(Sumber : nursyamcentre.com)

Setahun Pandemi, Dr. Reisa ; Segera Tindaklanjuti Dampak Tak Langsung

Informasi

Adaptasi budaya baru di tengah masyarakat, seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan tidak berkerumun telah menjadi bagian dari kehidupan mayarakat. Hingga sampai detik ini, masyarakat telah terbiasa dengan budaya baru tersebut. Walau, faktanya, tak sedikit masyarakat yang masih belum mengindahkan protokol kesehatan tersebut.

 

Sebab budaya baru yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan kerja keras yang dilakukan oleh pahlawan garda terdepan dalam penanganan pasien positif Covid-19 yaitu tenaga kesehatan kini angka statistik pasien Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan bahwa angka kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia di atas rata-rata dunia. Sedang, jumlah angka kasus positif Covid-19 mengalami penurunan.

 

"Demikian Indonesia ini juga mengalami peningkatan dalam penelusuran dan terapi," ucapnya dalam acara Konferensi Pers yang digelar secara live streaming di kanal YouTube Sekretariat Presiden, (05/03/21).

 

Lebih lanjut Reisa menyampaikan, dengan statistik pasien Covid-19 yang mengalami penurunan tersebut menjadi bukti bahwa siapapun yang dinyatakan positif Covid-19 terdapat kemungkinan untuk sembuh dari penyakit tersebut. Ia juga mengatakan bahwa tindak diskriminasi dan stigma negatif pasien Covid-19 sangat tak perlu dan tak layak untuk dilakukan.

 

"Kemungkinan untuk sembuh dari penyakit ini selalu ada," jelas dokter yang berparas menawan itu.

 

Stunting, Wasting, dan Malnutrition

 

Walau begitu, yang dapat dilakukan saat ini yaitu menindaklanjuti dampak tak langsung yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Seperti yang disampaikan Reisa, ia menuturkan bahwa dampak dari pandemi Covid-19 selain banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan, anak-anak tak dapat sekolah bertatap muka secara langsung, masyarakat yang bekerja dan bersekolah di luar negeri harus kembali ke tanah air. Dampak tak langsung akibat pandemi Covid-19 lainnya yakni berbagai program perbaikan gizi dan kecakapan hidup anak-anak tak dapat terwujud.

 

"Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Akan menimbulkan insiden penyakit tidak menular di antara anak-anak dan remaja. Apabila gizi anak-anak buruk, maka angka stunting, wasting, dan malnutrition akan meningkat," ujarnya.


Baca Juga : Dampak Pengalaman Belajar Anak Saat Learn From Home

 

"Hal ini akhirnya juga dapat menyulitkan bagi dunia pendidikan dan kesehatan. Harus sesegera mungkin menindaklanjuti dampak tak langsung dari pandemi Covid-19," ucapnya.

 

"Di tengah pandemi seperti sekarang ini, banyak anak yang tidak diberi imunisasi dasar rutin. Alasannya karena layanan kesehatan yang tutup di tengah pandemi atau karena orang tua atau keluarganya yang takut untuk datang ke rumah sakit atau puskesmas," tambahnya.

 

Budayakan 3M, Dukung 3T, dan Siap Divaksin

 

Tentunya hal ini dapat mengakibatkan, merebaknya penyakit menular lainnya selain Covid-19. Dengan begitu, kata Reisa, pandemi yang harus diakhiri. Ia pun mengatakan bahwa sesungguhnya Indonesia telah mempunyai senjatanya.

 

"Yakni budayakan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Dukung penuh 3T (tracing, testing, dan treatment).  Dan Pastikan siap divaksinasi, jika waktu giliran kita sudah tiba," tuturnya.

 

Lebih lanjut, Reisa juga menyampaikan bahwa tak dapat dipisahkan antara krisis kesehatan yang terjadi dan dampak ekonomi yang timbul. Sebab, menurutnya, banyak masyarakat yang tak terpapar Covid-19 juga ikut menderita di tengah masa yang sulit seperti sekarang ini.

 

"Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Merespon pandemi juga merespon krisis ekonomi. Tak perlu dibandingkan. Keduanya sama-sama penting. Mengutamakan kesehatan dan mengupayakan perbaikan kondisi ekonomi harus dijalankan secara bersamaan,"  pungkasnya.

 

Indonesia Dalam Skala Global dan Asia

 

Dilansir dari laman Worldometers per hari ini, dalam skala dunia, Indonesia berada pada peringkat nomer 18 dari 221 negara di dunia. Dengan total kasus sebanyak 1.368.069, angka total kematian sebanyak 37.026, dan angka kesembuhan sebanyak 1.182.687 dengan total populasi sebanyak 275.474.792.

 

Sementara, dalam skala negara-negara di Asia, Indonesia berada di peringkat keempat dari 49 negara. Sedang, di peringkat ketiga yaitu Iran dengan total kasus sebanyak 1.673.470, angka total kematian sebanyak 60.512, dan angka total kesembuhan sebanyak 1.428.008 dengan jumlah populasi sebanyak 84.717.385. Sedang, di peringkat kelima yaitu Israel dengan total kasus 796.465, angka total kematian 5.834, dan angka total kesembuhan 750.661 dengan jumlah populasi sebanyak 9.197.590. Peringkat pertama dengan total kasus 11.191.864 yaitu India.

 

Demikian ada Pakistan di peringkat kedelapan dengan selisih total populasi yang tak jauh berbeda dengan Indonesia yakni sebanyak 223.772.632. Dalam data Worldometers, total kasus di Pakistan sebanyak 587.014, angka total kematian 13.128, angka total kesembuhan 556.769. Selain itu, juga ada China di peringkat ke- 28, yaitu total kasus 89.962, angka total kematian 4.636, dan angka total kesembuhan 85.153 dengan jumlah populasi sebanyak 1.439.323.776.

 

Mengutip dari laman resmi Satgas Penanganan Covid-19, rata-rata kasus aktif dunia yaitu 26,67%. Semenatara, angka rata-rata kesembuhan dunia adalah 70% dan angka rata-rata kematian dunia yakni 3,32%. Sedang, dengan positivity rate yakni 5% (red : Satgas Covid-19, 02/09/20). (Nin)