Upaya Mengurangi Sampah Makanan Komunitas Garda Pangan
InformasiOleh : Eva Putriya Hasanah
Surabaya, sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia, tidak hanya menjadi pusat perdagangan dan industri, tetapi juga memiliki peran penting dalam mewujudkan keberlanjutan lingkungan. Salah satu inisiatif yang telah muncul adalah Komunitas Garda Pangan, yang bertujuan untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan dalam pengelolaan pangan.
Mereka bekerjasama dengan restoran, hotel, toko roti, dan toko makanan lainnya untuk mengumpulkan makanan berlebih yang masih layak konsumsi. Dalam hal ini, Garda Pangan Surabaya berperan sebagai perantara antara penyedia makanan dan mereka yang membutuhkan, seperti keluarga miskin, panti asuhan, dan komunitas yang terdampak bencana alam.
Dengan cara ini, komunitas Garda Pangan tidak hanya mengurangi limbah makanan, tetapi juga membantu mengatasi masalah kelaparan dan ketidakseimbangan gizi yang ada di masyarakat.
Selain itu, Garda Pangan Surabaya juga berperan dalam edukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi pemborosan pangan. Mereka menyelenggarakan berbagai kegiatan dan kampanye di media sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan makanan dengan bijak, termasuk cara menyimpan dan mengolah makanan yang tepat agar tidak terbuang percuma.
Komunitas ini juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan sinergi dalam upaya mengurangi pemborosan pangan dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Komunitas Garda Pangan Surabaya menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana membentuk sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Sampah Makanan
Baca Juga : Idul Fitri, Safari Politik dan Pencitraan
Sampah makanan adalah masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat modern. Setiap tahunnya, jutaan ton makanan terbuang percuma, sementara masih banyak orang yang kelaparan di dunia ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari seluruh makanan yang diproduksi di dunia terbuang percuma setiap tahunnya.
Di Indonesia sendiri, menurut kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah sampah makanan yang terbuang di Indonesia pada periode 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun atau setara dengan 115-184 kilogram per kapita setiap tahunnya. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2021 juga menunjukkan bahwa sampah sisa makanan merupakan komposisi sampah yang paling banyak, mencapai 29,1% dari total sampah yang dihasilkan.
Jumlah ini sangat mengkhawatirkan, terutama mengingat fakta bahwa lebih dari 800 juta orang di dunia ini menderita kelaparan kronis. Disamping itu, Food loss dan food waste (sampah makanan) memiliki dampak negatif terhadap lingkungan . Setiap tahunnya, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang di seluruh dunia, menyumbang sekitar 8% dari emisi gas rumah kaca global. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara penghasil sampah makanan terbesar di dunia, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.
Penyebab dan Solusi Sampah Makanan
Ada berbagai penyebab terjadinya sampah makanan. Salah satunya adalah praktik pembelian dan konsumsi yang berlebihan. Banyak orang cenderung membeli lebih dari yang mereka butuhkan dan kemudian makanan tersebut terbuang karena melewati tanggal kedaluwarsa atau tidak lagi segar.
Selain itu, praktik dan kebiasaan konsumsi yang tidak bijak juga berkontribusi pada timbulnya sampah makanan. Misalnya, makanan yang tidak habis saat makan di restoran sering kali dibuang begitu saja, padahal masih bisa dimanfaatkan oleh orang lain.
Namun, ada solusi yang dapat diimplementasikan untuk mengurangi sampah makanan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membeli dan mengonsumsi makanan dengan bijak. Pendidikan tentang manajemen makanan dan penghematan juga perlu diberikan kepada masyarakat.
Selain itu, restoran, toko makanan, dan supermarket juga dapat berperan dalam mengurangi sampah makanan. Mereka dapat mengadopsi praktik seperti mengurangi potongan harga makanan yang akan segera kadaluwarsa, menyumbangkan makanan berlebih kepada organisasi yang membutuhkan, atau mengubah sisa makanan menjadi bahan baku untuk produk lain.
Dalam mengatasi masalah sampah makanan, kolaborasi seperti yang di lakukan oleh garda pangan, antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat luas sangatlah penting. Dukungan kebijakan dan regulasi yang tepat juga perlu diberikan untuk mendorong praktik yang lebih berkelanjutan dalam hal pengelolaan makanan.
Dengan kesadaran dan tindakan bersama, kita dapat mengurangi sampah makanan dan menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang

