(Sumber : Hati Bening)

Proxy War

Horizon

Oleh: Dwi Mariyono, S.Ag., M.Pd

Mahasiswa Pascasarjana Program Doktor Pendidikan Islam Multikultural

Universitas Islam Malang

  

Proxy war (perang proxy) adalah perang antara dua negara atau aktor non-negara yang terjadi atas hasutan atau atas nama pihak yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran. Peperangan masa depan adalah salah satu corak perang dalam spektrum konflik yang telah kita kenal. Perang ini merupakan satu cara perang yang relatif baru yang akan selalu dikembangkan. Peperangan masa depan ini bersifat total dimana segala cara dan sarana dibenarkan untuk mencapai tujuan. Ini sesuai dengan teori yang dikatakan Mao Tse Dong untuk mencapai tujuan perang segala cara dan sarana dapat saja dilakukan tanpa mengindahkan moral dan berkembangnya kebencian. Pihak lain harus memiliki hubungan yang erat dan berjangka panjang dengan pihak-pihak yang bertikai dalam bentuk pembiayaan, pelatihan militer dan hal-hal lain yang dapat menjamin kelangsungan perang. Sementara pemerintah terkadang menggunakan kekuasaan melalui proxy, aktor non-negara yang kejam, dan tentara bayaran, pihak ketiga lainnya lebih sering digunakan. Kelompok ini diharapkan dapat menyerang lawan tanpa menimbulkan perang habis-habisan. Selain konflik proxy, ada juga perang proxy. Perang proxy murni hampir tidak mungkin, karena kelompok yang berjuang untuk negara tertentu biasanya memiliki kepentingannya sendiri, yang mungkin berbeda dengan kepentingan patronnya mereka. 

  

Proxy war adalah perang tak terlihat yang secara halus menghancurkan dan mengalahkan lawan dengan bantuan pihak ketiga. Strategi proxy war yaitu identitas lawan tidak mudah terbaca karena ia menyamar sebagai penjahat yang menjalin kerja sama dengan komunitas kriminal di negara yang diserang. Dengan kata lain, bahwa Proxy War merupakan perang terselubung di mana salah satu pihak menggunakan orang lain atau pihak ketiga untuk memberikan perlawanan kepada musuh. Perang proksi disadari atau tidak oleh para pengguna media sosial (medsos) sudah terjadi dan terus akan terusr berlangsung menjadi ancaman nyata yang menyusup ke sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara, dan berkeluarga. Terminologi perang proksi menjadi meluas dan berkembang tanpa disadari, terutama dengan melibatkan perang informasi yang bertujuan menciptakan konflik-konflik internal. Perang proksi yang lebih membahayakan adalah jika pelakunya bukan negara (non state actor) seperti media, pengguna media yang sudah dan telah difasilitasi dengan comment dan share adalah hal yang sulit diidentifikasi dengan caranya yang senyap.

  

Perang proksi justru tidak melibatkan kekuatan militer, melainkan perang melalui beragam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik melalui aspek sosial budaya, politik, ekonomi serta hukum dengan penggiringan melalui narasi yang di bangun dan diungkapkan di media sosial. Tujuan perang proxy menurut saya pada akhirnya adalah usaha kelompok tertentu untuk mencerai beraikan kekompok lain dengan tujuan menggiring opini untuk bisa menguasai dan merebut kelompok tersebut baik dari segi ekonomi, politik, budaya, faham dan pemikiran bahkan sampai pada tingkat berniat jahat menguasai teritori negeri dengan segala kekayaan alamnya. Sebagai contoh, adanya  pertikaian di kawasan timur tengah dewasa inipun ditengarai adalah salah satu model perang proxi, yang ujungnya adalah perebutan sumber-sumber modal dan kekuatan ekonomi (minyak). 

  

Berbagai perbedaan dan pembenaran terhadap sesuatu begitu bebas teruangkap dan terpampang melalu berbagi media sosial. Perang ini dilakukan dengan memanfaatkan potensi konflik atau justru untuk menciptakan konflik terbuka sebagai sarana untuk menimbulkan instabilitas kehidupan kelompok, komunitas bahkan sampai pada taraf berbangsa dan bernegara.Saling serang melalui narasi pembenaran melalui media sosial terhadap apa yang dianut. Sementara yang merasa diserangpun merespon dengan sumber-sumber yang akurat, dalam sisi yang lain, muncul  comment balasan dari para pembaca yang pada taraf ini juga masih berkutat dalam konteks membenarkan dan menyalahkan. 

  

Dalam hemat saya, peran media dalam proxy war juga sangat berpengaruh pada rentannya paparan radikalisme dan aksi terorisme terutama pada generasi muda.  Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2020 menunjukkan data yang mencengangkanm dimana, terdapat 85% milenial berpotensi terpapar radikalisme. Apakah ini harus kita biarkan? tentu saja tidak, ini adalah tugas kita bersama, tugas semua komponen bangsa yang peduli akan kemapanan dan ketentraman kehidupan, tugas kita semua untuk ikut berperan aktif dalam menanggulanginya. Negara, Media dan mahasiswa dalam kontekstualisasi dan aktualisasi harus menggunakan sarana media yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan. Kita semua sebagai bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multikultur, multidimensi berlomba dengan waktu dengan ancaman disintegrasi yang semakin hari semakin nyata. 

  

Saya berpandangan bahwa semain masifnya perkembangan dan kemajuan teknologi informasi salah satunya Perang cyber juga menjadi roda penyelenggaraan perang proxy, karena perang cyber dapat menyembunyikan identitas.Strategi cerdas untuk membangun  sebuah bangsa dengan karakter yang kuat dimasa depan. Sebuah petikan kaimat sederhana sarat dengan makna. Hal ini kemudian terasa belum terbangun dalam kontek kekinian di negeri ini, dimana saat kita melihat kondisi bangsa yang sampai hari ini masih  penuh dengan segala problematika yang kronis disetiap lini kehidupannya. Kita semua seakan disadarkan bahwasanya dengan kualitas pembangunan pendidikan yang masih sangat rendah  menghasilkan impikasi yang begitu besar terhadap karakter masyarakat dinegeri ini yang bermuara pada  belum terbentuknya karakter secara kuat. 

  

Negeri Indonesia, negeri dengan produktifitas kekayaaan alam melimpah ruanh, namun eroninya kemakmuran masih menjadi dikotomi (hak ekslusif) pihak-pihak berada sementara rakyat kebanyakan masih berjuang untuk sekedar dapat bertahan hidup ditengah kondisi perekonomian yang begitu mecekik rakyat, hal ini terjadi (seakan paradok) ditengah kehidupan suatu bangsa yang begitu besar dan begitu kaya dengan segala sumber daya alam yang ada didalamnya. Peta masa depan suatu bangsa terlihat nyata dengan melihat bagaimana kondisi pemudanya hari ini. Semua orang tua bertanggungjawab menegaskan kembali posisinya. Para pemuda juga harus dapat menegaskan  kembali sebagai pemuda Indonesia yang mempunyai tanggung jawab berat dalam meneruskan dan memperbaiki kondisi pembangunan bangsa di masa depan. 

  

Kondisi kehidupan berubah sesuai dengan jamannya. Saya kira semua orang sepakat, bahwa tumbuh kembangnya berbagai sisi kehidupan manusia selalu diiringi dengan sebuah sebab akibat silih berganti sesuai dengan jamannya. Seiring engan itu cara dan metode serta istilah yang munculpun mengalami perkembangan dan perbedaan. Segala realitas kehidupan dari zaman ke zaman begitu lekat dengan nuansa yang berbdeda. Sekarang yang kita sebut sebagai zaman moderen yang dalam pandangan saya lekat dengan hedonis,pragmatis,materialis,indivialis dengan meninggalkan unsur “kepekaan “ melihat kondisi sekitarnya. Ketika kondisi ini terus “dibiarkan dan dibenarkan” pemuda Indonesia akan kehilangan jati dirinya sendiri yang berimplikasi pada semakin kaburnya arah pembangunan bangsa dimasa depan.   Kita semua harus sadar dan bergerak maju membentuk citra rupa yang dapat memberikan maslahah nyata. Selayaknya kita semua bergerak majud agar jaya dimasa depan, bukan sekedar menjadi kebanggaan dalam nostalgia masa lalu,kualitas masa depan bangsa adalah ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. 

  

Semua komponen harus mempunyai kepedulian untuk membangun sejarah baru yang lebih baik. Kehidupan lebih baik, kuat serta mimilik daya dalam  menghadapi segala tantangan,kebutuhan,tuntutan di era global seperti saat ini. Allah SWT berfirman di dalam Al–Qur’an surah An–Nisa ayat 9 yang Artinya : “ Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

  

Sadar diri dan sadar dini, wajib bagi kita untuk takut meninggalkan generasi muda yang lemah. Jangan kita wariskan dan bentuk generasi dan anak-anak kita yang lemah, lemah fisik, lemah harta, lemah ilmu, lemah semangat. Kelemahan ini akan lebih mengerikan dampaknya jika sampai pada taraf lemah akhlak dan etika. Jika lima kelemahan ini melekat pada pemuda, kita yakin mereka bukan pelopor pembangunan, melainkan virus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur pembangunan masa depan bangsa.

  

Mari gunakan media digital secara bijak, seperti pikirkan dulu sebelum di share, hindari berita bohong, jadikan sebagai personal branding untuk kesejukan dan kenyamanan, jadikan sebagai smart digital creator kedamaian dan ketenangan.