang dimaksud, yang beliau punya adalah kitab-kitab balaghah secara umum yang di dalamnya terkadang menggunakan contoh-contoh dari Al-Qur’an. Kitab-kitab balaghah secara umum itulah yang pada akhirnya ia pinjamkan ke dosen tersebut.

  

Kemudian dari pertanyaan itu, Gus terdorong untuk melacak lebih lanjut kitab-kitab balaghah yang mengkaji balaghat al-Qur’an secara spesifik. Hasilnya, beliau menemukan beberapa penulis yang menggunakan istilah balaghat al-Qur’an sebagai judul atas karyanya. Di antaranya Balaghat al-Qur’an al-Karim: Dirasat fi Asrar al-‘Udul fi Isti‘mal Shiyagh al-Af‘al karya Zhafir al-Ghamri, al-Balaghah al-Qur’aniyah fi Ayat Shifat al-Mu’minin karya Hindun bint Jamil Nayitah dan al-Balaghah al-Qur’aniyah: Dirasah fi Jamaliyat al-Nashsh al-Qur’ani karya Ahmad Darwish. Tetapi ketiga kitab ini tidak mengkaji balaghah al-Qur’an secara keseluruhan. Yang pertama misalnya, hanya mengkaji balaghah dalam pemilihan kata kerja dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan yang kedua secara khusus mengkaji aspek balaghah dalam ayat-ayat yang terkait dengan sifat orang-orang beriman. Sementara yang ketiga, mengkaji keindahan gaya bahasa Al-Qur’an, dengan tema-tema yang dipilih oleh penulisnya (Ahmad Darwish).

  

Tegasnya, sejauh penelusuran yang dilakukan oleh Gus, belum ada satu pun kitab yang mengulas aspek balaghah Al-Qur’an secara runtut, mulai dari surah al-Fatihah sampai al-Nas. Dari sinilah ide menyusun kitab yang kelak masyhur berjudul al-Syamil fi Balaghat al-Qur’an ini muncul. Yakni ide untuk mengulas aspek-aspek balaghah dari ayat-ayat Al-Qur’an sesuai urutan yang terdapat dalam mushaf, mulai al-Fatihah sampai al-Nas. Adapun tujuannya, sekurang-kurangnya ada dua: (1) memudahkan para pelajar dan pengkaji balaghah menemukan aspek balaghah dari ayat yang mereka inginkan dan (2) membantu mereka untuk menadaburi (merenungkan) ayat-ayat Al-Qur’an dengan menyelami keindahan-keindahan dan rahasia-rahasia ungkapan yang terkandung di dalamnya selama proses tadarus. Yang dimaksud dengan yang disebut terakhir ini, mirip seperti saat mengkaji kitab tafsir, hanya saja lebih fokus ke balaghah.

  

Proses Pra-Penyusunan(**)

  

Bagaimanapun tidak ada tulisan yang berangkat dari ruang hampa. Oleh karenanya, saat tekadnya telah bulat, Gus mulai mengumpulkan materi-materi dari berbagai referensi yang mengulas aspek-aspek balaghah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Bila dikategorikan sesuai genre-nya, berikut senarai referensi yang sering dirujuk oleh Gus selama proses pra penyusunan ini:

  

Pertama, karya-karya ber-genre Balaghah, seperti Badi‘ al-Qur’an dan al-Tahrir wa al-Tahbir karya Ibn Abi al-Ishba‘; al-Isyarah ila al-Ijaz fi Ba‘dh Anwa‘ al-Majaz karya ‘Izz al-Din Ibn ‘Abd al-Salam; dan Kitab al-Fawa’id al-Musyawwiq ila ‘Ulum al-Qur’an wa ‘Ilm al-Bayan karya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah.

  

Kedua, karya-karya ber-genre Tafsir, seperti al-Bahr al-Muhith karya Abu Hayyan al-Andalusi, al-Tahrir wa al-Tanwir karya Thahir Ibn ‘Asyur, al-Jadwal fi I‘rab al-Qur’an karya Mahmud Shafi, I‘rab al-Qur’an wa Bayanuhu karya Muhy al-Din Darwisy, al-Tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhayli, dan Shafwat al-Tafasir karya Muhammad ‘Ali al-Shabuni.


Baca Juga : Dari Sosok Gus Sholah Temui Wajah Indonesia

  

Ketiga, karya-karya ber-genre ‘Ulum al-Qur’an, seperti al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an karya al-Zarkasyi dan al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an karya al-Suyuthi.

  

Gus berusaha mengeksplorasi aspek-aspek balaghah Al-Qur’an yang mereka ulas dalam masing-masing karya di atas.(***) Materi-materi yang telah berhasil beliau temukan dari sana, dihimpun dalam satu kompilasi khusus. Kelak saat Gus mulai menuliskan karyanya dan hendak mengutip keterangan dari mereka, beliau menuliskan, “Telah datang sebuah keterangan dalam kitab ini (ja’a fi kitab hadza)” dengan merujuk nama referensi, atau “Fulān berkata (qala Fulan)” dengan merujuk nama penulis.

  

Pada konteks pra penyusunan ini pula Gus mengakui bahwa referensi-referensi ber-genre balaghah di atas telah berjasa besar dalam memperkaya khazanah keilmuan balaghah yang dihimpun oleh karyanya, al-Syamil itu. Hal ini dikarenakan banyaknya istilah-istilah \"baru\" yang beliau dapatkan dari sana. Istilah-istilah itu bahkan tidak pernah beliau dengar dari “siapa pun”, tak terkecuali referensi-referensi balaghah yang umumnya digunakan oleh para pelajar di pesantren-pesantren nusantara.

  

Dari Badi‘ al-Qur’an dan al-Tahrir wa al-Tahbir karya Ibn Abi al-Ishba‘(1) misalnya, Gus mendapati aspek-aspek badi‘(#) Al-Qur’an yang jarang dijelaskan dalam kitab balaghah lain, seperti al-Fara’id, al-Iqtidar dan al-Ta‘aththuf. Dari al-Isyarah ila al-Ijaz fi Ba‘dh Anwa‘ al-Majaz karya ‘Izz al-Din Ibn ‘Abd al-Salam,(2) beliau ditunjukkan pada kalimat-kalimat metafora yang biasanya dianggap sebagai kalimat-kalimat hakiki, seperti habitha, rama, al-‘ilm dan lain-lain. Demikian pula dari Kitab al-Fawa’id al-Musyawwiq ila ‘Ulum al-Qur’an wa ‘Ilm al-Bayan karya Ibn al-Qayyim, beliau menemukan aspek-aspek balaghah yang jarang diungkapkan oleh kitab-kitab balaghah lain, seperti al-muhtamil al-dhiddain, al-muzalzil dan al-tajzi‘.

  

Lantas, apa yang dimaksud oleh istilah-istilah “baru” itu? Insya Allah akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

  

Catatan

  

(*) Keterangan ini disampaikan oleh Gus saat menjadi narasumber dalam acara Webinar Bedah Kitab “Al-Syamil fi Balaghoti Al-Qur’an” yang diselenggarakan oleh UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Jawa Timur, pada 2 Juni 2021. Lihat selengkapnya dalam https://www.youtube.com/watch?v=dgMNhgHZBfA (diakses pada 15 September 2021). Selain itu, keterangan ini juga bersumber dari makalah yang beliau sampaikan pada acara tersebut.

  


Baca Juga : New Baitul Hikmah: Pesantren di Era Mendatang

(**) Referensi yang penulis gunakan dalam mengulas hal ini sama seperti sebelumnya, dengan beberapa elaborasi dan catatan di sana-sini.

  

(***) Tentu masih banyak referensi yang lain, sebagaimana yang terlihat pada bagian daftar pustaka al-Syamil, volume terakhir.

  

(#) Yakni satu dari tiga cabang keilmuan dalam disiplin Ilmu Balaghah (Ma‘ani-Bayan-Badi‘). Bila Ma‘ani membahas gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan Bayan mengkaji gaya bahasa kiasan atas dasar perbandingan, maka fokus utama Badi‘ ialah membahas gaya bahasa—utamanya—atas dasar pertentangan dan pertautan atau kesesuaian.

  

(1) Sebagai catatan, nama aslinya ialah Abu Muhammad Zakiy al-Din ‘Abd al-‘Azhim Ibn ‘Abd al-Wahid Ibn Zhafir Ibn ‘Abd Allah Ibn Muhammad al-Mishri. Tidak terdapat keterangan pasti terkait mengapa sang ayah diberi julukan (kunyah) Abu al-Ishba‘, yang jelas beliau (Ibn Abi al-Ishba‘) lahir pada abad ke-500 H, dekade 80-an. al-Zirikli lebih tegas lagi, menurutnya, beliau lahir pada tahun 595 H/1198 M dan wafat pada tahun 654 H/1256 M di Mesir.

  

(2) Nama asli dan lengkapnya adalah ‘Abd al-‘Aziz Ibn ‘Abd al-Salam Ibn al-Qasim Ibn al-Hasan Ibn Muhammad al-Muhadzdzib. Ulama bergelar Shultan al-‘Ulama’ ini dilahirkan pada tahun 577 atau 578 H—terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan—dan wafat pada tahun 660 H. Dengan demikian, beliau hidup sezaman dengan Ibn Abi al-Ishba‘ yang disebut sebelumnya.

  

Sumber Rujukan

  

D. Hidayat, al-Balaghah li al-Jami‘ wa al-Syawahid min Kalam al-Badi‘: Balaghah Untuk Semua (Semarang: Karya Toha Putra, Jakarta: Bina Masyarakat Qur’ani, t.t.), 144.

  

Hifni Muhammad Syaraf, dalam Ibn Abi al-Ishba‘, Badi‘ al-Qur’an (T.tp.: Nahdhat Mishr, t.t.), 67-68.

  

Khair al-Din al-Zirikli, al-A‘lam: Qamus Tarajim li Asyhar al-Rijal wa al-Nisa’ min al-‘Arab wa al-Musta‘ribin wa al-Mustasyriqin, Vol. 1 (Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 2002), 30.

  

Walid Ahmad al-Husain al-Zubairi, dkk, al-Mawsu‘ah al-Muyassarah fi Tarajim A’immat al-Tafsir wa al-Iqra’ wa al-Nahw wa al-Lughah (Madinah: al-Hikmah, 2003), 1242, 1246.