Eco-Tahfiz: Menjembatani Pendidikan Islam dan Lingkungan
Riset BudayaTulisan berjudul “The Development of Eco-Tahfiz in Malaysia: Bridging Islamic Education and Environmrntal Sustainability” merupakan karya Abd. Aziz Rekan dan Mohd Istajib Mokhtar. Artikel tersebut terbit di Ulumuna: Journal of of Islamic Studies tahun 2025. Penelitian tersebut berusaha menganalisis perkembangan inisiatuf Eco-Tahfiz dengan fokus terhadap faktor utama, tantangan dan prospeknya melalui metodologi kualitatif. Eco-tahfiz di Malaysia memadukan pendidikan Islam dengan lingkungan keberlanjutan, dan menawarkan model pendidikan berbasis agama yang sejalan dengan prioritas nasional dan tujuan pembangunan berkelanjutan global. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, pendidikan agama dan lingkungan hidup. Ketiga, perkembangan Eco-Tahfiz di Malaysia. Keempat, merumuskan dorongan dan strategi rencana aksi Eco-Tahfiz.
Pendahuluan
Lingkungan keberlanjutan merupakan prioritas global yang semakin mendesak, dan pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk nilai-nilai dan perilaku yang diperlukan untuk mengatasi tantangan ekologi. Di Malaysia, inisiatif seperti Sustainable Schools Environmental Award (SSEA) telah secara efektif menumbuhkan kesadaran lingkungan di sekolah-sekolah umum. Terinspirasi oleh pencapaian ini, model Eco-Tahfiz mengintegrasikan pendidikan keberlanjutan ke dalam kurikulum tahfiz tradisional , menawarkan pendekatan khas untuk menyelaraskan hafalan Al-Qur\'an dengan kesadaran ekologis.
Berdasarkan ajaran Islam, model Eco-Tahfiz mewujudkan prinsip-prinsip Al-Qur\'an tentang pengelolaan lingkungan dan keterkaitan semua kehidupan. Prinsip-prinsip ini selaras dengan landasan etika dan spiritual lembaga tahfiz, yang menawarkan kesempatan transformatif untuk menanamkan tanggung jawab lingkungan di kalangan siswa. Dengan menggabungkan praktik keberlanjutan praktis, seperti pengurangan limbah, pemanfaatan energi terbarukan, dan penanaman pohon, model ini mendorong siswa untuk mengembangkan kebiasaan yang mencerminkan kewajiban spiritual dan tanggung jawab lingkungan mereka. Selain itu, Eco-Tahfiz mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih luas dalam pengelolaan lingkungan. Melalui lokakarya, inisiatif, dan kolaborasi kelembagaan, praktik keberlanjutan meluas melampaui ruang kelas, menyebarkan pengaruhnya ke keluarga dan masyarakat setempat. Model ini memperkuat posisi Malaysia sebagai inovator pendidikan, memanfaatkan warisan Islam yang kaya untuk memadukan pembelajaran berbasis agama dengan prinsip keberlanjutan modern. Potensinya untuk menginspirasi inisiatif global serupa memperkuat peran Malaysia dalam memajukan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan
Lebih jauh lagi, meskipun inisiatif pemerintah seperti SSEA telah meningkatkan pendidikan lingkungan, mereka tidak memiliki pendekatan yang disesuaikan untuk lembaga tahfiz . Model Eco-Tahfiz mengatasi kesenjangan ini dan menawarkan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti untuk mengintegrasikan keberlanjutan dalam pendidikan Islam. Dengan menggabungkan teologi Islam, etika lingkungan, dan pendidikan kontemporer, penelitian ini memperkenalkan paradigma keberlanjutan berbasis agama yang membentuk kembali wacana tentang tanggung jawab lingkungan dalam pendidikan agama. Ini berkontribusi pada beasiswa akademis, kerangka kebijakan, dan strategi keterlibatan masyarakat yang dapat diadopsi di tingkat nasional dan internasional, membina generasi pemimpin yang sadar lingkungan dan berlandaskan etika.
Pendidikan Agama dan Lingkungan Hidup
Penerapan pendidikan lingkungan hidup, baik secara formal maupun informal, di dalam dan di luar lembaga pendidikan, sangat penting untuk menumbuhkan pemikiran kritis, pengembangan identitas, dan tanggapan yang dapat ditindaklanjuti terhadap isu-isu lingkungan hidup. Pendekatan integratif ini bertujuan untuk memberikan akses yang sama kepada semua warga negara terhadap pendidikan lingkungan hidup, memastikan tidak ada kesenjangan dalam penyampaiannya.
Aspek penting lain dari pendidikan lingkungan adalah hubungannya dengan kearifan lokal. Pendidikan lingkungan berbasis masyarakat atau tempat sering kali menggabungkan praktik lingkungan berkelanjutan dari masyarakat lokal. Misalnya, masyarakat adat mempraktikkan pencarian makanan berkelanjutan, seperti mendapatkan makanan dari hutan tanpa merusak ekosistem. Di Malaysia, Pusat Pengembangan Kurikulum menekankan mengintegrasikan unsur-unsur budaya lokal yang dikenal oleh siswa ke dalam pendidikan lingkungan. Tradisi budaya ini, yang mempromosikan keberlanjutan lingkungan, merupakan contoh kearifan lokal yang harus dimasukkan ke dalam pembelajaran ilmiah untuk meningkatkan tingkat keterlibatan pendidikan ekologi dan relevan bagi siswa.
Baca Juga : Satu Abad NU: NKRI Yes Khilafah No
Lebih jauh, ajaran agama, seperti yang ada dalam Islam, berkontribusi pada kearifan lokal dengan menumbuhkan rasa tanggung jawab di antara individu sebagai pemelihara lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dalam pendidikan lingkungan tidak hanya berasal dari tradisi budaya yang diwariskan, tetapi juga dari prinsip-prinsip agama yang mengilhami praktik masyarakat menuju praktik lingkungan yang berkelanjutan. Pendekatan yang kohesif ini memastikan bahwa pendidikan lingkungan membahas tujuan keberlanjutan universal dan konteks budaya dan agama setempat.
Perkembangan Eco-Tahfiz di Malaysia
Program Eco-Tahfiz merupakan inisiatif inovatif yang menggabungkan hafalan Al-Qur\'an dengan keberlanjutan lingkungan, sehingga menciptakan model inovatif untuk pendidikan terpadu. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan generasi huffaz yang mahir dalam membaca Al-Qur\'an dan sangat menyadari tanggung jawab ekologis mereka. Dengan menekankan prinsip-prinsip Islam seperti pengelolaan (khalifah) dan amanah (amanah) atas bumi, Program Eco Tahfiz menumbuhkan rasa tanggung jawab lingkungan pada siswa.
Pertama, dukungan pemerintah dan kelembagaan. Pertumbuhan pendidikan tahfiz yang luar biasa di Malaysia didukung oleh upaya pemerintah dan kelembagaan yang kuat. Pemerintah Malaysia telah menunjukkan komitmen yang teguh dengan menetapkan kebijakan dan struktur untuk meningkatkan pendidikan tahfiz di seluruh negeri. Badan-badan seperti JAKIM (Departemen Pengembangan Islam Malaysia) dan organisasi tingkat negara bagian, termasuk MAIN (Dewan Agama Islam Negara Bagian) dan JAIN (Departemen Agama Islam Negara Bagian), memainkan peran penting dalam mengelola dan mempromosikan pendidikan tahfiz. Upaya JAKIM untuk menstandardisasi kurikulum dan memberikan pelatihan guru yang komprehensif memastikan bahwa pendidikan tahfiz selaras dengan tujuan dan prioritas nasional. Di tingkat negara bagian, MAIN dan JAIN berfokus pada administrasi lokal, mengawasi pendaftaran, pemantauan, dan tata kelola lembaga tahfiz untuk menangani masalah khusus masyarakat.
Perkembangan signifikan dalam kerangka ini adalah munculnya Eco-Tahfiz, yang digadang-gadang sebagai model untuk menggabungkan hafalan Al-Qur\'an dan nilai-nilai Islam dengan pengelolaan lingkungan. Didukung oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lembaga, inisiatif Eco-Tahfiz menekankan praktik-praktik ramah lingkungan seperti efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, dan penggunaan energi terbarukan. Praktik-praktik ini tertanam dalam operasi harian sekolah tahfiz, yang menumbuhkan lingkungan pendidikan holistik di mana siswa dididik untuk menjadi khalifah (pengelola) bumi, sebagaimana dianut dalam ajaran Islam. Kepemimpinan JAKIM dalam desain kurikulum memastikan bahwa prinsip prinsip ini terintegrasi dengan lancar ke dalam silabus tahfiz, yang memposisikan Eco Tahfiz sebagai pendorong utama pembangunan berkelanjutan dalam pendidikan Islam.
Kedua, integrasi pendidikan Islam dan lingkungan hidup. Mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup ke dalam sistem pendidikan Islam Malaysia merupakan pendorong utama Program Eco Tahfiz. Undang-Undang Pendidikan 1996 (Undang-Undang 550) mengamanatkan Pendidikan Islam sebagai mata pelajaran inti bagi siswa Muslim, yang menciptakan peluang untuk memasukkan prinsip-prinsip lingkungan hidup ke dalam kerangka ini. Selain itu, pendidikan lingkungan hidup didukung sebagai Elemen Lintas Kurikulum (CCE), yang memastikan nilai-nilainya tertanam di berbagai disiplin ilmu. Penyelarasan ini memberikan landasan yang kuat bagi Program Eco-Tahfiz untuk mencontohkan pendekatan holistik terhadap pendidikan, yang menggabungkan bimbingan spiritual dengan kesadaran ekologis.
Program Eco-Tahfiz berfungsi sebagai pendorong kedua pendidikan berkelanjutan dengan memadukan ajaran Islam dengan pengetahuan lingkungan yang praktis. Siswa diajarkan pentingnya moral dan spiritual keberlanjutan dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur\'an dan hadis yang menekankan perlindungan ciptaan Allah. Pemahaman ini diperkuat dengan pelajaran tentang isu-isu lingkungan kontemporer, seperti penggundulan hutan, perubahan iklim, dan polusi, yang memberikan perspektif ganda yang memadukan iman dengan sains. Dengan menghubungkan aspek-aspek ini, program ini membina siswa yang memandang pelestarian ekologi sebagai hal yang penting bagi iman dan tanggung jawab pribadi mereka. Selain menumbuhkan kesadaran, Program Eco-Tahfiz menekankan pembelajaran berdasarkan pengalaman untuk memperkuat integrasi pendidikan Islam dan lingkungan. Sekolah-sekolah dalam program ini mengadopsi praktik-praktik seperti pertanian permakultur, pemanenan air hujan, dan penciptaan ruang hijau sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari mereka. Inisiatif-inisiatif ini memungkinkan siswa untuk terlibat dalam praktik-praktik berkelanjutan secara aktif, mengubah pengetahuan teoritis menjadi solusi yang dapat ditindaklanjuti. Pendekatan langsung ini memastikan bahwa siswa mengembangkan keterampilan praktis sambil menumbuhkan komitmen seumur hidup terhadap pengelolaan lingkungan, yang berakar kuat dalam nilai-nilai Islam.
Baca Juga : Budaya Pamali dalam Tinjauan Teori Konstruksi Sosial
Ketiga, pengaruh budaya dan agama. Eko-teologi menekankan peran agama dalam membentuk interaksi manusia dengan lingkungan. Dengan mengambil ajaran Al-Qur\'an dan tradisi kenabian, eko teologi menyoroti keberlanjutan, konservasi, dan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab sebagai nilai-nilai Islam yang esensial. Para cendekiawan terkemuka telah menekankan bimbingan etika agama dalam menumbuhkan kesadaran dan tindakan terhadap lingkungan. Kearifan lokal juga memainkan peran penting dalam memperkaya pendidikan lingkungan dalam Program Eco-Tahfiz. Tradisi budaya yang berakar pada praktik berkelanjutan melengkapi ajaran Islam, menawarkan perspektif holistik tentang tanggung jawab ekologis. Dengan mengintegrasikan elemen-elemen ini, program ini menumbuhkan hubungan antara siswa dan masyarakat, mempromosikan praktik yang bermakna secara spiritual dan lingkungan.
Merumuskan Dorongan dan Strategi Rencana Aksi Eco-Tahfiz
Menyusun rencana aksi Eco-Tahfiz merupakan langkah penting untuk mewujudkan agenda Eco-Tahfiz secara menyeluruh. Meskipun proyek ini masih dalam tahap awal, efektivitasnya telah dibuktikan melalui penyelarasan dengan misi dan visi Eco-Tahfiz. Salah satu tujuan utama agenda ini adalah menanamkan semangat keberlanjutan dalam diri setiap individu, yang terwujud melalui tindakan dan upaya mereka untuk melestarikan lingkungan. Bagian ini menguraikan dorongan dan strategi mendasar untuk merumuskan dan melaksanakan rencana aksi Eco Tahfiz dengan sukses. Terdapat beberapa prinsip dalam Eco-Tahfiz.
Pertama, prinsip tauhid di mana menjadi prinsip utama keimanan Islam dan mengatur semua aspek kehidupan, termasuk etika lingkungan. Tauhid menandakan bahwa seluruh alam semesta diciptakan, dipelihara, dan dikendalikan oleh Satu Tuhan Yang Maha Esa, yang membentuk hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam. Dalam kerangka ini, umat Islam berkewajiban menjaga keharmonisan dengan ekosistem, dan dengan berbuat demikian, mereka memuliakan Tuhan.
Kedua, prinsip pengelolaan dan perwalian di mana menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, yang bertugas membangun dan melestarikan peradaban sekaligus memuliakan alam. Sebagai pengelola, manusia harus menyeimbangkan kebebasan mereka dengan tanggung jawab etis, karena pelanggaran batas-batas ini melalui keserakahan atau konsumsi berlebihan akan merugikan alam dan kemanusiaan.
Ketiga, prinsip fiqih al-biah (yurispudensi lingkungan Islam) menekankan pelestarian alam sebagai komponen inti etika Islam. Sekolah dapat menerapkan prinsip ini melalui kegiatan Eco-Tahfiz seperti penanaman, penghijauan, dan kepedulian lingkungan, yang tidak hanya meningkatkan taraf hidup tetapi juga sejalan dengan tujuan program.
Keempat, prinsip akhlak di mana landasan moral etika lingkungan dalam Islam menyoroti pentingnya menggunakan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan menghindari eksploitasi, materialisme, dan keserakahan. Ajaran Nabi Muhammad, seperti melarang penghancuran pohon dan tanaman yang tidak perlu selama perang, menggarisbawahi penggunaan sumber daya secara etis. Nilai-nilai Islam seperti qana\'ah (kepuasan), syukur (rasa terima kasih), dan ta\'awun (kerja sama) mendorong praktik-praktik yang berkelanjutan, sementara prinsip ihsan (kasih sayang) menanamkan kesadaran dalam tindakan manusia.
Solusi atau rekomendasi yang bisa dilakukan untuk keberlanjutan konsep Eco-Tahfiz adalah pendekatan terpadu lintas kurikulum dan program ekstrakulikuler. Pendekatan lintas kurikulum terpadu menambah nilai dengan menggabungkan unsur keberlanjutan ke dalam proses pembelajaran. Strategi ini bertujuan untuk menghasilkan siswa yang mampu berpikir berkelanjutan dan siap menghadapi tantangan global. Melalui pembelajaran berbasis proyek dan kegiatan kolaboratif, siswa mengembangkan pemahaman holistik tentang isu lingkungan dan keterkaitannya dengan berbagai aspek kehidupan. Sedangkan, kegiatan ekstrakurikuler melengkapi pembelajaran di kelas dengan menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan pelestarian lingkungan. Kegiatan ini menyeimbangkan pertumbuhan akademis dengan pengembangan kepribadian, menumbuhkan bakat, tanggung jawab, dan kecintaan siswa terhadap lingkungan.
Kesimpulan
Program Eco-Tahfiz merupakan inisiatif inovatif yang memadukan pendidikan agama dengan pengelolaan lingkungan. Program ini menawarkan kesempatan unik bagi siswa untuk memperdalam pemahaman mereka tentang ajaran Islam sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab lingkungan yang mendalam. Pendekatan ganda ini tidak hanya mendukung pertumbuhan moral dan spiritual siswa, tetapi juga sejalan dengan tren pendidikan global yang menekankan keberlanjutan, nilai-nilai etika, dan tanggung jawab sosial. Melalui hafalan Al-Qur\'an dan pelajaran agama, siswa mengembangkan landasan etika yang kuat untuk menumbuhkan individu yang berwawasan luas dan bertanggung jawab secara sosial. Dalam skala global, sistem pendidikan semakin menyadari pentingnya keberlanjutan dan pendidikan lingkungan. Eco-Tahfiz berkontribusi pada gerakan ini dengan mengajarkan siswa untuk menghargai dan melindungi lingkungan, menumbuhkan generasi yang sadar spiritual dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pendekatan ini selaras dengan kerangka pendidikan internasional, seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menganjurkan pendidikan berkualitas.

