QS. Al-Baqarah [2]:286 dan Beban Ambisi
Daras TafsirOleh M. Sa'ad Alfanny
Dalam hiruk-pikuk zaman yang memuja produktivitas dan pencapaian, tak sedikit dari generasi muda, khususnya Gen Z, yang terjebak dalam perlombaan tanpa ujung. Target yang ditetapkan terus-menerus, standar yang dibebankan dari hari ke hari, seolah-olah keberhargaan diri bergantung pada seberapa banyak pencapaian yang dikoleksi. Dalam konteks inilah, QS. Al-Baqarah [2]:286 tampil bukan hanya sebagai penutup ayat-ayat hukum dan kisah dalam surat tersebut, tetapi juga sebagai penenang jiwa yang sedang dilanda beban berlebih dari ambisi pribadi maupun tekanan sosial.
Ayat ini berbunyi:
“Allah tidak mendudukkan seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah [2]:286)
Kata kunci dari ayat ini adalah “yu kallifu” yang berasal dari akar kata klf (ف-ل-ك). Dalam al-Mu'jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Qur'ān, akar kata ini hanya muncul dalam bentuk turunan terkait beban (taklif) dalam beberapa ayat. Secara etimologis, taklīf berarti pembebanan tugas, tetapi dalam makna Qur'ani ia sarat dengan aspek proporsionalitas beban yang diberikan sesuai kapasitas.
Para mufasir seperti al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb menegaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kelembutan Allah (luṭf) terhadap hamba-Nya. Bahwa syariat Islam, meski mengandung perintah dan larangan, tidak pernah bersifat memberatkan secara mutlak. Didalamnya maqāṣid al-syarī'ah dan prinsip raf\'u al-ḥaraj (menghilangkan kesulitan) mendapat fondasinya. Ambisi dalam batasnya adalah sah, bahkan dianjurkan, tetapi ayat ini memberi garis tegas bahwa ketika ambisi berubah menjadi beban yang melampaui kemampuan, maka ia menjadi bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip pendapat sahabat Nabi, bahwa ayat ini diturunkan sebagai jawaban atas kekhawatiran kaum Muslim terhadap beban spiritual yang terasa berat seperti kewajiban menjaga niat hati. Lalu Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui keterbatasan manusia. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya aktivitas lahiriah, tetapi juga beban batiniah yang diperhitungkan oleh Allah dalam menilai kapasitas.
Lebih lanjut, Tafsir al-Jalalayn menyebutkan bahwa frasa \"illa wus\'aha\" (إِلَّا وُسْعَهَا) berarti “kemampuan maksimal” yang tidak memaksa seseorang melakukan hal di luar kekuasaan. Dengan kata lain, Islam membolehkan ambisi, tetapi bukan ambisi yang membakar dan menghanguskan diri sendiri. Maka, dalam konteks Gen Z yang hidup dalam tekanan budaya “always on” dan pembuktian diri melalui media sosial, ayat ini hadir sebagai nasihat spiritual: bahwa diri tidak perlu dibakar demi validasi, dan bahwa Allah telah menetapkan batas yang adil antara harapan dan kapasitas.
Dalam Tafsir al-Maḥalli, disampaikan pula bahwa bagian akhir ayat ini adalah doa yang sangat manusiawi:
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang tidak mampu kami memikulnya…”
Doa ini menandakan bahwa bahkan dalam puncak iman sekalipun, manusia boleh mengakui kelemahannya dan memohon keringanan. Berbeda dengan budaya modern yang sering kali menormalisasi kelelahan seolah-olah itu adalah harga yang sukses. Padahal, menurut al-Qur'an, keberhasilan itu bukan hanya tentang capaian, tetapi tentang keseimbangan antara niat, usaha, dan kemampuan yang ril.
Melalui QS. Al-Baqarah [2]:286, al-Qur\'an tidak menyalakan semangat ambisi, namun mengarahkan ambisi itu agar selaras dengan fitrah manusia: terbatas, rentan, dan tetap mulia. Di zaman ketika banyak jiwa muda mengejar terlalu jauh hingga lupa diri, ayat ini menjadi panggilan lembut: bahwa Allah tak menuntut kita menjadi lebih dari manusia, dan bahwa menjadi manusia yang sadar batasnya adalah bentuk paling utuh dari kekuatan itu sendiri.

