Manfaat PAI dan Bahasa Arab Bagi Peserta Didik
InformasiKementerian Agama belum lama merealisasikan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 tahun 2019 menggantikan KMA Nomor 165 tahun 2014 tentang Kurikulum 2013. Dalam KMA Nomor 183 tahun 2019 berisi tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab pada Madrasah.
Tercatat pada tanggal 13 juli 2020, kurikulum baru ini telah diterapkan secara serentak di semua tingkatan kelas pada tahun ajaran baru 2020/2021. Kurikulum baru tersebut tak jauh berbeda dengan KMA Nomor 165 tahun 2014, yang mana mempelajari beberapa materi agama, seperti pelajaran al-Qur’an, Hadits, Akidah, Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa Arab.
Berdasar pada KSKK Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI 2019 dijelaskan, kurikulum baru ini bertujuan untuk menyiapkan peserta didik madrasah yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Serta, mencetak lulusan yang kompatibel dengan tuntutan zaman dalam membangun peradaban bangsa.
Selain itu, kurikulum baru ini juga bertujuan untuk menyiapkan peserta didik yang memiliki kompetensi memahami prinsip-prinsip agama Islam, seperti akidah, akhlak, syariah, dan perkembangan budaya Islam. Hal itu diharapkan agar peserta didik dapat menjalankan kewajiban beragama dengan baik. Baik hubungannya dengan sang pencipta, sesama manusia, dan alam semesta.
Terlebih kurikulum baru ini dibuat agar peserta didik mendapat pemahaman keagamaan yang menjadi pertimbangan dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak untuk menyikapi fenomena kehidupan. Bahkan, peserta didik diharapkan mampu mengekspresikan pemahaman agama dalam bingkai kerangka berbangsa dan bernegara yang berasas Pancasila dan UUD 1945, seperti, bertanggung jawab, toleran, dan moderat.
Menumbuhkan Paham Islam Rahmatan Lil Alamin
Menanggapi hal ini, H. Moh Faizin,S.Ag, M. Pd,I. Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Ampel Surabaya menyampaikan, secara ideal bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki karakter plural. Hingga pemahaman moderasi beragama menjadi penting. Hal ini berguna untuk menjawab tantangan zaman dan menyiapkan generasi yang moderat di masa depan.
“Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab menjadi bekal bagi generasi ke depannya agar tak mudah terpengaruh dengan paham-paham radikal dan trans-nasional, yang mana kurang sesuai dengan iklim paham di Indonesia. Islam di Indonesia adalah Islam yang rahmatan lil alamin,” jelasnya saat diwawancara oleh crew Nur Syam Centre, Rabu (15/07/20).
Baca Juga : Mengharap Pelukan Rasulullah di Akhirat
Melahirkan generasi yang moderat, salah satunya dapat dibentuk melalui produsen pemahaman keagamaan, yaitu madrasah. Demikian disertai dengan kualifikasi dan kualitas guru yang berkompeten, yaitu memiliki pemahaman ilmu agama yang kuat dan bahasa Arab yang mumpuni. Seperti halnya disampaikan Faizin, pendidikan agama Islam dan penguasaan bahasa Arab menjadi penting, baik dari sisi guru dan peserta didik.
“Jadi penguasaan materi agama Islam ketika proses transfer pengetahuan dari pendidik ke peserta didik menjadi penting. Hal ini juga menjadi penting bagi lulusan PAI, maka lulusan PAI harus dibekali dengan konsep pembelajaran moderasi beragama. Agar nantinya mampu membekali peserta didik dengan pembelajaran agama Islam yang moderat,” imbuhnya.
Demikian penguasaan bahasa Arab juga diperlukan. Sebab, bahasa Arab menjadi bahasa pendukung untuk mempelajari dan memahami materi agama Islam. Faizin pun mengatakan bahwa bahasa Arab menjadi kunci dalam memahami teks, baik teks klasik dan modern. Demikian juga dalam memahami materi agama Islam, seperti akidah, akhlak, dan fikih.
“Kedua hal itu tidak dapat dipisahkan karena saat kita belajar materi agama Islam tentu tidak lepas dari bahasa Arab. Demikian dengan kunci itu kita dapat membaca teks-teks tersebut,” ujarnya.
Menciptakan Generasi Wasathiyah
Penguasaan bahasa Arab juga dapat membantu peserta didik dalam memahami makna al-Qur’an. H. Abdul Wahab Naf'an, MA. Dosen Sastra Bahasa Arab UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa bahasa Arab dapat membantu peserta didik dalam mencapai pemaknaan ayat al-Qur’an yang mendalam. Serta, tak mudah terjebak dalam pemaknaan ayat al-Qur’an yang hanya tekstual. Melainkan, peserta didik mampu memaknai ayat al-Qur’an secara substansial dan kontekstual.
“Belum lagi dari segi makna Al-Qur'an yang sangat interpretable dan sangat luas maknanya yang memberi ruang kepada para mujtahid untuk menyesuaikan ajaran-ajaran agama agar bisa membumi dan bisa dilaksanakan oleh umat Islam dan menjadi ajaran rahmatan lil alamin,” ucapnya pada crew Nur Syam Centre, Selasa (14/07/20).
Hingga dengan pemahaman al-Qur’an yang substansial dan kontekstual tersebut mampu menciptakan generasi yang wasathiyah. Hal ini juga disampaikan Abdul Wahab bahwa dengan pemahaman agama yang substansial dan kontekstual mampu mencetak generasi dengan pemikiran Islam yang rahmatan lil alamin.
“Yang mana tidak condong ke kanan (tathorruf atau ekstrim) maupun ke kiri (liberal) karena pada dasarnya agama Islam bisa menjadi rahmatan lil alamin karena mempunyai dua sifat yang melekat yaitu baina attsabat wal murunah. Dalam hal ini yaitu ajaran yang tetap dan tidak berubah dalam hal ideologi. Serta akidah yang mempunyai sifat murunah atau fleksibel di dalam beradaptasi urusan duniawi yang memang selalu berubah menyesuaikan tempat, waktu dan perkembangan peradaban atau budaya manusia. Sehingga ajaran Islam yang meliputi akidah, syariah, dan akhlak bisa membumi dan berdamai dengan perubahan,” jelasnya.
Bekal Membaca Literatur Keagamaan
Selain berguna untuk memahami makna al-Qur’an, penguasaan bahasa Arab juga berguna bagi peserta didik untuk membaca sumber pertama ilmu keagamaan. Sumber pertama tersebut dapat diperoleh dari beberapa literatur yang berbahasa Arab. Demikian Abdul Wahab mengatakan, penting bagi peserta didik menguasai bahasa Arab. Sebab,dengan bahasa Arab dapat membantu peserta didik dalam membaca literatur keagamaan dari sumber pertama, bukan dari sumber lainnya.
“Jika tidak dibekali penguasaan bahasa Arab. Nantinya mereka akan membaca literatur keagamaan dari sumber kedua, bahkan sumber ketiga alias terjemahan. Sedangkan, sumber kedua dan ketiga sudah mengalami distorsi ilmu. Dan nantinya mereka akan kesulitan memahami ayat ayat al-Qur’an. Mari perkuat diri kita dengan literatur keagamaan yang kuat dan bersanad, melalui para ulama dan buku-buku dari sumber pertama,” ujarnya.
Terlebih pendidikan agama Islam dan bahasa Arab menjadi bekal di era seperti sekarang ini. Saat media sosial menjadi sumber pilihan dalam belajar ilmu agama. Sementara, informasi keagamaan yang cukup membanjir di media sosial tak sedikit mengalami distorsi. Demikian halnya yang disampaikan Abdul Wahab, saat ini informasi keagamaan banyak beredar di media sosial. Hingga hal tersebut mengharuskan peserta didik untuk banyak membaca.
“Generasi penerus bangsa perlu banyak membaca hingga tak mudah meneruskan informasi yang didapat tanpa konfirmasi, literasi, dan ilmu yang benar agar tak mudah terpengaruh oleh informasi di media sosial. Sebab, banyak distorsi agama yang dibuat simpel dan membuat agama hanya dilihat dari cara berbusana saja. Sedangkan, isinya kosong,” pungkasnya. (Nin)

