New Baitul Hikmah: Pesantren di Era Mendatang
OpiniHari Selasa, 20/01/2025, merupakan hari yang sulit bagi saya, sebab ada dua acara yang datang secara bersamaan. Satu acara di UINSA dalam tajuk Bedah Buku “Pendidikan Tinggi Islam dalam Perspektif Sosiologi Pengetahuan,” karya saya, yang digelar oleh para dosen Muda pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA pada jam 09.00 WIB. Acara ini sudah dirancang lama, kira-kira sebulan yang lalu. Tetapi tiba-tiba datang acara yang tidak kalah penting, yaitu membahas dami Buku Pesantren Menuju New Baitul Hikmah” yang merupakan bahan naskah akademis untuk mendirikan Direktur Jenderal Pesantren pada Kementerian Agama Republik Indonesia. Akhirnya, pilihan harus dilakukan yaitu saya menghadiri secara fisikal di dalam acara di Ditjen Pendidikan Islam, khususnya di Direktorat Pesantren, untuk membahas tentang buku yang akan menjadi pemikiran filosofis dalam rangka pendirian Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama, yang izin prinsipnya sudah disahkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada acara Penutupan Hari Santri di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) akhir Desember 2025. Sementara itu, untuk acara di Surabaya dengan menggunakan system daring. Kedua-duanya dapat dilaksanakan.
Ada beberapa catatan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Kamaruddin Amin, Sekjen Kemenag., Prof. Dr. Amien Suyitno, Dirjen Pendis, Dr. Basnang Said, Direktur Pendidikan Pesantren, dan Prof. Dr. Arsekal Salim (Sesdirjen Pendis), Dr. Makhrus, Kasubdit Pendidikan Ma’had Ali, dan sejumlah peserta Focus Group Discussion (FGD) di Hotel Luminor, Jakarta. Acara diikuti oleh sebanyak 40 orang yang secara aktif terlibat di dalam acara ini. Buku yang masih berupa dami tersebut memang didiskusikan secara mendalam agar dapat menjadi naskah akademis yang memenuhi standar “menjawab pertanyaan bagaimana Ditjen Pesantren di Masa Depan.”
Ada beberapa catatan yang saya anggap penting, yaitu: sub judul buku “Distingsi Filosofis Pesantren, Pendidikan Islam dan Pendidikan Umum”. Menurut pandangan saya, bahwa kata itu kurang tepat. Distingsi pesantren, Pendidikan Islam dan Pendidikan umum tidak menggambarkan tentang apa yang diperbandingkan. Tidak aple to aple. Maka, yang tepat adalah Distingsi Filosofis Direktorat Jenderal Pesantren dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Sementara itu kata Pendidikan umum kita buang. Kata filosofis tetap dipertahankan untuk menggambarkan tentang pemikiran mendasar, baik nuansa akademisnya maupun teknisnya. Dengan demikian judul buku tersebut adalah: “Pesantren Menuju New Baitul Hikmah: Distingsi Filosofis Direktorat Jenderal Pesantren dan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.”
Ada pesan substantif dari Prof. Kamaruddin dan Prof. Suyitno, bahwa pesantren ke depan harus menjadi pesantren yang relevan dengan tuntutan zaman atau pesantren modern, yang santrinya bisa memasuki segmen kehidupan yang lebih luas. Sedangkan yang dibicarakan di dalam buku adalah pesantren masa depan dan bukan masa depan pesantren. Jangan bicara eksisting saja tetapi juga berbicara pesantren masa depan. Sesuatu yang futuristic.
Berkaitan dengan hal ini, maka saya memberikan masukan tentang pentingnya mencandra pesantren masa depan dengan milestone semenjak tahun 2025-2045. Diharapkan dengan menuliskan tentang milestone itu akan dapat menjadi peta jalan untuk mengembangkan pesantren di masa depan. Saya paparkan bahwa ada visi jangka panjang dan misi jangka panjang dan kemudian dirumuskan program jangka panjang selama 20 tahun. Maka, dapat dirumuskan milestone tahun 2025-2030 yaitu mendirikan Ditjen Pesantren sebagai amanat UU No 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Tahun 2025 ditutup dengan keluarnya izin prinsip Presiden RI, pada Gebyar Penutupan Hari Santri Nasional. Tahun 2030-2035 merumuskan tentang menguatkan kelembagaan, infrastruktur dan Sumber Daya Manusia. Tahun 2035-2040 merumuskan menguatkan pendidikan pesantren, dakwah pesantren dan pemberdayaan pesantren, misalnya dengan indicator meningkatnya kualitas pendidikan pesantren, penguatan SDM pesantren dan menguatnya pembelajaran pesantren berbasis teknologi informasi dan ekoteologis. Dakwah pesantren untuk mencetak ahli-ahli dakwah berbasis kitab kuning dengan mengembangkan talenta dakwah bil kalam, bil Qalam dan bil hal dalam perspektif varian media dakwah di tengah perubahan masyarakat digital. Lalu, pemberdayaan dakwah pesantren multi perspektif, seperti ekonomi, social, pendidikan, dan lingkungan. Tahun 2040-2045 merumuskan tentang pendidikan pesantren berdampak, dakwah pesantren berdampak dan pemberdayaan pesantren berdampak, yaitu dengan indicator kualitas pendidikan pesantren yang unggul atau Mumtaz, SDM yang unggul diferensiatif, dan program pendidikan, dakwah dan pemberdayaan yang memberikan kontribusi signifikan bagi pesantren, kelembagaan, pemerintah dan Masyarakat.
Nilai kepesantrenan menjadi acuan normative dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tahun 2040-2045 dapat dirumuskan tentang tercapainya New Baitul Hikmah dengan spirit yang sangat kuat untuk mengembangkan ilmu keislaman integrative yang dapat menjadi fondasi bagi pengembangan peradaban dunia. Tidak selalu harus dalam profiling limuwan yang polymath sebagaimana di masa lalu, tahun 800-1200 Masehi sebagaimana profile Al Kindi, Al Battani, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Ghazali dan seterusnya, akan tetapi semangat atau ethos menjadikan ilmu keislaman sebagai nilai pengembangan peradaban dunia yang menjadi profilingnya. Baitul hikmah menghasilkan profile ilmuwan Islam yang luar biasa. Ada sebanyak 147 ilmuwan dalam berbagai bidang kajian yang out standing.
Hal yang tidak kalah menarik juga terkait dengan tantangan pesantren di masa depan, saya mengungakpan ada tiga tantangan besar di masa depan, yaitu: tantangan perubahan social yang sangat cepat dan tidak terduga, yang di dalam konsepsi sosiologis disebut sebagai VUCA atau Volatility, Uncertanty, Complexity dan Ambiguity. Volatility adalah sebuah fenomena kehidupan yang penuh dengan perubahan cepat, tidak terduga, terjadi dengan tiba-tiba dan penuh dengan gejolak. Uncertanty atau tidak jelas, tidak menentu, serba prediktif. Complexity atau ruwet, sophisticated, dan fenomena yang kompleks. Ambiguity atau fenomena yang ambigu, serba mendua, dan tidak menggambarkan apa adanya. Bahkan bisa ditambahkan dengan perubahan keagamaan yang juga sangat luar biasa. Makanya saya nyatakan tantangan pesantren itu VUCA PLUS.
Kemudian yang tidak kalah menarik, yaitu tantangan masyarakat digital. Inilah pentingnya membahas pesantren masa depan. Tantangan masyarakat digital adalah contoh betapa pesantren tidak bisa untuk mempertahankan masa lalu saja tanpa menengok lingkungan pacu masyarakat yang berubah. Era Revolusi Industri 4.0 saja sudah membuat kehidupan manusia semakin kompleks. Media sosial sebagai keturunan langsung dari ERI 4.0 semakin kuat cengkeramannya pada kehidupan manusia. Di antara yang sangat menonjol adalah lahirnya Teknologi Informasi (TI), yaitu ada Artificial Intelligent (AI). Ada yang disebut dengan Virtual Reality (VR), ada Augmented Reality (AR) dan Big Data (BD). Semua ini harus direspon oleh pesantren agar pesantren tetap survive di tengah kehidupan sosial.
Tantangan berikutnya adalah pendidikan berbasis digital. AI menjadi mesin supercerdas untuk memberikan solusi atas apa saja yang diperlukan oleh manusia, khususnya dalam karya tulis. VR banyak digunakan untuk program pembelajaran dan berbagai komunikasi yang dilakukan oleh manusia. Augmented Reality dapat digunakan untuk menghubungkan realitas dunia dalam lipatan. Misalnya pendidikan pesantren di Indonesia dapat dinikmati di Amerika, di Eropa, di Afrika dan di Australia. Jadi santri pesantren di Indonesia itu terdiri dari berbagai macam bangsa. Big data akan memberikan bantuan atas berbagai fenomena pendidikan, industri, perbankan, dan penyediaan data yang luar biasa banyaknya.
Lalu, hal yang tidak kalah penting juga menampilkan tentang kitab kuning yang related dengan perkembangan sains dan teknologi, ilmu sosial, dan ilmu humaniora. Seperti ilmu kedokteran, ilmu kesehatan, ilmu lingkungan, ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, psikhologi, antropologi, ilmu bahasa dan sastra dan sebagainya. Agar dipaparkan tentang karya-karya ulama terdahulu atau kitab kuning yang diajarkan di pesantren yang selama ini menjadi andalan dunia pesantren.
Di masa lalu, dunia pesantren memiliki keunggulan dalam pembelajaran berbasis hafalan dan siapa yang memiliki hafalan yang banyak dalam berbagai kitab kuning, maka yang bersangkutan menjadi santri yang hebat. Di tengah perubahan pembelajaran berbasis searching dan penggunaan AI, maka bagaimana ke depan pesantren harus merenda program pembelajarannya. Di antaranya adalah pembelajaran berbasis Mixed Methods. Ada santri yang belajar untuk menjadi ulama atau hujjatul Islam atau Mullah yang berada dalam pembelajaran berbasis memorized, dan ada ayatullah yang menggunakan pembelajaran berbasis searching dan pemanfaatan AI. Di Iran Hujjatul Islam setara strata satu (program sarjana), mullah setara strata dua (program magister) dan ayatullah setara strata tiga (program doktor).
Wallahu a’lam bi al shawab.

