Prof. Nur Syam : Mari Kita Warisi Generasi Mendatang Dengan Islam Washatiyah
InformasiPara Founding Fathers negeri ini tak dipungkiri tersenyum dengan bahagia di alam kubur melihat generasi sekarang tetap berada di dalam konteks memahami dan menjalankan ajaran agama dalam coraknya yang moderat. Dengan konsisten untuk menjadikan Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan kebhinnekaan sebagai prinsip kehidupan. Lantas, apakah yang akan datang di alam kubur bisa tersenyum bahagia karena generasi selanjutnya tetap berada di dalam konteks beragama yang wasathiyah dan tetap berada di dalam koridor empat pilar kebangsaan?
Gurauan 'othak athik mathuk' rasanya akan menjadi kenyataan bila tidak dilakukan banyak upaya dalam menjaga generasi muda dari penetrasi Gerakan kiri atau kanan yang bisa merusak terhadap kesatuan dan persatuan bangsa. Demikian generasi tua kini cukup setia dengan beragama yang moderat. Dengan cara terus berusaha secara optimal menjaga anak-cucu atau generasi millenial agar tetap berada di jalur yang benar menjadi orang Islam Indonesia yang modern.
Islam moderat, Pilihan yang Tepat
Demikian Prof. Nur Syam mengawali pembicaraannya dalam acara Penguatan Moderasi Beragama pada Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur, 9/11/2020. Hadir pada acara ini, Drs. Mohammad Amin Mahfud, MSI, kepala bidang Urusan Agama Islam (Urais) pada Kanwil Kemenag, dengan para peserta pimpinan organisasi Islam di seluruh Jawa Timur. Hadir dari NU, Dr. KH. Syukron Jazilan, MAg, Dr. Hasan Ubaidillah, MAg., dari Muhammadiyah, Dr. Syamsudin dan dari Kemenag, Suroto, dan lainnya.
Nur Syam menyatakan bahwa tantangan sekarang ini begitu luar biasa. Tantangan tersebut bisa datang dari ekstrim kanan dan kiri. Ekstrim kanan atau radikalisme negatif, ekstrimisme, dan terorisme. Sedang, kelompok ekstrim kanan berada dekat di lingkungan sekitar. Demikian pula ekstrim kiri, yang terus menggerus kehidupan dengan pemikiran liberal, sosialisme ekstrim dan komunisme.
"Upaya-upaya itu misalnya dengan keinginan menggolkan RUU HIP beberapa saat yang lalu," imbuhnya.
Baca Juga : KH. Hasyim Asy’ari: Sang Pemersatu Umat Islam dan Pendiri Nahdlatul Ulama
Di samping itu, media sosial pun terus berpengaruh terhadap kehidupan keberagamaan. Misalnya dengan semakin banyaknya pembaca media online yang mengarah ke Islam radikal. Sedang, beberapa lainnya yaitu menjadikan TV dan radio sebagai sumber informasi keagamaan. Dengan begitu Nur Syam pun menyayangkan saat yang ditonton adalah berkecenderungan ke Islam radikal.
"Jangan sampai anak-anak muda kita terpengaruh dengan konten-konten media sosial yang menjauhkan dari Islam wasathiyah. Kita harus mengimbangi terhadap konten media sosial yang cenderung mengajarkan Gerakan salafi yang bisa merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Kita berharap organisasi Islam mainstream, seperti NU dan Muhammadiyah terus bergandeng tangan untuk mengembangkan Islam wasathiyah," terangnya.
"Jangan pernah berebut pengaruh sebab para penantang Islam wasathiyah sudah mengembangkan penggunaan media sosial jauh sebelum organisasi Islam wasathiyah ini menyadarinya. Mereka sudah 15 tahun yang lalu mengembangkannya, sementara itu kita baru 5 tahun belakangan," ucapnya.
Lebih lanjut, Nur Syam menuturkan bahwa pilihan atas pemahaman agama yang seperti sekarang, yaitu Islam wasathiyah dinilai sudah sangat tepat bagi bangsa Indonesia yang plural dam multikultural. Sebab, menurutnya pemahaman agama yang moderat dapat menjaga nilai persatuan dan kesatuan bangsa.
"Coba bayangkan seandainya kita tidak memilih pemahaman agama yang seperti ini, maka Indonesia sudah pasti terpecah belah. Dan harganya tentu sangat mahal. Indonesia yang multi agama, multi etnis, multi suku, multi budaya dan bahasa akan tercabik-cabik jika kita tidak hati-hati mengelola keanekaragaman ini," tuturnya.
Baca Juga : Meninjau Ulang Islam Orientalis
Ajari Anak Muda Dengan Sejarah
Dengan begitu mengajari sejarah bangsa merupakan kewajiban institusi Pendidikan, di semua jenjang Pendidikan, baik Pendidikan umum maupun Pendidikan agama. Sebab, memahami dan mengamalkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebinekaan merupakan kewajiban seluruh warga negara. Demikian disampaikan Nur Syam, ia menyampaikan bahwa mengamalkan agama yang benar sama dengan mengamalkan Pancasila atau mengamalkan Pancasila dan benar sama dengan mengamalkan agama.
"Jangan salah tafsir menyamakan agama dan Pancasila. Antara Pancasila dan Agama tidak terdapat pertentangan. Agama sebagai pedoman kehidupan secara utuh, dan Pancasila sebagai pedoman berbangsa dan bernegara," terangnya.
Nur Syam pun kembali menambahkan bahwa dengan tidak menjadikan agama sebagai dasar negara, maka keutuhan bangsa tidak akan terkoyak. Sisi lain, tidak memilih komunisme sebagai dasar negara, sebab masyarakat Indonesia adalah theistic. Demikian tidak memilih paham sekularisme sebagai pilihan bernegara, sebab sekularisme memisahkan agama dari negara.
"Di Indonesia agama menjadi urusan publik. Negara terlibat di dalamnya. Indonesia memilih negara berketuhanan yang Maha Esa. Negara membutuhkan agama sebagai basis moralitas, dan agama membutuhkan negara untuk berada di jalur yang tepat menjadi Pancasila sebagai dasar negara," ucapnya.
"Dan dengan pilihan yang tepat ini, maka kita berharap ke depan akan terus terjadi pilihan ini. Kesampingkan orang-orang yang ingin mengubah negeri ini dengan dasar dan bentuk negara lainnya, sebab mereka adalah orang yang tidak mau memahami sejarah bangsanya yang adiluhung," pungkasnya.

