(Sumber : Doc.)

Mengharap Pelukan Rasulullah di Akhirat

Khazanah

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

Umat Islam tentu wajib meyakini bahwa alam akherat, surga,  neraka dan keyakinan lain sebagaimana di diceritakan di dalam Alqur’an adalah kebenaran di masa yang akan datang. Di masa sekarang termasuk kegaiban, tetapi di masa yang akan datang atau the day after adalah sebuah kenyataan. Umat Islam wajib meyakini secara total.

  

Yang menjadi penceramah di dalam acara Ngaji Selasanan di Masjid Al Ihsan oleh Komunitas Ngaji Bahagia (KNB) adalah Ustadz Dr. Cholil Uman, dosen pada prodi Bimbingan dan Konseling Islam pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. Pak Cholil sebagai penceramah tetap di acara ini tentu sudah memahami bahwa di dalam ceramah ini bukan untuk menakut-nakuti para jamaah tetapi untuk membahagiakannya. Makanya, dalam cerita tentang neraka, misalnya, juga diungkapkan dengan bahasa yang membuat tertawa. Tidak mudah tentu. Acara ini diselenggarakan pada 24/06/2025. Ada tiga hal yang disampaikan Pak Cholil, yaitu:

  

Pertama, sebentar lagi kita akan memasuki Bulan Muharram atau di dalam kalender Jawa Islam disebut sebagai bulan Suro. Pada bulan ini memang terdapat kontradiksi. Di satu sisi di dalam Islam disebut sebagai bulan-bulan yang dimuliakan Allah, yaitu Bulan Rajab, Bulan Ramadlan, Bulan Dzulhijjah dan Bulan Muharram. Tetapi di dalam keyakinan orang Jawa bahwa Bulan Suro itu bulan keprihatinan, sehingga bagi orang Jawa menganggap tidak etis untuk dijadikan sebagai bulan senang-senang. Termasuk misalnya melakukan pernikahan. Orang Jawa sangat menghindari bulan Suro untuk pernikahan, pindah rumah dan acara lain terkait dengan siklus kehidupan. Bulan Suro atau Bulan Asyuro memang mengandung dua dimensi, yaitu bulan keprihatinan di mana Sayyidina Hussein terbunuh di Padang Karbela, dan ada juga yang kesenangan misalnya bertemunya Adam dan Hawwa, keluarnya Nabi Yunus dari perut Ikan, terbebasnya Nabi Ibrahim dari api Namrudz dan lain-lain. Masyarakat Jawa terpengaruh oleh pemikiran Syiah tentang bulan keprihatinan.   

  

Di dalam Islam memang tidak ada tuntunan tentang kapan sebaiknya melakukan pernikahan, kapan melakukan pindah rumah dan sebagainya. Tentang hal ini berlaku konsep asal mula perbuatan itu kebolehan atau larangan sampai ada dalil yang mengharamkan atau mewajibkan. Al ashlu fil hukmi al ibahah. Jadi apakah mau melaksanakan pernikahan pada bulan Muharrom atau lainnya diserahkan kepada kearifan local. Bagi Masyarakat Jawa maka tidak boleh melakukan pernikahan pada bulan Suro, tentu silahkan bagi yang mempercayainya. Asalkan jangan sampai meyakini bahwa bulan tersebut bulan sial dan sebagainya. Ada sebuah keluarga yang akan melakukan hajadan pernikahan pada akhir bulan Besar atau Dzulhijjah. Ternyata awal bulan Muharrom maju sehari sebagai konsekuensi awal Bulan Dzulhijjah maju sehari. Maka di Tengah kebingungan apakah acara pernikahan dilanjutkan pada hari tersebut atau dimajukan, maka sebaiknya Kembali kepada niat saja, yaitu keinginan untuk melangsungkan pernikahan pada bulan Besar. Tidak berakibat apa-apa, insyaallah.

  

Kedua, nanti di alam akherat atau lebih tepatnya di surga, maka ada orang yang karena kedekatannya dan begitu dikenalnya oleh Rasulullah, maka berpeluang untuk disalami dan dipeluk oleh Rasulullah. Orang itu adalah orang yang dikenal sangat dekat dengan Rasulullah. Karena dekatnya itu maka Rasulullah sangat mencintainya atau sangat menyayanginya. 

  

Ini sebagai ibarat atau bisa disebut sebagai ayat kauniyah atau bukti-bukti kealaman dan kemanusiaan yang bisa menjadi ibrah atau tanda apa yang akan terjadi di masa depan. Ada sebuah upacara pernikahan. Maka orang yang menjadi sahabatnya, menjadi kawan akrabnya dan sangat dikenalnya, maka disuruh untuk berfoto bersama pengantin dan orang tuanya. Lalu di kala turun dari pelaminan, maka diminta untuk makan di ruang VIP. Sedangkan orang yang hanya sekedar diundang karena kenal, maka tidak diminta untuk foto dan juga tidak diminta untuk makan di ruang VIP. Dibiarkan saja. 

  

Ini adalah contoh bahwa terhadap orang yang sangat dikenal, maka tidak dibiarkan untuk jalan sendiri ke tempat makan pada umumnya dan tidak memperoleh perlakuan Istimewa. Bandingkan dengan orang yang sangat dikenal, sahabat atau kerabat. Nanti di alam surga juga seperti itu. Ada yang dibiarkan saja masuk surga, dan ada yang disalami dan dipeluk oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Orang yang seperti ini adalah orang yang Istimewa, orang khusus karena kedekatannya kepada Nabi Muhammad SAW. 

  

Ketiga, bagaimana kita yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah Muhammad SAW, sebab Beliau hadir di Tanah Suci Mekkah dan Madinah pada 1446 tahun yang lalu? Bagaimana kita dapat  menjadi sahabatnya, menjadi orang yang disayanginya? Sambil mengutip Kitab Nashaihul ‘Ibad Pak Cholil menyatakan bahwa orang yang dicintai dan disayangi Rasulullah sehingga menjadi sahabatnya adalah orang yang selalu takut kepada Allah, menjalankan sunnah Rasulullah dan mendawamkan bacaan shalawat kepada Rasulullah. Ada sunnah Rasulullah yang dapat kita lakukan, dan berbahagialah orang yang dapat melakukannya. Jadi tidak boleh kita takut kepada hambanya Allah, sebab ketakutan itu hanya kepada Allah SWT. 

  

Di dalam hidup ini ada instrument yang mudah agar kita disayang Rasulullah, tentu selain melakukan amal ibadah yang wajib maupun sunnah, yaitu terus membaa shalawat kepada Rasulullah. Jika kita dapat melakukannya bahwa peluang untuk menjadi kekasih Rasulullah bukanlah isapan jempol belaka. 

    

Berbahagialah kita semua yang sudah mengamalkan ajaran Islam dan juga sudah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua termasuk orang yang nanti disalami oleh Rasulullah SAW.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.