(Sumber : Julo)

Paylater: Kemudahan yang Memikat atau Utang yang Menghantui?

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Di era digital saat ini, layanan “beli sekarang, bayar nanti” (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai paylater semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di kalangan anak muda dan pengguna aktif e-commerce. Layanan ini menawarkan kemudahan dalam berbelanja tanpa harus membayar di depan, memungkinkan konsumen untuk membeli barang yang mereka inginkan dan membayar nanti. 

  

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), utang yang terkait dengan layanan ini mencapai Rp30,36 triliun hingga November 2024, mencatat pertumbuhan sebesar 48% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp20,5 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa baik perbankan maupun perusahaan pembiayaan semakin agresif dalam menawarkan kredit konsumen dengan layanan paylater. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, layanan ini juga membawa tantangan yang signifikan bagi konsumen dan perekonomian secara keseluruhan.

  

Mengapa Seseorang Menggunakan Paylater?

  

Salah satu alasan utama mengapa orang suka menggunakan paylater adalah kemudahan dalam bertransaksi. Dengan layanan ini, konsumen dapat melakukan pembelian tanpa membayar di muka. Ini sangat membantu bagi mereka yang mungkin tidak memiliki cukup uang tunai pada saat itu. Misalnya, ketika seseorang menemukan barang yang diinginkan, mereka dapat langsung membelinya dan membayarnya nanti, memberikan mereka waktu untuk mengatur keuangan mereka.

  

Selain itu, layanan paylater biasanya mudah diakses melalui aplikasi mobile atau situs web. Proses pendaftaran dan penggunaan layanan ini umumnya cepat dan tidak memerlukan banyak dokumen, berbeda dengan proses pengajuan kredit tradisional yang seringkali rumit. Hal ini membuat paylater menjadi pilihan yang sangat menarik bagi generasi muda yang lebih menyukai transaksi digital dan cepat.

  

Lebih dari itu, paylater menawarkan harapan dalam pembayaran. Konsumen dapat memilih untuk membayar dalam jangka waktu tertentu, baik itu dalam bentuk cicilan bulanan atau pembayaran penuh di akhir periode. Hal ini memungkinkan mereka untuk merencanakan keuangan dengan lebih baik, terutama jika mereka memiliki pengeluaran lain yang harus dipenuhi. Fleksibilitas ini sangat menarik bagi mereka yang memiliki pendapatan tidak tetap atau yang ingin mengelola arus kas mereka dengan lebih efisien.

  

Kebutuhan akan Kemudahan dalam Bertransaksi


Baca Juga : Kekuasaan dan Islamisasi di Jawa dalam Perspektif Geopolitik

  

Seperti yang dinyatakan oleh Dian Ediana Rae, pengawas perbankan OJK, pertumbuhan layanan paylater menunjukkan bahwa tanggap perbankan terhadap kebutuhan masyarakat, terutama dalam hal kredit skala kecil. Kemudahan yang ditawarkan membuat layanan ini sangat menarik bagi banyak orang, terutama generasi muda yang terbiasa dengan transaksi digital. Hanya dengan beberapa klik, konsumen dapat melakukan pembelian tanpa harus langsung membayar, memberikan mereka permulaan dalam pengelolaan keuangan.

  

Namun, kemudahan ini juga dapat menjadi pedang bermata dua. Tanpa adanya pemahaman yang jelas tentang bagaimana cara kerja layanan ini, konsumen dapat dengan mudah terjebak dalam siklus utang yang sulit untuk dihentikan. 

  

Risiko Utang yang Meningkat

  

Porsi pembiayaan besar paylater, yang mencapai Rp21,77 triliun, berasal dari perbankan, dan jumlah rekening paylater di perbankan juga meningkat dari 23,27 juta menjadi 24,51 juta rekening. Pertumbuhan ini, meskipun menggembirakan dari sudut pandang bisnis, dapat menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan keuangan masyarakat. 

  

Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan layanan ini, risiko utang yang tidak terkendali semakin meningkat. Konsumen yang mungkin tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang manajemen keuangan bisa berakhir dengan kewajiban yang lebih besar daripada kemampuan mereka membayar. Hal ini dapat menyebabkan stres finansial yang berkepanjangan dan berpotensi memicu masalah kesehatan mental.

  

Dampak terhadap Kesehatan Mental

  

Kesehatan mental dan finansial sering kali saling terkait. Ketika seseorang terjebak dalam hutang, beban pikiran yang ditanggungnya bisa sangat berat. Rasa cemas dan stres akibat utang dapat mengganggu kualitas hidup seseorang. Layanan paylater yang awalnya dirasakan sebagai solusi dapat kembali menjadi masalah yang serius. 

  


Baca Juga : Pesantren dalam Konteks Indonesia yang Berubah

Penting untuk memahami bahwa utang bukan hanya sekedar angka di kertas; ia memiliki dampak emosional yang nyata. Oleh karena itu, edukasi keuangan sangat penting dalam konteks ini, agar konsumen dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan menyadari potensi risiko.

  

Peraturan Yang Masih Lemah

  

Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh layanan paylater adalah kurangnya regulasi yang memadai. Meskipun OJK berupaya mengawasi pertumbuhan layanan ini, masih banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh penyedia layanan untuk mengeksploitasi konsumen. Tanpa adanya peraturan yang jelas, konsumen berisiko menghadapi biaya tersembunyi, bunga tinggi, dan praktik bisnis yang tidak etis. 

  

Peraturan yang lebih ketat diperlukan untuk melindungi konsumen dan memastikan bahwa layanan paylater digunakan dengan cara yang bertanggung jawab. Ini termasuk transparansi dalam biaya, syarat, dan ketentuan yang diberlakukan oleh penyedia layanan.

  

Pendidikan Keuangan sebagai Solusi

  

Menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh layanan paylater, pendidikan keuangan menjadi solusi yang sangat penting. Masyarakat perlu diberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola keuangan mereka secara efektif. Berbagai program edukasi yang mengajarkan manajemen utang, pengelolaan anggaran, dan perencanaan keuangan dapat membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih baik.

  

Pendidikan keuangan tidak hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga dapat membantu menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan bertanggung jawab secara finansial. Dengan pemahaman yang baik, konsumen dapat memanfaatkan layanan paylater tanpa terjebak dalam jebakan utang yang berisiko.