Perang Iran-Israel, Amerika dan Terorisme Baru
OpiniAda dampak atas perang Israel versus Iran, keterlibatan Amerika dan munculnya terorisme baru. Keterlibatan Amerika Serikat atas perang Iran dan Israel dengan menyerang pusat pengembangan nuklir di Iran, yaitu akan memunculkan semangat anti Israel dan Amerika yang semakin membuncah. Jika selama ini gerakan terorisme internasional tampak mati suri, maka dengan perang ini akan memberikan nyawa baru bagi gerakan terorisme internasional.
Keberanian Iran untuk menantang arogansi Israel dan Amerika tentu akan memberikan suntikan semangat baru atas kaum teroris yang selama ini cenderung diam. Keberhasilan Iran untuk memporakporandakan pertahanan Israel, Iron Dome, tentu membangkitkan semangat bahwa tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Terbukti bahwa Israel yang selama ini dipersepsikan sebagai negara yang kuat pertahanannya dan ketiadaan senjata dari negara lain untuk menjebolnya, ternyata hancur oleh rudal-rudal Iran yang merupakan hasil rekayasa sendiri.
Bisa dibayangkan bagaimana tingginya semangat pembela Palestina yang selama ini nyaris tidak berkutik dalam melawan kekejaman Israel atas bangsa Palestina. Perkembangan perang di Israel tentu selalu diikutinya. Dan “kemenangan” Iran atas Israel dan tindakan Amerika untuk melakukan gencatan senjata merupakan capaian terbaik atas upaya negara Islam untuk melawan rezim negara terror yang memang pantas disematkan kepada Israel. Kini Israel nyaris tidak berkutik setelah kekuatan superpowernya dilucuti oleh Iran.
Jika kita cermati, terorisme selalu hadir di tengah ketidakadilan. Serangan Amerika atas Iran dan juga serangan Israel atas Iran merupakan ketidakadilan politik yang menyeruak ke permukaan dan dapat menyebabkan anti Israel dan anti Amerika yang sangat kental. Orang-orang yang tergabung di dalam aliansi-aliansi sayap kanan di berbagai negara akan melakukan tindakan untuk melawan kepongahan Amerika dan Israel dengan caranya sendiri. Selama ini ada di antara mereka yang melakukannya secara sendiri atau lonely wolf. Mereka secara sendirian atau berkelompok merakit bom dengan bahan-bahan peledak yang diraciknya dan kemudian ada yang siap menjadi pengantin bom bunuh diri.
Sama dengan saat mereka melihat ketidakadilan di Afghanistan, maka mereka berbondong-bondong untuk membantu Afghanistan dari cengkeraman Rusia. Dan akhirnya dengan kekuatan yang mereka miliki yang dibantu oleh dunia internasional akhirnya Kabul ditinggalkan oleh tentara Rusia. Ini memang berbeda, namun tentu ada kesamaan dalam memandang ketidakadilan social dan politik yang dialami oleh Palestina maupun Iran. Situasi politik internasional seperti ini yang menjadi pengungkit atas munculnya tindakan terorisme.
Banyak analisis media yang menyatakan bahwa serangan Amerika kepada Iran sudah diinformasikan terlebih dahulu, sehingga sehari sebelum serangan tersebut terjadi, maka Iran sudah memindahkan bahan-bahan produksi nuklir ke tempat lain. Di saat dilakukan pengeboman, maka sudah tidak didapatkan kerusakan yang parah dan juga kebakaran yang dahsyat. Bahan produksi nuklir sudah tidak ada lagi di tiga kota dimaksud. Bahkan juga hasil analisis tim internasional, bahwa di bekas reruntuhan di tiga kota tidak menunjukkan adanya radiasi sebagai akibat nuklir. Fixed dinyatakan bahwa Iran tidak sedang mengembangkan persenjataan nuklir.
Bagi kelompok ekstrimis, Amerika dan Israel sama saja. Kala mereka terdesak akan meminta gencatan senjata akan tetapi di kala kekuatannya full power, maka mereka akan kembali melakukan tindakan melawan keadilan. Kaum radikalis tentu tidak mudah percaya atas tindakan Amerika dan Israel dalam kebaikan. Hanya di luarnya atau surface structure saja mereka ingin melakukan perdamaian, akan tetapi di dalam atau deep structure semuanya bisa terjadi. Kebohongan social dan politik itu dilakukan oleh Amerika, Israel dan sekutu-sekutunya. Contoh paling sederhana akan kebohongan Israel adalah dengan mendirikan pusat persenjataan yang di atasnya dibangun rumah sakit. Dan baru sekarang semuanya terkuak dengan jelas.
Di setiap negara terdapat kelompok militant-eksklusif. Mereka bisa masuk di dalam parlemen dan ada yang berada di luar parlemen. Ada yang masuk di birokrasi bahkan berada di Angkatan Bersenjata. Mereka berada di dalam satu komando. Artinya meskipun mereka berada di mana-mana akan tetapi visinya sama. Lawan Israel dan lawan Amerika dan sekutu-sekutunya.
Secara teoretik, bahwa terorisme dipengaruhi oleh factor-faktor social, seperti ketidakadilan, kemiskinan dan diskriminasi. Di Timur Tengah, khususnya Palestina sungguh terdapat keadilan yang terpasung. Mereka didiskriminasi secara social dan politik, mereka diperlakukan tidak adil oleh negara-negara adidaya, dan tentu akses makanan dan minuman yang tidak terpenuhi karena jaringan pasokan bahan-bahan makanan dan minuman yang diblokade. Bahkan sekarang terdapat gerakan lintas negara dan agama untuk melakukan pembukaan blokade atas donasi ke Palestina. Global March to Gaza dengan misi menghentikan genosida atas bangsa Palestina dan membuka blokade bantuan ke Gaza.
Kebencian atas ketidakadilan dan diskriminasi yang dilakukan oleh Israel, Amerika dan sekutunya itulah yang dapat menjadi pemicu atas berbagai tindakan terror yang akan mengedepan. Keterlibatan Amerika secara langsung dalam konflik berdarah di Timur Tengah yang berpadu dengan factor social dan politik akan menumbuhkan tindakan terror yang semakin kuat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

