Tips Mengatasi Rasa Bosan Anak Saat Belajar di Rumah
InformasiLearn From Home atau belajar dari rumah di tengah pandemi bukan lagi menjadi suatu hal yang baru. Melainkan, telah menjadi sebuah sistem baru yang diterapkan guna tetap menjaga keamanan dan kesehatan semua peserta didik di tengah pandemi. Sayangnya, kemudian muncul beberapa kendala saat anak harus belajar di rumah, seperti minat belajar anak menurun dan anak mudah merasa bosan saat belajar. Hal ini akhirnya menjadi beban tersendiri bagi orang tua untuk tetap dapat menumbuhkan semangat belajar anak dan membuat suasana belajar anak tetap nyaman dan tak membosankan. Sementara, mengatasi rasa bosan anak saat belajar di rumah dapat dilakukan dengan beragam cara, mulai dari lebih mengutamakan pengalaman belajar anak, mengajak anak diskusi, memberi reward kepada anak , hingga memberi 'me time' untuk anak.
Dilansir dari Koran Kompas, Kamis (23/07) data menyebutkan bahwa kondisi anak begitu mengkhawatirkan saat belajar dari rumah. Kondisi yang mengkhawatirkan tersebut meliputi beberapa hal, yaitu 33,8 persen minat belajar menurun, 29,4 persen terpapar konten negatif di tengah tingginya penggunaan internet, 25,9 persen kondisi mental terganggu karena kebosanan, 6,9 persen kondisi kesehatan menurun karena kurang aktivitas fisik, dan 4 persen belum diketahui.
Mengutamakan Pengalaman Belajar Anak
Hernik Farisia Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa menuntaskan materi sesuai kurikulum bukan menjadi tuntutan. Namun, semestinya fokus guru lebih pada memberikan materi pembelajaran yang mengutamakan dalam membangun pengalaman belajar anak. Serta, menghubungkan materi tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari. Sebab, menurutnya urgensi sebuah materi bagi anak adalah untuk mengembangkan keterampilan berpikir. "Konsep saintifik, experiential learning, discovery learning dan yang sejenis akan lebih efektif, long lasting, dan mengena," ucapnya.
Hanya saja di tengah pandemi sekarang ini, guru lebih banyak memberikan tugas daripada materi yang yang membangun pengalaman belajar anak. Demikian disampaikan oleh Hernik, semestinya anak dan orang tua memiliki ruang untuk membangun kesepakatan dengan guru terkait pembelajaran. Sebab, menurutnya di tengah pandemi peran orang tua sangat signifikan dalam mendorong keberlangsungan pembelajaran.
"Membangun pengalaman belajar anak, seperti materi sains kelas tiga SD tentang pertumbuhan dan perkembangan, semestinya anak dapat melakukan wawancara kepada ibu terkait pekembangan anak dari lahir hingga beranjak dewasa. Selain itu, anak juga dapat melakukan pengamatan terkait pertumbuhan tanaman yang ditanam di rumah masing-masing. Sebab, pengalaman belajar seperti ini yang seharusnya dinikmati oleh anak-anak," jelasnya pada crew Nur Syam Centre, (05/08).
Memberi 'Me Time' Untuk Anak
Kendati demikian, orang tua juga perlu membuat kesepakatan waktu dengan anak antara waktu belajar dan waktu menggunakan gadget untuk bermain. Walau demikian, anak dapat belajar sekaligus bermain khususnya untuk anak usia dini. Seperti halnya disampaikan Hernik bahwa anak-anak khususnya anak usia dini sebenarnya dapat belajar sekaligus bermain. Misalnya, saat anak belajar mengenai anggota badan, anak tak hanya dapat belajar berpacu pada materi. Melainkan, anak juga dapat belajar melalui beberapa media lainnya, seperti menggunakan playdough, membuat miniatur badan, mewarnai anggota badan, dan lain sebagainya.
Baca Juga : Menjaga Eksistensi Madrasah
"Orang tua juga perlu mengkondisikan suasana yang aman dan nyaman saat proses belajar. Sebab, selama pandemi rumah adalah sekolah dan sekolah adalah rumah. Sehingga penting sekali membantu anak senang belajar dari rumah," ucapnya.
Selain itu, orang tua juga perlu memberikan waktu bebas bermain kepada anak agar anak tetap termotivasi untuk terus belajar. Seperti halnya Hernik mengatakan bahwa orang tua perlu memberikan waktu bebas bermain kepada anak, misalnya hari Sabtu dan Minggu. Saat anak tak lagi disibukkan oleh tugas yang harus diselesaikan.
"Orang tua perlu membantu anak untuk memiliki me time. Sebab, dampaknya sangat efektif untuk membangun motivasi belajar anak karena selama pandemi hampir 24 jam dalam sehari anak menghabiskan waktunya di rumah," ujarnya.
Memberi Reward Kepada Anak
Selain memberikan waktu khusus bagi anak untuk bermain, orang tua juga perlu memberikan reward atau hadiah agar proses belajar anak berlangsung dengan nyaman dan tak membosankan. Sebab, dengan memberikan reward dapat menumbuhkan dan memotivasi anak untuk terus belajar. Adapun reward yang diberikan kepada anak dapat dilakukan dengan beragam cara, seperti memberikan pujian atau memberikan penilaian dengan bintang di lembar tugas yang dikerjakan. Seperti halnya disampaikan Hernik, orang tua dapat memberikan pujian atas kehebatan anak yang telah menyelesaikan tugas yang diberikan. Selain itu, juga dapat memberikan nilai bintang pada tugas anak. Sementara, setiap satu bintang bernilai Rp.1000,- dalam sehari. Hingga, menurutnya dari hal tersebut anak juga dapat belajar menabung.
"Memotivasi anak dengan cara ini lebih efektif untuk mengarahkan belajar anak dibanding menakut-nakuti anak untuk belajar atau mengasah life skill nya karena penugasan dari guru," tuturnya.
Mengajak Diskusi Anak
Mengajak anak diskusi menjadi salah satu cara agar anak tak mudah bosan dalam belajar. Demikian, anak tetap terus termotivasi untuk belajar. Hernik pun menyampaikan bahwa pengarahan belajar anak yang nyaman dan tak membuat anak cepat bosan, yaitu memberikan reward dan mengajak anak diskusi terkait materi yang dipelajari. Dengan demikian sejatinya orang tua telah mengarahkan dan mengontrol pembelajaran anak dengan tepat.
"Mendiskusikan dengan anak tentang mengapa mereka harus belajar materi tersebut. Selain itu, orang tua juga dapat mengembangkan satu life skill tertentu," jelasnya.
Akhir cerita, ia menyampaikan bahwa ada banyak hal yang bisa menunggu, tapi tidak untuk anak-anak karena jiwa dan tubuh anak-anak terus bertumbuh dan berkembang seiring usia dan pergerakan zaman.
"Untuk itu, mari kita kuatkan kemitraan orang tua dan guru agar anak-anak mencapai potensi terbaiknya," pungkasnya. (Nin)

