(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Riset Islamic Studies di Era Integrasi Ilmu (Bagian Satu)

Kelas Metode Penelitian

Islamic Studies atau kajian keislaman tentu tetap menarik meskipun kita semua sudah memasuki era teknologi informasi atau yang sering disebut sebagai era revolusi industry 4.0. Islamic studies ternyata memang menjadi kajian keilmuan yang tetap lesatri di tengah serbuan teknolog informasi yang sedemikian kuat. 

  

Saya beruntung diminta oleh Proh. Dr. Nur Ahid, MAg untuk memberikan orasi ilmiah dalam tajuk acara stadium general yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana IAIN Kediri, 9/9/2021. Selain saya juga Prof. Dr. HM. Muhammad Ali Ramdhani, MT memberikan presentasinya dengan tema “Masyarakat Pembelajar di PTKIN”. Saya diminta untuk memetakan riset pada program studi doktor Isalimic Studies dengan tema “Riset Islamic Studies di Era Integrasi Ilmu”. Hadir pada acara ini, Rektor IAIN Kediri (Dr. Noor Hamid), Direktur PPs (Prof. Dr. Nur Ahid), Ketua Senat IAIN Kediri (Prof. Fauzan Shaleh, PhD), dan segenap pimpinan dan mahasiswa Program Doktor dan Magister IAIN Kediri.  

  

Stadium general ini sangat penting di tengah transformasi dan perubahan sosial yang berkembang secara dinamis. Misi Kemenag di dalam pengembangan ilmu pengatahuan adalah yang dikonsepsikan sebagai intergrasi ilmu, yaitu sebuah program untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dalam berbagai pendekatan dan coraknya. Sebagaimana diketahui bahwa sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) pada level 6 (program Strata I, 7 (program professional), 8 (program master)  dan 9 (program doktor), maka untuk level 8 dan 9 harus menggunakan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner, sedangkan untuk level 6 menggunakan pendekatan monodisipliner. 

  

Minat untuk memperoleh gelar doktor semakin meningkat. Namun demikian, tidak banyak orang yang berkesempatan untuk menjadi doktor terutama dalam jalur pembelajaran dan pendidikan yang benar dan berkualitas. Menjadi doktor berarti menjadi kaum elit yang very well educated. Menjadi kaum terpelajar yang sangat bergengsi, baik bagi diri sendiri, keluarga dan juga institusi di mana kita melakukan pengabdian dalam sisi kehidupan. Menjadi doctor itu tidak mudah. Ada fase-fase yang tidak bisa dilipat. Harus berurutan dan sistemik. Dimulai dari seleksi masuk program doktor, kuliah terstruktur, ujian verifikasi, ujian proposal, ujian verifikasi, ujian tertutup dan ujian terbuka. Levelingnya berbeda dan nuansa psikologisnya juga berbeda-beda. Menjadi doktor itu menjadi rujukan dalam bidang atau rumpun ilmu yang dikuasainya.

  

Menjadi doktor itu identik dengan orang khusus, yaitu sosok yang menguasai ilmu pengetahuan yang dibidanginya, memiliki kemampuan riset yang andal dan kemampuan menulis yang hebat. Doktor di Indonesia itu identik dengan ahli penelitian. Berbeda dengan di negara lain yang tidak beranggapan seperti ini. Jadi doktor harus menjadi ahli metodologi penelitian. Menjadi doktor harus menguasai rumpun, konsep, teori yang relevan dengan bidang kajiannya. Memahami benar pohon konsep atau pohon teori yang dikajinya.

  

Di dalam dunia ilmu pengetahuan pengetahuan pernyataan: “The only permanent aspect of science is research”. Ilmu pengetahuan tidak akan berkembang tanpa penelitian. Yaitu proses pengkajian secara serius tentang subyek atau sasaran kajian ilmu melalui penalaran atau pemikiran mendalam yang menghasilkan studi pemikiran atau filsafat, dan kajian secara mendalam yang dilakukan pada sasaran kajian atau subject matter melalui studi lapangan atau field research. Kita bisa memilih mana yang sesuai dengan tema, masalah, dan passion kita di dalam kajian Islamic studies. Tesis atau disertasi yang baik adalah tesis atau disertasi yang selesai. judul yang sederhana bisa menjadi hebat jika dikerjakan dengan sangat memadai. Kehebatan disertasi bukan karena judulnya tetapi karena pembahasannya.

  

Hingga hari ini, masih banyak orang yang berpandangan bahwa agama itu wahyu dan karenanya tidak bisa dikaji secara empiris. Wahyu Tuhan itu suci sehingga tidak mungkin dikaji dengan perangkat ilmu yang nisbi. Mereka beranggapan bahwa sebagai wahyu maka tidak bisa dikaji dengan kemampuan manusia. Dianggapnya bahwa yang dikaji itu benar salahnya teks-teks suci atau nanti akan memfalsifikasi atau memverifikasi teks-teks suci. Di dalam pandangan ini, ilmu itu berangkat dari keraguan atau keniscayaan salah, sedangkan wahyu itu kalam Tuhan yang diyakini kebenarannya. Anggapannya bahwa mengkaji wahyu itu bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan yang empiris, dan rasional sejauh-jauhnya etical.

  

Di dalam dunia ilmu pengetahuan, maka Ilmu itu memang empiris sensual dan rasional, artinya bahwa ilmu pengetahuan juga harus memenuhi kaidah empiris dan rasional. Namun juga memenuhi kaidah empiris etis dan bahkan terakhir pandangan memenuhi kaidah empiris transcendental. Ilmu-ilmu keislaman bisa memenuhi kaidah-kaidah kebenaran ini. Ada kajian ilmu keislaman yang empiris sensual, ada yang empiris rational, empiris etis dan empiris transcendental. Tujuan Islamic studies bukan untuk mengobrak-abrik teks-teks yang sudah diyakini kebenarannya. Kebenaran teks suci itu universal, sepanjang zaman. Benar dalam setiap ruang dan waktu.

  

Kajian islamic studies adalah untuk memahami keanekaragaman manusia dalam memahami teks-teks ajaran agama. Misalnya keanekaragaman tafsir al-Qur\'an, hadis, tasawuf, sejarah Islam, dan sebagainya. Di dalam Islamic Studies memang ada yang empiris sensual, misalnya peristiwa/fenomena pendidikan Islam, peristiwa/fenomena dakwah Islam, peristiwa/fenomena hukum Islam, fenomena tasawuf, fenomena pengamalan beragama dan sebagainya yang semua hidup di dalam masyarakat.

  

Di dalam Islamic studies juga ada yang empiris rasional, misalnya penafsiran ayat-ayat al-Qur\'an atau tafsir mudhui, tafsir atas sunnah Nabi Muhammad, fenomena pengalaman agama yang individual, pengalaman sufisme, dan lainnya. Jadi yang dikaji adalah bagaimana orang atau para ahli menafsirkan teks suci sehingga menghasilkan ragam pandangan  atau konsepsi tentang ajaran Islam, ajaran teologis, ritual dan etika. Islamic studies juga memiliki kebenaran empiris etis, yaitu kebenaran yang berbasis pada kesepakatan atas nilai yang diyakini kebenarannya atau disebut sebagai norma-norma yang berisi kebaikan dan keburukan. Misalnya etika dalam pandangan Al Ghazali, yang tentu bisa berbeda dengan pandangan ahli etika Islam lainnya. Islamic studies juga memiliki kebenaran empiris transcendental, yaitu berbasis pada keyakinan manusia tentang yang sacral. Percaya tentang alam akhirat, alam kubur, keberadaan Malaikat, takdir Tuhan dan sebagainya. Melalui prinsip empiric transcendental ini, maka terdapat pembenaran atas dunia keyakinan yang tidak empiris sensual dan empiris rasional. Tuhan itu tidak masuk dalam kawasan empiris sensual dan rasional, tetapi kawasan keyakinan atau empiris transcendental. Dan keyakinan tentang Tuhan juga bervariasi, ada yang bercorak awam dan sufistik.

  

Melalui upaya untuk mengkategorikan sasaran kajian atau subject matter dan pendekatannya, maka saya berkeyakinan bahwa ke depan akan terdapat varian-varian ilmu keislaman, sebab akan berkembang ilmu-ilmu baru yang didesain berdasarkan atas pendekatan-pendekatan yang relevan.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.