Temuan Akhir, Tim Penelitian Waliyullah Penyebar Islam di Tuban
InformasiTepat hari Rabu, 10 Maret 2021, tim peneliti dan penyusunan buku Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony yang terdiri dari, yaitu crew Nur Syam Centre, Dosen UIN Sunan Ampel, dan Dosen IAINU kembali berkumpul kali kedua bersama Bupati Tuban Fathul Huda di Pendopo pemerintah kabupaten Tuban.
Jika sebelumnya pada tanggal 8 Desember 2020, pertemuan pertama antara tim peneliti dan Bupati Tuban membahas terkait hasil penelitian para Wali di Tuban. Sedang, pertemuan kali kedua ini, tim peneliti melaporkan hasil temuan akhir sekaligus memberikan hasil tulisan yang telah rampung menjadi sebuah karya buku yang berjudul Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony.
Pertemuan kali kedua penyusunan buku yang merupakan kolaborasi bersama pemerintah kabupaten Tuban dihadiri oleh beberapa jajaran pemerintah kabupaten Tuban, seperti Bupati Tuban Fathul Huda dan Wakilnya Noor Nahar Hussein, serta turut hadir Rektor IAINU H. Akhmad Zaini dan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya Dr. Abd. Halim.
Demikian juga hadir di dalam acara tersebut, yaitu Koordinator tim penelitian, Prof. Dr. H. Nur Syam sekaligus Guru Besar Sosiologi UIN Sunan Ampel, Ketua Tim Penelitian Lapangan, Dr. Prihananto dan Dr. Chabib Musthofa Dosen UIN Sunan Ampel, serta beberapa tim lainnya, yaitu Dr. Moh. Shohi Huda, Khobirul Amru, Mevy Eka Nurhalizah, Yusral Fahmi, Sholikah, Ulfah Masfufah, dan Akhmad Aji Pradana.
Dalam kesempatan ini, Nur Syam selaku Koordinator Tim Penelitian dan penyusunan buku Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony mengutarakan, dirinya sangat bersyukur atas penelitian dan penyusunan buku Tuban Bumi Wali yang telah rampung. Karenanya dari penelitian ini dapat dilacak sebanyak 73 wali di Tuban dalam waktu yang singkat.
"Kurang lebih 3 1/5 bulan. Tapi, ini masih berbentuk draft karena belum final. Masih ada beberapa catatan. Misalnya terkait tahun. Hati-hati dengan tahun. Sebab, persoalan tahun ini sangat vital. Agar secara historis benar " ujarnya.
"Akademisi itu kan tidak boleh bohong, tapi boleh salah. Sedang, kalo politisi itu boleh bohong, tapi tidak boleh salah," tambah Nur Syam dengan senyum tipis.
Lebih lanjut, Nur Syam mengatakan, penelitian terkait Tuban Bumi Wali perlu diteliti lebih lanjut khususnya yaitu makam yang berada di Astana Jenu. Demikian, ia berharap ke depannya terdapat penelitian lebih lanjut yang serupa dan dapat memperkuat konsep Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony.
Baca Juga : Kecanduan Judi Online: Mengapa dan Bagaimana Caranya Berhenti?
"Ada lanjutan dari penelitian ini, yang dapat meyakini bahwa Islam di Tuban sama tuanya dengan Islam di Gresik. Hal ini juga menjadi catatan sejarah," ujarnya.
Islam Masuk Sekitar Abad Ke-11
Seusai Nur Syam menyampaikan sambutannya, Dr. Prihananto selaku Ketua Tim Penelitian Lapangan demikian melaporkan terkait tujuan dan temuan penelitian yang tertuang dan terdeskripsi di dalam buku Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony. Ia mengatakan bahwa buku tersebut bertujuan untuk melengkapi buku tentang sejarah wali di Tuban yang sudah ada sebelumnya. Demikian untuk meneguhkan kembali branding Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony.
Prihananto kembali menyampaikan bahwa isi dari buku tersebut berbasis hasil penelitian. Dengan menggunakan tiga tahapan metode pengumpulan data, yaitu pertama; mengumpulkan data, kedua; mengklasifikasi data, dan ketiga; menganalisis data.
"Kurang lebih ada 15 kecamatan dan wawancara 20 informan," jelasnya.
Adapun beberapa temuan yang didapat oleh tim peneliti sebagaimana dalam paparan dan slide presentasi yang ditampilkan oleh Prihananto tertulis, yaitu Islam datang di Tuban diperkirakan sekitar abad ke-11 dengan ditemukan nisan tertulis angka tahun 1063 di Makam Astana Jenu. Demikian Islam memasuki kawasan kekuasaan pada saat Arya Teja menjadi Bupati Tuban yang ke-7.
Berbasis Geneologi Kewaliyan, Tasawuf, dan Nilai Multikultural
Sementara, masih berdasarkan temuan tim peneliti, penyebaran Islam di Tuban dilakukan berbasis pada geneologi kewaliyan. Sedang, ajaran Islam yang dikembangkan Waliyullah di Tuban adalah ajaran tasawuf ahli sunnah wal jamaah (tasawuf amali) yang berdasar pada kekuatan akidah, syariah, dan akhlak.
Tak hanya itu, dalam temuan yang didapat, teridentifikasi bahwa para wali di Tuban menyebarkan agama Islam dengan cara mengkolaborasikannya dengan tradisi lokal. Hingga akhirnya menghasilkan sebuah tradisi bernama Islam lokal. Selain itu, para wali juga mengajarkan nilai-nilai multikultural. Dimana kemudian diwujudkannya dalam bentuk sikap dan perilakunya, seperti mudah bergaul, berteman, bersahabat, bahkan menikah dengan pasangan yang berasal dari keyakinan dan etnis yang berbeda.
Menutup diskusi hasil temuan akhir penelitian dan yang telah rampung menjadi sebuah karya buku berjudul Tuban Bumi Wali The Spirit of Harmony, Bupati Tuban dalam sambutannya menuturkan, penting untuk anak didik mempelajari sejarah. Namun, yang tak kalah penting yaitu menanamkan nilai-nilai yang diajarkan dalam sejarah.
"Anak-anak didik juga harus tahu sejarah. Tidak hanya belajar sejarah, tapi juga nilai-nilai di dalamnya juga diajarkan. Dengan mengaplikasikan ajaran wali tanpa kekuasaan," ucap Fathul Huda.
"Bumi Wali ini punya makna filosofis yang besar. Ajaran para wali adalah sesuai dengan budaya kita. InshaAllah terjamin NKRI ini," tutupnya. (Nin)

