(Sumber : Islami.co)

Fasha Umh Rizky: Kajian Netlitik Untuk Jaringan Dakwah

Kelas Metode Penelitian

Fasha UMH Rizky merupakan generasi milenial yang memiliki kecenderunag untuk mengkaji secara akademis atas fenomena sosial dan agama yang menarik dewasa ini. Oleh karena itu, Fasha melakukan penelitian tentang moderasi beragama sebagai yang dikenalnya di dalam media sosial. Judul tesis Fasha Umh Rizky, 2022, adalah  Studi Netlytic: Analisis Jaringan Komunikasi Pada Dakwah Moderasi Beragama Di Ruang Digital, Pembimbing I: Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., Pembimbing II: Dr. Moch. Choirul Arif, S.Ag., M.Fil.

  

Berikut ini adalah ringkasan tesisnya sebagaimana yang sudah diujikan beberapa saat yang lalu sebagai berikut: Masyarakat kini banyak berinteraksi di ruang digital seperti di Twitter. Interaksi yang terjadi dalam membicarakan suatu topik melalui tweet, retweet, reply, dan mention yang dilakukan pengguna twitter, dapat membentuk jaringan sosial. Tidak hanya berkaitan dengan topik-topik umum, melainkan juga berkaitan dengan bidang keagamaan seperti moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan  menjelaskan struktur jaringan komunikasi pengguna twitter Indonesia mengenai moderasi beragama dan mengeksplorasi wacana topik moderasi beragama yang diperbincangkan pengguna media sosial twitter di Indonesia khususnya yang terjadi pada tahun 2022. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mix-method, yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode social network analysis untuk menganalisis struktur jaringan komunikasi yang terbentuk dan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode critical discourse analysis untuk menganalisis wacana terkait topik moderasi beragama yang diperbincangkan pengguna media sosial twitter di Indonesia.

  

Hasil penelitian menunjukkan trending Moderasi Beragama, paling banyak disebabkan adanya pernyataan tokoh-tokoh penting (Presiden RI, Menteri BUMN, dan Staf Khusus Menteri Agama) yang dikutip dalam tweet beberapa pengguna twitter dan di retweet oleh pengguna twitter lainnya. Para tokoh memberikan pernyataan dalam acara yang terjadi secara offline yaitu: peresmian Masjid At-Thohir, Audiensi Presiden dengan kelompok Cipayung Plus, dan Seminar Nasional Moderasi Beragama dan Tahun Toleransi. Namun juga ada beberapa tweet dengan isi teks terkait agama tetapi tidak berhubungan dengan acara-acara itu, yang menggunakan hastag #ModerasiBeragama. Temuan lain yaitu aktor penting-populer dalam struktur jaringan komunikasi yang terbentuk, bukan aktor yang aktif membuat tweet. Namun tokoh-tokoh yang menyampaikan pesan dalam kegiatan yang offline, yang pesannya dikutip pengguna twitter di Indonesia, dan akunnya di-mention dalam tweet yang mereka buat.

  

Moderasi beragama merupakan salah satu program pemerintah yang sudah menjadi bagian dari RPJMN 2019-2021. Karenanya, moderasi beragama sungguh telah menjadi program pemerintah dari berbagai institusi atau kementerian/lembaga di Indonesia. Dengan demikian moderasi beragama sudah menjadi program nasional yang perlu disambut dengan sepenuh hati. Hanya saja bahwa berdasarkan penelitian Fasha bahwa teks moderasi beragama masih sering disalahpahami dan bahkan dianggap sebagai teks yang dapat merugikan umat Islam. Yang diperlukan justru bagaimana para tokoh moderasi beragama menyambut terhadap twit dari para pembuat atau kreatornya, sehingga konten tersebut akan dapat menjadi viral. 

  

Berdasarkan kajian tersebut kiranya bagi penggerak moderasi beragama perlu semakin banyak membuat konten-konten yang variatif agar moderasi beragama dapat memenuhi media sosial. Para penggerak moderasi beragama harus terus menyuarakan teks-teks moderasi beragama. Jadi, harus terus speak up untuk kepentingan negara dimaksud. 

  

Melalui penelitian ini digambarkan bahwa semakin banyak tokoh penting di aras nasional yang membicarakan tentang moderasi beragama maka akan semakin besar respon sosial atas teks moderasi beragama tersebut di media sosial. Oleh karena itu, di dalam kerangka untuk mengangkat isu moderasi beragama melalui media sosial, maka di antara yang penting adalah menggerakkanpada tokoh-tokoh nasional yang selama ini bergerak di dalam jejaring Islam rahmatan lil ‘alamin untuk ikut secara aktif dalam media sosial.

  

Hal yang menarik dari tesis Fasha adalah keberaniannya untuk menggunakan studi Netlitik sebagai salah satu piranti dalam analisis jaringan yang dewasa ini sangat penting. Saya menjadi teringat dengan konsepsi kaum teoretisi kritis yang menyatakan bahwa “dunia dikuasai oleh mereka yang memiliki jejaring. Siapa yang jejaringnya kuat, maka merekalah yang akan menguasai dunia.