(Sumber : nursyamcentre.com)

Perubahan Dramatis Perilaku Islam di Indonesia

Informasi

"Dibanding 40 tahun yang lalu perilaku Islam kini tampak mengalami perubahan yang cukup dramatis. Islam lebih tampil dalam kehidupan budaya, sosial, dan politik dibanding tahun 1960-an".

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Arif Zamhari Dosen bidang Metodologi Studi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam acara Webinar Nasional bertajuk 'Islam dan Realitas Keberagamaan di Indonesia' yang diselenggarakan oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, (30/11). Ia mengatakan bahwa perilaku Islam Indonesia telah berubah secara dramatis. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai tanda-tanda yang muncul belakangan dan terus mengalami peningkatan, seperti jumlah masjid, pakain-pakaian Islam, simbol keislaman dan bahasa di media, dan wilayah publik.

 

"Misalnya, Penerbitan Islam, Wisata Halal, Pendidikan Islam Baru. demikian Enterpreuner Muslim menawarkan cara-cara baru melalui teknologi media untuk menyampaikan pesan-pesan Islam dengan melalui Instagram, youtube, majlis dzikir perkotaan," ujarnya.

 

Sementara, perubahan perilaku Islam secara dramatis tak lepas dari beberapa faktor yang melatar belakangi, yaitu perkembangan komunikasi dan teknologi yang cepat, urbanisasi, kesejahteraan umat Islam yang semakin meningkat. Demikian disampaikan oleh Arif bahwa perkembangan dan perubahan umat Islam dan aktifitas keberagamaan tak lepas karena pengaruh faktor perkembangan politik, sosial, ekonomi yang kondusif.

 

"Pendorong sesungguhnya dari perubahan di dalam domain publik ini adalah ekonomi dan politik dan tidak harus agama. Selain itu, juga karena munculnya Islamis dan maraknya simbolisme Islam dalam wilayah publik. Demikian kemajuan ekonomi mendorong munculnya kelas muslim menengah baru urban dan kelas terdidik," ucapnya.

 

Label Islam Untuk Meraup Pasar Global

 

Perubahan perilaku Islam yang dramatis tampak ke permukaan dengan beragam bentuk ekspresi keagamaan, yaitu keberagamaan popular dan modifikasi Islam. Keberagamaan popular atau yang kerap disebut Islam Popular ini telah begitu popular sejak tahun 2000. Begitu Arif juga menyampaikan bahwa saat itu masyarakat telah dibuat cukup familiar dengan simbol dan norma-norma Islam di ruang publik.

 

"Seperti munculnya da'i popular yakni Aa Gym dan menjadi selebriti di dunia dakwah, serta menjadi headline berdakwah di TV, hotel Sufi (tarekat) di Jakarta, bintang music pop Sakti Aria Seno Band Sheila On 7 bergabung dengan Jama'at Tabligh mengganti namanya dengan Salman al-Jogjawy, penjualan busana muslim yang marak, seperti jilbab, dan adanya ajang Muslimah Pageant," tuturnya.


Baca Juga : Konsep Bidadari: Tafsir Quraisy Shihab dan Amina Wadud

 

Kata Arif, kemunuculan kelompok muslim baru Indonesia berbeda dengan tipologi sederhana konsep menurut Clifford Geertz, yaitu Abangan dan Santri.

 

"Yang ada sekarang adalah Muslim yang saleh dan mencoba untuk bekerja dan terlibat dengan globalisasi, modernitas, dan budaya barat," jelasnya.

 

Sementara, konsep Islam Popular juga tak jauh berbeda dengan konsep Islamicate. Hal ini seperti yang disampaikan Arif, mengutip Marshal Hodgson, ia menjelaskan bahwa fenomena Islam Popular di Indonesia dapat dijelaskan dengan menggunakan konsep Islamicate. Islamicate adalah fenomena yang mengandung kiasan atau referensi ke sistem kepercayaan tertentu, tapi sedikit terkait dengan teologi dan atau ortodoksi dari Islam.

 

"Namun, dalam hal ini lebih banyak keterikatan pada praktik normatif dari orang-orang yang berasal dari komunitas agama itu," imbuhnya.

 

Kemunculan Islam Popular telah terjadi sejak perang dingin di dunia Islam. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai barang-barang populer dan komoditas yang terlihat islami. Misalnya, produk Zam-Zam Cola, Islamic Jeans, Islamic Rap Music, Islamic Game Shows and Talk Show on TV, Islamic Banking and Finance, Islamic Science and Knowledge, Islamic Website and Islamic Alternatives to Facebook, dan The Miss Muslimah Pageant.

 

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Arif, ia menyatakan bahwa fenomena tersebut merupakan bagian yang termasuk dalam konsep Islamicate. Sebab, menurutnya, semua produk berupaya untuk mencari identitas melalui label Islam.

 

"Bahwa produk ini dijual kepada umat Islam atas dasar karena dibuat oleh umat Islam, dijual kepada umat Islam. Pasar global Muslim yang ada sekarang ini bukanlah sebuah perusahaan yang revolusioner yang membuang logika kapitalisme, tapi lebih pada mencari ceruk pasar untuk menopang dirinya. Sementara, bergerak dalam jaringan dan wacana ekonomi," tegasnya.

 

Menguatnya Looking Islamic Bukan Being Islamic

 

Tak hanya muncul Islam Popular, demikian beriringan terjadinya modifikasi Islam. Dalam pandangan Arif, yang dimaksud dengan modifikasi Islam adalah berubahnya agama dan simbol-simbol menjadi barang yang dapat dijual dan dibeli untuk alasan profit.

 

"Hal ini untuk menguji aspek tukar-menukar transaksi ekonomi-agama terutama ketika simbol agama digunakan untuk memasarkan produk-produk yang terkait dengan Islam," ucapnya.

 

Namun, akibat dari modifikasi Islam ini akhirnya memunculkan beberapa hal di kemudian hari, seperti adanya kegiatan menggait pasar lebih luas dan munculnya pluralis yang lebih besar. Tak hanya itu, juga berpotensi munculnya kedangkalan Islam, namun sisi lain tak membawa pengaruh bagi perilaku korup. Sementara, sisi lainnya, semakin kuatnya penyampaian pesan Islam kepada publik.

 

"Salafi dan ikhwani memanfaatkan globalisasi aktif dalam kegiatan ekonomi yang bisa menggait audience lebih luas. Namun, beberapa menyesalkan kedangkalan Islam yang ditawarkan dari komodifikasi ini. Selain itu, yang tampak hanya eksternal bukan internal Islam. Para santri baru ini konsen pada looking Islamic bukan being Islamic (terlihat Islami bukan justru menjadi islami). Jadi, agama dalam bentuk popular memang disampaikan dengan media yang menarik, menghibur, dan gampang dicerna," pungkasnya. (Nin)