Corak Kajian Sosiologi Islam: Kuliah Program Doktor UIN Khas Jember
Kelas SosiologiSebagai makhluk sosial, maka manusia diperkuat oleh kemampuan untuk mengamati terhadap dunia sekelilingnya. Manusia memiliki kapasitas untuk menanyakan segala sesuatu di sekitar kehidupan. Manusia adalah makhluk yang suka bertanya. Manusia adalah hayawanun natiq atau makhluk yang berpikir.
Allah memberikan contoh bagaimana Nabi Ibrahim AS diberikan kemampuan untuk mencari Tuhannya. Ketika ketemu dengan Bulan, maka dianggap bulan itu Tuhan, karena Bulan itu yang terbesar dalam jajaran bintang gemintang di malam hari. Kala bulan hilang dari langit, maka Ibrahim berkata bahwa bukan Tuhan karena tidak abadi. Kala siang hari, Ibrahim melihat Matahari yang bersinar terang, maka dianggaplah Matahari adalah Tuhan, tetapi kala sore hari matahari tenggelam, maka Ibrahim juga menyatakan bahwa matahari bukan Tuhan karena tidak abadi. Dari perenungan dan kontenplasinya, maka sampailah Ibrahim pada pencerahan bahwa Tuhan itu adalah Allah SWT. Tuhan yang abadi, yang Maha Kuasa, yang Maha Esa, yang awal tiada awal dan yang akhir tiada berakhir. Itulah Millah Nabi Ibrahim, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Monotheisme.
Jadi kebenaran itu bisa diperoleh melalui pertanyaan, baik pertanyaan yang jawabannya diperoleh melalui observasi atau disebut sebagai kebenaran empiric sensual. Ada juga yang dijawab melalui instrumen empiris rasional atau menghasilkan kebenaran empiris rasional, dan ada juga kebenaran yang instrument menjawabnya melalui empiris etis atau kebenaran empiris etis dan ada juga kebenaran yang jawabannya diperoleh melalui empiris transcendental atau kebenaran empiris transendental.
Manusia memiliki kepekaan dalam menghadapi situasi sosial, priskhologis, ekonomis, bahkan religious. Kepekaan inilah yang kemudian menjadikan manusia sebagai makhluk peneliti sesuai dengan bidang keahliannya. Sesuai dengan rumpun ilmu dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, maka ahli dalam rumpun ilmu tersebut adalah ahli ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, sains dan teknologi, ilmu formal dan ilmu terapan.
Kepekaan meneliti diperlukan untuk menghasilkan program penelitian yang akan dilakukan. Kepekaan meneliti bisa diasah melalui membaca karya-karya akademis (hasil penelitian, jurnal, laporan ilmiah, buku). Kepekaan meneliti bisa diasah dengan membaca fakta dan realitas social yang ada di sekeliling kita. Kepekaan meneliti bisa dilatih secara terstruktur dan sistematis. Kepekaan masing-masing individu berbeda tetapi siapapun dipastikan memiliki kepekaan untuk meneliti.
Di dalam ilmu pengetahuan, maka masalah selalu lahir dari gap antara kenyataan dan teori yang sudah dihasilkan oleh para peneliti. Masalah selalu lahir dari gap antara kenyataan dan kenyataan yang secara empiris bisa diketahui dan dipahami. Masalah hadir dari gap antara kenyataan dan harapan yang terdapat di dalam kenyataan empiris. Kita perlu belajar untuk mengamati apa yang sudah dan sedang terjadi di dalam kehidupan umat manusia, khususnya kehidupan beragama yaitu beragama Islam.
Di dalam kajian sosiologi Islam, maka dikenal ada dua corak kajiannya, yaitu: Pertama, kajian bercorak what does the religion do for others. Penelitian dalam corak ini menggunakan asumsi dalam paradima fakta sosial, yaitu terdapat keteraturan, ada perubahan dan tidak ada fakta yang berdiri sendiri kecuali ada fakta penyebabnya. Dengan kata lain menggunakan metode penelitian kuantitatif.
Sebagai contoh dalam kajian monodisipliner, adalah Pengaruh ajaran ketauhidan dalam mengeliminasi budaya nyadran sumur di pedesaan Jawa (Studi di Kecamatan Merakurak Tuban). Pengaruh kitab ta’limul muta’allim dalam kepatuhan santri terhadap gurunya di Pesantren Langitan Tuban. Pengaruh fiqih perkawinan dalam mengeliminasi perkawinan usia dini di madura (Studi di Kecamatan Burneh, Madura). Korelasi antara paham keagamaan dengan pengamalan beragama pada masyarakat Islam di Pinggiran Kota Surabaya. Korelasi antara jarak rumah dengan kecenderungan beribadah di masjid: studi pada masyarakat urban di Surabaya. Pengaruh Kecenderungan beribadah terhadap kepatuhan pada orang tua: Studi di kalangan anak-anak Remaja di Kota Kediri. Korelasi antara usia dengan kecenderungan beribadah: studi pada masyarakat Islam di Desa Senori Merakurak Tuban. Pengaruh lingkungan Ponpes terhadap kecenderungan berperilaku tawadhu’ pada orang yang lebih tua usia di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Korelasi antara kepatuhan pada orang tua dengan keberhasilan meraih sukses pada comunitas pedagang di Pasar Keputran Surabaya.
Baca Juga : Manfaat PAI dan Bahasa Arab Bagi Peserta Didik
Sedangkan kajian yang menggunakan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner, misalnya adalah: Pengaruh paham keagamaan, lingkungan keagamaan, Pendidikan keagamaan dan organisasi keagamaan terhadap perilaku beragama pada masyarakat perkotaan dalam strata sosial kelas menengah di Surabaya. Pengaruh konten media social, pergaulan online dan tingkat kedalaman dalam bermedia social terhadap sikap keagamaan generasi muda Islam anggota Komunitas Hijabers di Surabaya. Korelasi antara kemudahan akses produk, harga, dan pelayanan atas kepuasan pelanggan Kosmetika pada Belanja online di Shahnaz Jakarta. Pengaruh kemiskinan, strata social dan struktur sosial terhadap pola pergaulan pada kelompok rentan ekonomi pada masyarakat slum area di Kota Jakarta.
Kedua, what is the religion. Pertanyaan dasarnya adalah apakah hakikat agama itu. Jadi tidak mempertanyakan tentang apa fungsi dan peran agama di dalam kehidupan, akan tetapi bertanya tentang substansi agama bagi manusia. Corak kajian sosiologi Islam ini menggunakan paradigma definisi social sebagaimana yang diancangkan oleh Weber tentang social actions. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jadi yang dikaji adalah realitas social dan bukan fakta sosial.
Sebagai contoh dalam penelitian adalah: Makna ritual Maulid bagi masyarakat Desa di Kabupaten Tuban. Makna Ritual Nyadran Laut bagi masyarakat pesisiran di Palang Tuban. Makna hijrah bagi remaja perkotaan di Kota Surabaya. Makna jihad bagi remaja-remaja berpendidikan menengah di kota Solo. Makna jilbab bagi mahasiswi di Perguruan tinggi umum: studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya. Makna ritual Suroan bagi masyarakat Desa di Kecamatan Kenduruan Tuban.
Tidak ada perbedaaan yang signifikan antara kajian monodisipliner dan interdisipliner. Hanya saja jika di dalam kajian monodisipliner maka yang menjadi pendekatannya adalah ilmu yang yang sesuai dengan sasaran kajiannya, misalnya masalah sosiologis lalu dikaji dengan pendekatan sosiologis. Akan tetapi karena sosiologi Islam merupakan kajian ilmu integrative, maka dipastikan yang dikaji adalah realitas keagamaan pada masyarakat Islam dan didekati dengan pendekatan sosiologis.
Dalam studi interdisipliner, maka bisa menggunakan teori-teori sosial yang relevan. Misalnya teori fenomenologi Weber, Schutz, Berger, Dramaturgi, rasional choice, teori etnmetodologi, teori modalitas, teori strukturasi dan sebagainya. Untuk referensi buku teks, misalnya bisa dibaca karya Malcolm Waters, Ritzer, Poloma dan sebagainya. Untuk teks berbahasa Indonesia, maka bisa dibaca Nur Syam, Model Analisis Teori Sosial (2022). Sedangkan teori yang sudah diterapkan dalam penelitian kualitatif, misalnya Nur Syam, Islam Pesisir (Teori Konstruksi Sosial Berger, 2005), Tarekat Petani (Teori Fenomenologi Weber, 2014), Agama Pelacur (Teori Dramaturgi Transendental,2010), Jejak Politik Kaum Tarekat (Teori Interaksionisme Simbolik, 2020), Kepemimpinan Kolektif Kolegial FKUB (Teori Gerakan sosial, 2021).
Yang diperlukan sesungguhnya adalah kemampuan untuk membaca fakta atau realitas sosial, karena melalui kepekaan tersebut maka akan memunculkan berbagai macam pertanyaan yang akan mengawali sebuah penelitian. Carilah fenomena sosial yang relevan dengan bidang studi dan juga menyenangkan jika diteliti. Lakukan penelitian dengan sungguh-sungguh. Peneliti boleh salah tetapi tidak boleh bohong. Hindari kebohongan sebagai konsekuensi moralitas bagi peneliti.
Wallahu a’lam bi al shawab.

