Wajah Agama Indonesia Memasuki Fase Tinkering
InformasiWajah agama ibarat mata uang yang memiliki dua sisi. Sisi pertama agama bisa membawa pesan rahmat, cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan sejati. Sementara, sisi yang kedua sebaliknya, agama bisa menjadi sumber konflik, permusuhan, saling mempertentangkan, dan menghancurkan.
Hal ini sebagaimana disampaikan Dr Azhari Akmal Tarigan Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Kota Medan bahwa wajah agama demikian kerap berbentrokan. Satu sisi wajah agama menunjukkan berbagai bentuk perilaku positif, yaitu membawa pesan yang menyejukkan, cinta-kasih, kedamaian, dan persaudaraan sejati. Sedangkan, sisi lainnya juga menunjukkan berbagai perilaku negatif, seperti sumber konflik, permusuhan, saling mempertentangkan, dan saling menghancurkan.
"Wajah agama adalah paradox. Sepanjang berjalan secara seimbang masih lebih baik, namun belakangan ini agama lebih menampilkan dirinya sebagai sumber konflik," ujarnya dalam sebuah acara Focus Group Discussion yang bertajuk Kepemimpinan Koleftif Kolegial Forum Kerukunan Umat Beragama Dalam Menyelesaikan Masalah Umat Beragama, (04/09).
Lebih lanjut dikatakan oleh Azhari bahwa wajah agama yang sesungguhya ditentukan oleh ekspresi dan perilaku umat beragama itu sendiri di ranah publik. Agama demikian dapat terkesan sangar dan menakutkan, bila umat beragama menampilkan sikap yang keras, kasar, dan intoleran baik terhadap sesama umat beragama ataupun dengan umat lain. Sementara, kata Azhari, keberagamaan Indonesia sendiri sesungguhnya sangatlah dinamis.
"Agama yang dapat berdialog dengan tradisi dan dapat berinteraksi dengan budaya lokal relatif tampil lebih damai dan toleran. Bukan agama yang sangat kaku dan menarik garis terang dengan budaya dan tradisi cenderung rigid, ekstrim, dan intoleran," ujar Azhari.
Pola Agama yang Toleran
Dalam kaitannya dengan budaya dan tradisi, justru muslim Indonesia saat ini dinilai sedang memasuki fase yang disebut dengan Tinkering. Demikian yang disampaikan Azhari, Tinkering merupakan sikap keberagamaan yang cenderung mencair. Salah satunya dengan mengambil berbagai ajaran dan ritual yang dipraktikkan dalam kehidupan beragama. "Mengambil ajaran dan ritual yang masih relevan dengan perkembangan zaman. Pola agama yang seperti ini juga yang relatif toleran," ucapnya.
Sementara, guna mewujudkan keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama, Prof Hasan Bakti Nasution Pengurus FKUB Provinsi Sumatera Utara mengatakan bahwa merajut kerukunan antar umat beragama dapat dimulai dengan memperkuat dan memberdayakan empat pedoman kehidupan dalam bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan kebhinnekaan. Selain itu, juga perlu memperkuat dan melaksanakan ajaran agama masing-masing tentang kerukunan dan hubungan harmoni sesama manusia dan khususnya bangsa.
"Sesuai dengan tiga bentuk persaudaraan, yaitu ukhuwah basyariyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah islamiyah, dan sesama agama lainnya," tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa yang tak kalah penting dalam merajut kerukunan antar umat beragama adalah mengembangkan teologi altruisme. Teologi altruisme dapat dilakukan dengan saling menghargai dalam perbedaan. Serta, menjadikan hati sebagai landasan dan kata kunci dalam mencintai sesama manusia.
"Dengan semangat ini setiap kali melakukan sesuatu dimulai dari pertanyaan 'apakah ini tidak menyinggung perasaan umat lain' 'jika ia tidak dilaksanakan, dan jika tidak barulah dilaksanakan," tegasnya.
Terakhir, disampaikan agar selalu menguatkan prinsip bahwa kerukunan bukan tentang meragukan ajaran agama seseorang. Justru sebaliknya, yaitu menjalin kerukunan demi menjamin keimanan seseorang."Sesuai slogan FKUB 'kerukunan terjalin, keimanan terjamin'." tutupnya. (Nin)

