(Sumber : nursyamcentre.com)

Prof. Eko Armada Riyanto ; Perjalanan Kehidupan Signifikan Indah

Informasi

Telah Launching karya baru Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H. Nur Syam, Msi yang berjudul 'Perjalanan Etnografi Spiritual', (14/08). Launching karya baru tersebut digelar secara langsung melalui saluran meeting online Zoom dan Live YouTube yang dibingkai dalam Launching media Nur Syam Centre (NSC).  Acara tersebut pun dilanjutkan dengan bedah buku. Adapun bedah buku kali ini mengundang beberapa narasumber, yaitu Prof. Masdar Hilmy Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Irwan Abdullah Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Prof. Eko Armada Riyanto Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.

 

Melihat Dengan Mata Dan Hati

 

Pada kesempatan kali, Prof. Eko Armada atau kerap dipanggil Prof. Armada Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang memberikan tanggapannya terkait buku baru yang ditulis oleh Nur syam. Ia mengatakan bahwa saat dirinya membaca buku yang telah ditulis oleh Nur Syam, lantas ia melihat bahwa Nur Syam menangkap segala sesuatu yang ada di sekitarnya tak hanya dengan matanya, melainkan juga dengan hatinya. Lalu, Nur Syam menuliskan setiap apapun yang dilihat dan dirasakannya. Hingga, disampaikan oleh Armada bahwa sosok Nur Syam ini dapat menjadi teladan dari berbagai dimensi.

 

"Prof. Nur Syam sebagai pejabat sekaligus ilmuwan dan pendidik yang jalan-jalan ke kota-kota di berbagai dunia yang identik dengan spiritual journey. Perjalanan spiritual tak akan terjadi tanpa hati yang berbakti terarah kepada kebaikan, keindahan, dan kedamaian," ucapnya.

 

Eko kembali menyampaikan bahwa perjalanan spiritual membutuhkan kelembutan hati untuk dapat menyelami dan merasakan setiap suatu hal apapun, baik yang dilihat dan dirasakan saat perjalanan. Tak hanya itu, demikian diperlukan logika yang tajam dan pemikiran rasional yang mendalam agar dapat mencapai kebenaran dari setiap apapun yang ditangkap oleh pancaindra. Bahkan, perjalanan spiritual membutuhkan keterlibatan jiwa yang bersifat inklusif dan rekonsiliatif guna mencapai makna yang sempurna.

 

"Tulisan 'Perjalanan Etnografi Spiritual' ini adalah pendakian ke gunung kesempurnaan itu sendiri, yakni milik Sang Pencipta kehidupan ini. Oleh karena itu, Prof. Nur Syam ini on the way kesana. Sementara, mengutip Aristoteles, apapun yang dilihat adalah pengetahuan," tuturnya.

 

Menangkap Makna Indah Dibaliknya

 

Sementara, buku Nur Syam yang berjudul 'Perjalanan Etnografi Spiritual' jika dilihat menggunakan kacamata teologi filosofis, maka dapat dilihat dari segi fundasi dan posisi epistemik. Dalam segi fundasi dijelaskan bahwa sejatinya hidup adalah perjalanan meraih kesempurnaan. Demikian disampaikan oleh Armada bahwa sejatinya hidup yang sementara ini adalah signifikan indah. Hanya saja, manusia dilanda kelalain untuk menangkap sesuatu yang indah di balik setiap perjalanan.

 

"Hidup itu pendakian. Hidup itu meraih kesempurnaan. Hidup layaknya mendaki gunung kesempurnaan. Sedang, gunung layaknya tumpeng. Disana universe dan disana hidup. Sementara, saat kita mengerjakan tugas apapun, seperti menulis secara tidak langsung kita mendaki gunung kesempurnaaan tersebut," imbuhnya.

 

Demikian, penulisan perjalanan yang dilakukan Nur Syam ke berbagai negara di dunia, tak hanya diceritakan berbasis theory minded, melainkan juga experience minded. Armada pun menyampaikan bahwa Nur Syam mampu menangkap makna yang indah di balik suatu apapun yang dilihat. Lalu, yang kemudian dituangkannya ke dalam sebuah tulisan. Sebab, apapun yang ada memiliki makna yang indah, yang perlu dipetik dan diambil pembelajaran untuk diterapkan dalam kehidupan guna mencapai pendakian gunung kesempurnaan.

 

"Tidak hanya menyadari lingkungan, akan tetapi juga dibaliknya. Sebab, apapun yang kita lihat memiliki makna indah dibaliknya, yaitu historis dan peradaban di dalamnya. Sedang, mengutip Heidegger, hidup sehari-hari adalah lahan ilmu," pungkasnya. (Nin)