(Sumber : suara.com)

Ulfa M. Hayati: Doktor Cumlaude Pendidikan Islam Multikultural

Kelas Metode Penelitian

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Disertasi yang berjudul “Pendidikan Agama Islam Multikultural Guna Mewujudkan Harmoni Sosial di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tuban” dapat dipertahankan oleh penulisnya  Ulfah Hayati Muzayanah, 29/08/2024, dengan Promotor: Prof. Dr. H. Masykuri, M.Si. dan Co-Promotor: Prof. Dr. H. Djunaidi Ghony. Yang berlaku sebagai penguji adalah: Prof. Dr. Junaidi Mistar, MPd., (Ketua tim penguji/Rektor), Prof. Dr. Mas’ud Said, MM, (Sekretaris/Dir.PPs), Prof. Dr. Imam Suprayogo (penguji), Prof. Dr. Nur Syam, MSi (penguji), Prof. Dr. Junaidi Ghony (Penguji), Prof. Dr. Ya’kup Cikusin, MA (penguji) dan Prof. Dr. Maskuri, MSi (penguji in absentia). 

  

Dari disertasi yang dipertahankan tersebut, didapatkan abstrak sebagai berikut: 

“Keberagaman input siswa melalui sistem zonasi, afirmasi dan prestasi merupakan modal awal lembaga yang mempunyai visi multikultural. Keaneragaman itu meliputi agama, suku, ras, etnis, budaya dan bahasa. Perbedaan tersebut merupakan sunnatullah dan sebuah keniscayaan.  Keunikan ini dapat membawa anugerah tersendiri dan juga dapat menciptakan konflik dalam sebuah lembaga, tergantung bagaimana mengelolanya. 

  

Harmoni sosial sebuah kondisi dimana individu hidup rukun, damai, nyaman, sejalan dan serasi dengan tujuan lembaganya yang ditandai oleh adanya solidaritas antar peserta didik dan semua stakeholder yang ada dalam lembaga tersebut. Kesadaran semua warga sekolah akan keberagaman membawa sikap menghargai perbedaan dan menerima perbedaan. Maka dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui dari tiga fokus yaitu:1) Nilai-nilai pendidikan Islam multikultural untuk mewujudkan harmoni Sosial di SMA Negeri 1 Tuban, 2) Proses pendididikan Islam multikultural guna mewujudkan harmoni sosial di SMA Negeri 1 Tuban, dan 3) Model pengembangan Pendidikan Islam multikultural guna mewujudkan harmoni sosial di SMA Negeri 1 Tuban. 

  

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Tehnik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini berpijak pada perspektif Robert K. Yin yaitu penerapan tema penelitian dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian. Proposisi penelitian, data dan proses interpretasi data, unit analisis dan generalisasi alamiyah (naturalistic generalization). Adapun pengecekan keabsahan data melalui ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pemeriksaan teman sejawat. Kemudian setelah data tersajikan maka dianalisis dengan berbagai disiplin keilmuan yaitu melalui keilmuan relegius, filosofis, antropologis, dan sosio-psikologis. 

  

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) nilai pendidikan Islam di SMA Negeri 1 Tuban ada enam yaitu nilai Ta’aruf, Nilai Tasamuh (toleransi), Tawasuth (moderasi beragama), Tawazun (harmoni), Ta’awun (tolong menolong) dan Ta’addul yang dilaksanakan melalui kegiatan pembiasaan, proses pembelajaran serta kebijakan lembaga. 2) proses Pendidikan Islam multikultural dilakukan dengan dua macam yakni kegiatan intrakurikuler melalui proses pembelajaran secara eksplisit dan terintegrasi dengan pendekatan contextual learning dan berbasis tematik, pembiasaan baca kitab suci dan projek penguatan profil pelajar Pancasila sedangkan kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan melalui kegiatan keagamaan yakni kegiatan Rohis (Kerohanian Islam), Rokris (Kerohanian Kristen) dan persembahyangan (Hindu) serta kegiatan pengembangan diri. 3) Model pengembangan pendidikan Islam multikultural yang diselenggarakan ada lima macam yaitu 1) Telaah konflik relegius, hal ini dapat mengantisipasi lebih awal untuk mencari solusi (resolusi konflik) dan mencari mufakat serta strategi untuk memberikan pendidikan selanjutnya. 2) Kebijakan lembaga, dengan adanya rumusan yang jelas oleh lembaga bahwa sejak didirikannya lembaga sudah inklusif menerima berbagai agama. Kebijakan dipastikan dapat relevan dan efektif dalam mempromosikan harmoni sosial dalam masyarakat yang dinamis dan beragam. 3) Pengembangan materi yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam multikultural, ini dimaksudkan bahwa semua pembelajaran yang dilaksanakan mengintergrasikan nilai-nilai multikultural terutama materi pendidikan agama. 4) Penyiapan pendidik yang mempunyai wawasan nilai pendidikan Islam multikultural, ini karena pendidik adalah yang mentransfer value maka sebagai pendidik harus dapat sebagai suri tauladan untuk siswa, dan 5) Evaluasi materi pelaksanaan nilai-nilai Islam multikultural, bahwa sebuah program idealnya melaksanakan evaluasi melalui konteks, input, proses dan produk sehingga target dapat diketahui dan hasil evaluasi sebagai tindak lanjut pada pelaksanaan tahun berikutnya. Berdasarkan tiga hal tersebut, maka pendidikan Islam multikultural guna mewujudkan harmoni sosial di SMAN Negeri 1 menggunakan model integrated-comprehensive berbasis harmoni sosial”.

  

Ujian yang sangat menarik sebab promovendus dapat memberikan jawaban-jawaban yang akurat berdasar atas pertanyaan penguji. Misalnya di kala ditanya tentang bagaimanakah pemahaman dan praktek toleransi di SMAN I Tuban, sebab dipastikan bahwa di dalamnya terdapat multireligius, maka pasti didapatkan keinginan untuk mengembangkan otoritas agamanya di dalam lembaga pendidikan tersebut, padahal yang dikembangkan di institusi pendidikan ini adalah nilai pendidikan Islam multkultural. Maka dinyatakan berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan guru dan siswa yang berbeda agama, ternyata bahwa tidak terdapat masalah dalam relasi keberagamaan di SMAN I Tuban. Masing-masing merasa bahwa di dalam agamanya terdapat nilai toleransi sebagaimana di dalam agama Islam. Karena keberadaan nilai tersebut, maka tidak membuat para guru dan murid yang beragama lain berada di luar konteks nilai keislaman. Bukan keyakinan atau ritual tetapi nilai yang terkandung di dalam Islam.

  

Berdasarkan catatan, disertasi ini menggunakan konsepsi Prof. Dr. Tholhah Hasan tentang nilai-nilai pendidikan Islam multicultural sebagaimana yang sudah ditelaah di atas, meliputi tawassuth, tasamuh, ta’awun dan ta’addul yang dipadukan dengan teori James Linch tentang pendidikan multicultural berbasis reward. Disertasi ini menghasilkan temuan baru sebagai novelty, dalam bentuk proposisi yaitu: “Jika pendidikan dilakukan dengan berbasis nilai religious antar agama dalam membangun relasi sosial, maka diyakinkan akan menghasilkan out put peserta didik yang mengedepankan harmoni di sekolah maupun di luar sekolah. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.