(Sumber : nursyamcentre.com)

NSC Dan KOBAR Gelar Kajian Model Penafsiran KH. Maimoen Zubair

Informasi

Komunitas Baca Rakyat (KOBAR) dan Nur Syam Centre (NSC) menggelar kajian online via Zoom, (11/08). Kali ini, KOBAR mengusung tema kajian online, yaitu Telaah Awal Model Awal Penafsiran KH. Maimoen Zubair. Menariknya, kyai yang kerap dipanggil Mbah Moen, selain dikenal sebagai ulama kharismatik, memiliki pengetahuan agama yang luas, dan kiprah yang luar biasa dalam dunia politik.  Ternyata, juga melekat pada Mbah Moen predikat sebagai mufassir. Seperti halnya, disampaikan Abdul Najib bahwa demikian melekat pada Mbah Moen predikat sebagai mufassir di kalangan pesantren.

 

Kajian online kali ini terbilang cukup ramai tampak pada room Zoom terdapat 38 hingga 45 peserta. Peserta yang hadir pun dari berbagai kalangan, mulai dari kyai, dosen, mahasiswa, hingga santri. Demikian, yang menjadi pemantik kajian, yaitu Abdul Najib Dosen STAI Al-Anwar Rembang. Sementara, Ahmad Miftahul Haq sebagai moderator yang memandu jalannya kajian online hingga selesai.

 

Pada kesempatan kali ini, kajian online dimulai dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh KH. Muhammad Amirudin pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya.  Tak hanya itu, kajian online kali ini tampak ada berbeda. KOBAR menayangkan sebuah video melalui fitur share screen di Zoom, yaitu video profil KH. Maimoen Zubair atau kerap disapa Mbah Moen sebelum memulai kajian online. Dalam video tersebut menggambarkan keluarga, pengembaraan ilmu saat remaja, pengabdian pada pondok, perjalanan di dunia politik sampai menjadi ulama besar nan kharismatik. Sementara, di detik terakhir tayangan video diceritakan sebuah pesan-pesan Mbah Moen sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Melekat Predikat Mufassir

 

Pemantik kajian yakni Abdul Najib mengawali ulasan terkait tema dengan mengutarakan, selain terkenal sebagai agamawan dan politisi, juga melekat pada sosok Mbah Moen predikat mufassir. Predikat mufassir diberikan oleh kalangan pesantren. Kendati demikian, penafsiran Mbah Moen akan ayat-ayat al-Qur'an tak banyak diulas dalam kancah akademis.

 

"Bagi sebagian santri dan muhibbin Mbah Moen, menganggap bahwa penafsiran yang berbeda sebagai sesuatu yang lumrah. Dengan juga menempatkan Mbah Moen sebagai ahli hikmah atau tasawwuf yang pokoknya otak-atik-matuk. Mereka seperti lupa bahwa Mbah Moen adalah seorang cendekiawan, yang rasanya mustahil  mengeluarkan pemikiran tentang al-Qur'an hanya berdasarkan pemikiran pribadi yang otak-atik-matuk tanpa disertai basis pemikiran yang argumentatif," imbuhnya.

 

Menemukan Tiga Pola Kemiripan Dalam Penafsiran

 

Sementara, Najib menemukan tiga pola penafsiran Mbah Moen berdasarkan pengamatannya pada ayat-ayat yang ditafsirkannya. Adapun tiga pola yang ditemui, yaitu pertama, Mbah Moen berusaha mendialogkan antara teks dan konteks. Kedua, membawa teks untuk dapat melihat masa kini, sedang yang ketiga yaitu terdapat permainan bahasa. Walau begitu, hingga kini belum ada tulisan-tulisan atau buku yang membahas terkait model penafsiran Mbah Moen secara akademis.


Baca Juga : Sistem Sosial, Mendukung Terbentuknya Budaya Disiplin Baru Saat Pandemi

 

"Ke depannya perlu ada sebuah tulisan atau buku yang membahas tentang model penafsiran Mbah Moen. Hingga banyak santri menyebut Mbah Moen dengan predikat mufassir menjadi berdasar dan bukan sekedar bentuk kekaguman murid kepada guru belaka," tuturnya.

 

Masih Banyak Menunjukkan Kelemahan

 

Sebelumnya pemantik kajian diwajibkan untuk membuat sebuah rangkuman materi terkait tema yang diambil sebelum kajian online dilaksanakan. Sedangkan, berdasar pada rangkuman yang ditulis oleh pemantik kajian, Chafid Wahyudi sebagai Ketua KOBAR menilai bahwa tulisan yang dikirim oleh pemantik kajian menunjukkan kelemahan atau kekurangan dari tulisan tersebut untuk dibahas lebih lanjut pada diskusi kali ini.

 

"Beliau mengkritik tentang pemahaman dawuh Mbah Moen tentang penafsiran surat at-Takwir ayat 3. Selain itu, pemantik terlihat belum menemukan teks moral dalam penafsiran surat at-Takwir. Dan masih banyak lagi yang dikoreksi termasuk penulisan dan isi tulisan tersebut," ujarnya.

 

Harus Dibangun Dalam Perspektif dan Konsep yang Matang

 

Kendati demikian, CEO NSC Dr. Chabib Mustofa mengatakan bahwa rangkuman materi yang ditulis oleh pemantik kajian, seperti halnya proposal penelitian. Ia juga mengatakan bahwa secara tak langsung pemantik kajian ingin mendapat jawaban dan tanggapan melalui kajian online. Sementara, disampaikan oleh Chabib bahwa menjadi penting diawal bagi seseorang yang hendak ingin melakukan penelitian yakni memperjelas posisi dalam memilih perspektif dan konsep yang digunakan sebagai alat untuk melihat realitas.

 

"Suatu penelitian akan terbata-bata nantinya. Jika tidak diperhatikan oleh peneliti mengenai posisi dalam memilih perspektif dan konsep-konsep yang digunakan kurang matang," pungkasnya. (Hil)