138 Juta Anak Masih Bekerja untuk Bertahan Hidup
InformasiEva Putriya Hasanah
Saat kita berpikir tentang masa kecil, yang terlintas mungkin adalah kenangan bermain petak umpet di sore hari, belajar menggambar di kelas dua SD, atau menunggu hari Sabtu untuk menonton kartun favorit. Namun, di banyak tempat di dunia, masa kecil tak pernah hadir dalam bentuk yang seperti itu. Ada jutaan anak yang bahkan tak pernah sempat tahu rasanya punya waktu luang, apalagi bermain. Bagi mereka, bangun pagi bukan untuk berangkat sekolah, tapi untuk bekerja. Di ladang, di pabrik, di tambang, atau di jalanan yang penuh debu dan suara klakson kendaraan.
Di tahun 2024, kenyataan pahit itu masih hidup. Data pada tahun itu menunjukkan bahwa sekitar 138 juta anak di dunia masih menjadi pekerja anak, dan lebih dari keseluruhannya, sekitar 54 juta anak terlibat dalam pekerjaan berbahaya. Pekerjaan yang bisa menjamin keselamatan fisik, kesehatan mental, dan tentu saja, merenggut hak dasar mereka sebagai anak-anak: hak untuk tumbuh, belajar, dan bermain.
Meski jumlah ini turun 22 juta sejak tahun 2020, kenyataannya dunia masih jauh dari kata berhasil. Target global untuk menghapuskan seluruh pekerja anak pada tahun 2025 tampaknya semakin mustahil tercapai. Laju penurunan yang ada sekarang tidak cukup cepat. Terlebih lagi, untuk benar-benar mencapai target itu, kecepatan perubahan harus meningkat 11 kali lipat dari saat ini. Sebuah angka yang mengisyaratkan bahwa kita tidak bergerak lambat, tapi mungkin juga belum cukup peduli.
Pekerja anak bukan fenomena baru. Namun yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia masih bertahan di tengah abad ke-21, ketika teknologi semakin canggih, ekonomi global semakin kuat, dan suara kemanusiaan semakin nyaring. Namun entah kenapa, suara anak-anak yang bekerja di bawah panas matahari atau di balik mesin Berisi seolah tetap terpinggirkan. Mereka seperti kehidupan di ruang yang tidak terlihat oleh kebijakan dan perhatian publik.
Dari seluruh pekerja anak yang tercatat, sebagian besar sekitar 61 persen bekerja di sektor pertanian. Mereka membantu memanen padi, mencabut gulma, menyiram tanaman, bahkan mengangkat beban yang seharusnya tidak ditanggung tubuh sekecil itu. Bukan karena mereka kuat, tapi karena tak ada pilihan lain. Di belakang ladang-ladang yang rapi itu, ada cerita anak-anak yang mengorbankan masa kecil demi membantu keluarganya bertahan hidup.
Sementara itu, sektor jasa dan industri akan mempertahankan kelangsungannya. Anak-anak bekerja di tempat-tempat yang penuh risiko: dari toko reparasi kendaraan, pabrik tekstil, hingga industri informal yang tak pernah memperhatikan pengawasan. Banyak dari mereka yang tidak tahu soal hak, tidak punya suara untuk menolak, dan bahkan menganggap itu semua adalah “bagian dari hidup” yang harus dijalani.
Wilayah Asia dan Pasifik mencatat penurunan yang signifikan dalam jumlah pekerja anak, namun kisahnya berbeda di Afrika Sub-Sahara. Di kawasan itu, angka pekerja anak masih menyebutkan: 87 juta anak terpaksa bekerja setiap hari. Mereka menjadi korban dari struktur sosial dan ekonomi yang tak pernah berhasil menciptakan keadilan. Di tempat-tempat seperti itu, pendidikan sering kali bukan prioritas, karena untuk bisa makan saja sudah perjuangan.
Baca Juga : Dialog Hukum Islam dan Hukum Adat
Masalah pekerja anak bukan sekedar soal anak-anak yang bekerja. Ia adalah refleksi dari sistem yang gagal. Ketika orang tua tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak, ketika biaya sekolah terlalu mahal, ketika tak ada jaminan sosial yang melindungi keluarga miskin—maka anak-anak lah yang harus menanggung beban dunia orang dewasa.
Jalan Keluar Itu Ada, Tapi Dunia Harus Bergerak Lebih Cepat
Laju perubahan memang masih terlalu lambat, tapi itu bukan alasan untuk menyerah. Dunia punya pilihan untuk berbalik arah. Organisasi seperti UNICEF dan ILO terus menyuarakan pentingnya komitmen pemerintah untuk memperkuat perlindungan hukum, menjamin akses pendidikan yang benar-benar gratis dan berkualitas, serta menciptakan lapangan kerja yang layak bagi orang dewasa agar anak-anak tak lagi menjadi alternatif terakhir.
Namun semua itu tidak akan cukup jika kita, sebagai masyarakat global, masih diam. Kita perlu sadar bahwa setiap produk murah yang kita beli mungkin saja menyimpan cerita duka dari tangan-tangan kecil yang membuatnya. Kita juga perlu sadar bahwa selama anak-anak masih bekerja demi bertahan hidup, maka kita belum bisa menyebut dunia ini adil.
Karena seharusnya, seorang anak berusia 10 tahun tidak duduk di belakang mesin jahit, tidak mencangkul di sawah, tidak memikul batu dari tambang. Mereka seharusnya berlarian di lapangan, menggambar matahari dengan krayon, dan memimpikan masa depan yang tak dibatasi oleh kemiskinan.
138 juta anak masih bekerja hari ini. Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semuanya, tapi diam juga bukan pilihan. Dunia harus bergerak. Bukan besok, tapi sekarang.

