(Sumber : Dokumentasi pribadi)

Ngaji Bahagia: Joy Learning Orang Dewasa

Informasi

Manusia adalah makhluk social. Manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling membangun relasi social. Melalui hal itu,  maka terdapat komunikasi, dan saling berbagi tentang kehidupan. Sebagai  makhluk social, manusia membutuhkan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya.  Kebutuhan  social. 

  

Di antara kebutuhan social tersebut adalah persahabatan, dalam bentuk bisa bercakap-cakap dan bersendagurau dan mengekspresikan apa yang dialaminya. Bisa kesenangan dan juga kesedihan. Bisa saling curhat. Bahkan terkadang juga rasan-rasan atas yang lain. Namanya juga manusia. Ada kalanya bisa bercerita hal-hal yang dialaminya dalam relasinya dengan yang lain.

  

Jika ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa yang lain, tentu hanya di dalam cerita atau novel. Misalnya cerita Robinson Crusoe atau Tarzan. Manusia yang hidup di hutan dan hanya berkawan dengan binatang, termasuk binatang buas. Tetapi hakikatnya manusia itu makhluk social. Begitu juga cerita Nabi Adam Alaihis Salam. Oleh Allah SWT maka diciptakan Hawwa dari tulang rusuknya dan akhirnya menjadi isterinya dan melahirkan manusia yang berkembang biak seperti sekarang. 

  

Manusia bisa memanfaatkan tempat apa saja untuk mengekspresikan kebutuhan sosialnya. Bisa di Café,  restoran,  warung, pasar, dan masjid. Tempat ini memang memiliki fungsi khusus, misalnya café sebagai tempat untuk cangkruan, apalagi jika ada WIFI di dalamnya maka akan menjadi tempat untuk internetan yang menyenangkan. Bisa datang sendiri atau berkelompok. Restoran adalah tempat untuk makan, warung juga memiliki fungsi khusus. Demikian pula masjid atau mushalla. Semuanya memiliki fungsi khusus tetapi yang tidak boleh dilupakan bahwa tempat tersebut bisa menjadi tempat untuk mengekspresikan kebutuhan social.

  

Masjid Al Ihsan memang bukan masjid besar. Masjid kecil bahkan bisa disebut sebagai mushalla. Orang Indonesia membedakan antara masjid dan mushalla itu dari ukuran besar dan kecilnya tempat ibadah tersebut. Di Timur Tengah semuanya bernama masjid atau tempat sujud. Sedangkan di Indonesia ada juga mushalla atau tempat shalat. Padahal sesungguhnya semua masjid itu berfungsi sebagai tempat sujud dan juga tempat shalat. Itulah ciri khas Islam di Indonesia, yang memang terdapat keanekaragaman.

  

Di masjid ini, ada beberapa kegiatan. Di antaranya adalah Ngaji Bahagia. Di dalam kegiatan Ngaji Bahagia ini, maka ada ceramah dan tahsinul Qur’an dan juga takhtimul Qur’an yang dilakukan secara temporer. Ceramah dilakukan oleh orang internal atau jamaah masjid sendiri dengan tema sesuai dengan keahlian masing-masing. Bisa saja tema tentang hukum, ilmu jiwa, kemasyarakatan dan juga agama. Setiap selasa dilakukan acara ceramah internal sesama jamaah shalat shubuh. Hari Senin pagi, Rabu dan Kamis tahsinan, dan hari Jum’at membaca surat al Kahfi secara jamaah, sedangkan hari Sabtu ada acara di Masjid Ar Raudhah dan hari Ahad free. Selain ini juga didawamkan membaca Surat Al Waqi’ah sebelum doa ba’da shalat shubuh. Semua jamaah masjid sudah bisa menghafalkan surat ini. Tanpa dilakukan upaya menghafal, akhirnya hafal juga karena dibaca setiap hari dalam waktu yang cukup panjang. Membaca surat Al Waqi’ah itu dilakukan setiap hari. Tanpa jeda. 

  

Tahsinan dilakukan atas bimbingan Ust. Zamzami, Ust Firdaus dan Ust. Alif. Tahsinan Al Qur’an  juz 30. Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam rangka untuk membenahi bacaan Al Qur’an jamaah masjid. Yang semula belum tahu tajwid, dan makharijul huruf maka akhirnya bisa mengetahuinya. Para jamaah masjid sangat senang karena bisa membaca Al Qur’an lebih baik.

  

Dari semua kegiatan itu yang terpenting adalah tertawa.  Harus  sekurang-kurangnya 17 kali. Tidak hanya ceramah yang bisa tertawa, tetapi mengaji tahsinan pun harus tertawa. Ada saja yang menjadi bahan tertawaan. Saya pikir group Ngaji Bahagia itu terdiri dari orang kocak semua. Pak Mulyanta, Pak Hardi, Pak Sahid, Pak Rusmin, Pak Suryanto, Pak Budi , Pak Abdullah, Pak Bintara dan saya semuanya bisa memancing tertawa.  Baru ketemu saja sudah pada tertawa. Ada saja yang diceritakan untuk menjadikan kita tertawa, misalnya cerita-cerita lucu orang dewasa. Bahkan juga obat kuat. Tetapi pertanyaan yang lucu adalah “apakah masih bisa”. Pokoknya seru. 

  

Jika di tempat lain, mengaji itu serius, maka di sini prinsipnya adalah tertawa itu sehat. Maka kala bertemu harus tertawa bareng. Jangan sia-siakan waktu bertemu dengan tidak tertawa lepas. Sesuai dengan dunia kesehatan, bahwa kebahagiaan itu dimulai dengan kemampuan kita untuk bisa tersenyum dan tertawa. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa “idkholus surur min akhlaqir rasul” yang artinya: “menyenangkan hati seseorang adalah akhlaknya Rasul”. Jika kita bisa tertawa bersama, maka kita akan mendapatkan pahala. Apalagi juga secara temporal ada kiriman roti, wedang jahe sereh, duren atau makan bersama. Kita juga kuliner konro, sate, tongseng, gule dan masakan ikan laut. Hati heppy fisik juga senang. 

  

Bayangkan bahwa kita setiap hari bisa tertawa 17 kali secara serempak, maka berapa banyak pahala yang kita dapatkan. Jadi selain shalat, dzikir, bersedakah dengan harta, maka tertawa dan membuat tertawa orang lain juga akan berkontribusi untuk menjadi kekayaan di akhirat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.