Perilaku Masyarakat Indonesia Pasca Covid-19
OpiniTiba-tiba saya ditilpun Fitriana Ayu, Reporter Radio Suara Surabaya (Radio SS). Di dalam tilpun itu dikabarkan bahwa Ayu akan mewawancarai saya terkait dengan perilaku masyarakat Indonesia pasca Covid-19. Biasanya, kawan-kawan Radio SS itu melakukan wawancara by phone. Beberapa saat yang lalu saya diwawancarai oleh kawan reporter Radio SS terkait dengan semaraknya wisuda bagi anak sekolah dasar hingga sekolah menengah. Padahal selama ini wisuda merupakan upacara sakral untuk menandai berakhirnya masa studi dalam jenjang Pendidikan Strata I, II dan III atau program sarjana, pascasarjana dan doktor.
Tetapi untuk kali ini, saya yang justru meminta wawancara dilakukan di Radio SS. Lama sekali tidak pernah mampir di Radio SS. Akhirnya, Senin 14 Agustus 2023, saya meluncur ke Radio SS di Sukomanunggal, Surabaya. Desain kantornya dan ruang siarannya sangat futuristic. Di buat tanpa sekat, sehingga menggambarkan sebagai ruang yang lapang. Hanya untuk ruang siarannya saja yang harus menggunakan penyekat kaca sebab untuk acara on air yang membutuhkan nuansa ketenangan. Demikian pula acara rekaman juga tertutup sebab harus ruang yang kedap suara. Selain itu semua ruang terbuka. Kawan-kawan adiministrasi dan para reporter yang off bisa berada di ruang terbuka yang tanpa sekat tersebut.
Di dalam perbincangan di Radio SS, maka saya sampaikan tiga hal, yaitu: Pertama, masyarakat Indonesia itu semakin rasional. Ada rational choice dalam melakukan tindakan di dalam kehidupan. Di antara yang masih dipertahankan oleh masyarakat Indonesia di dalam relasi social adalah terkait dengan menjaga kesehatan. Mereka memiliki pengalaman yang tidak mengenakkan di dalam masa terjadinya Covid-19. Ada yang memiliki pengalaman traumatic sehingga pasca Covid-19 mereka tetap menggunakan masker di dalam melakukan interaksi dan relasi social. Saya melihat di Mall, di Hotel, di Rumah Makan, apalagi di Rumah Sakit, maka ada banyak orang yang tetap menggunakan masker. Jadi masker sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat. Masker sudah menjadi kebutuhan social.
Apalagi sekarng juga diketahui berdasarkan informasi bahwa Omicron, salah satu varian Covid-19 sudah bermutasi lagi dan sudah menyebar di beberapa negara termasuk di Indonesia. Namanya Eris. Namanya cantik tetapi ini nama virus. Gejala hanya seperti flu biasa tetapi bukan flu biasa. Masyarakat sudah memahami hal ini sehingga menggunakan masker lalu menjadi kebutuhan. Selain itu, masker juga diperlukan bagi masyarakat perkotaan. Udara perkotaan sudah sangat jelek, misalnya di Jakarta. Udara di Jakarta sudah melebihi ambang batas toleransi udara yang bersih. Makanya, masker sekurang-kurangnya menjadi salah satu piranti untuk bisa menjadi penyaring kebersihan udara yang masuk ke paru-paru kita.
Kedua, kita harus mengapresiasi atas keberhasilan pemerintah yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh organisasi, para pemuda, dan kaum selebritis untuk mengampanyekan bahaya Covid-19 dan perlunya menggunakan masker. Jadi di masa normal ini, masyarakat sadar benar tentang arti penting atau makna masker bagi masyarakat. Ada kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk menjaga Kesehatan, menjaga jarak dan tetap berusaha agar relasi social itu bisa memenuhi standart Kesehatan.
Sesungguhnya masyarakat Indonesia ini sudah dapat memilih mana prilaku yang perlu dan mana yang tidak perlu, mana yang penting dan mana yang tidak. Pengalaman yang menimpa masyarakat pada waktu terjadinya Covid-19 sungguh merupakan peristiwa yang sangat luar biasa. Ada banyak korban, ada banyak orang yang harus menderita karena wabah Covid-19. Pengalaman tersebut tentu saja berpengaruh atas prilaku yang ditampilkannya. Meskipun Pandemi sudah menjadi endemic, wabah sudah berlalu, akan tetapi prilaku untuk menjaga agar jangan sampai virus ini merebak lagi menjadi pemahaman yang penting.
Ketiga, kita tentu menghimbau agar masyarakat tetap menegakkan kedisiplinan dalam melakukan relasi social. Pada saat kita berada di dalam kerumunan, maka agar diupayakan untuk menggunakan masker sebagai pelindung diri. Jika di masa lalu orang mengabaikan flu karena dianggap sebagai penyakit biasa saja, maka sekrang orang yang sedang flu akan menggunakan masker. Jika seseorang terkena flu dan kemudian bersin, maka diupayakan agar virus itu tidak menyebar Bersama bersinnya. Kesadaran seperti ini yang saya kira patut diapresiasi, sebab masyarakat semakin peka untuk melindungi orang lain.
Saya jika berada di dalam suatu kerumunan, apakah dalam rapat atau di tempat yang terdapat banyak orang, maka saya akan menggunakan masker. Perilaku seperti ini tidak lagi dianggap kesombongan akan tetapi sebuah kewajaran. Jadi masyarakat kita memang semakin rasional.
Wallahu a’lam bi al shawab.

