(Sumber : PP Modern Nurussalam)

Menata Ulang Pesantren dalam Moderasi Islam

Riset Budaya

Artikel berjudul “Beyond The Sacred Walls: Reimagining Pesantren’s Architecture of Islamic Moderation” merupakan karya Ubaidillah dan Muhammad Fauzinudin Faiz. Tulisan tersebut terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2025. Penelitian tersebut mengkaji transformasi epistemologis pesantren tradisional dalam menumbuhkan moderasi Islam dalam masyarakat Indonesia kontemporer. Melalui pendekatan kualitatif yang menggabungkan analisis fenomenologis dan hermeneutis kritis, penelitian ini menyelidiki bagaimana pesantren menata kembali peran pendidikan dan sosialnya di luar batas konvensional. Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, landasan sejarah pesantren: penjaga tradisi dan budaya moderasi. Ketiga, pesantren dan dorongan relevansi modern. Keempat, menjembatani tradisi dan modernitas. Kelima, membayangkan kembali masa depan: peran pesantren dalam membentuk masyarakat Islam moderat. 

  

Pendahuluan

  

Pesantren sudah lama menjadi landasan lanskap keagamaan dan pendidikan di Indonesia. Sebagai lembaga yang berakar pada tradisi, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pembelajaran Islam, tetapi juga sebagai “inkubator” moral, nilai-nilai sosial dan etika. Evolusi historis pesantren mencerminkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika masyarakat yang terus berubah, sehingga memungkinkan untuk tetap relevan selama berabad abad.  Saat ini, pesantren menghadapi tantangan ganda yaitu melestarikan warisan agama sambil menanggapi tuntutan kontemporer akan inklusivitas, moderasi, dan keterlibatan global. 

  

Secara historis, pesantren telah dikaitkan dengan penyebaran Ahl al Sunnah wa al-Jama\'ah (Aswaja), sebuah kerangka teologis yang menekankan moderasi, toleransi, dan koeksistensi. Nilai-nilai ini telah mendukung filosofi pendidikan pesantren, yang berusaha untuk menanamkan pertumbuhan spiritual dan intelektual pada siswanya. Namun, meningkatnya tekanan globalisasi dan munculnya ideologi eksklusif telah mengharuskan adanya penataan ulang peran mereka. Kebutuhan akan pesantren untuk menavigasi medan yang kompleks ini tidak pernah lebih mendesak. 

  

Tantangan yang mendesak bagi pesantren adalah semakin besarnya pengaruh ideologi radikal, yang mengancam peran mereka sebagai benteng moderasi. Kelompok radikal seperti Jamaah Islamiyah dan Hizbut Tahrir Indonesia menjadi ancaman bagi pesantren dengan menyasar para mahasiswa dan alumni melalui platform daring, literatur ideologis, dan kelompok studi agama informal. Meskipun kelompok-kelompok ini beroperasi di luar struktur pesantren formal, mereka memanfaatkan kesenjangan dalam literasi digital dan pemahaman agama untuk menyebarluaskan interpretasi eksklusif Islam, yang bertujuan untuk mendelegitimasi lembaga moderat. Namun, pesantren memiliki kemampuan unik untuk melawan narasi-narasi ini melalui pendekatan holistik mereka, yang mengintegrasikan pengembangan spiritual, intelektual, dan sosial. Kapasitas ini menempatkan pesantren sebagai pemain kunci dalam mempromosikan toleransi dan pluralisme dalam masyarakat Indonesia yang beragam.

  

Landasan Sejarah Pesantren: Penjaga Tradisi dan Budaya Moderasi

  

Pesantren, sebagai salah satu lembaga pendidikan yang paling lestari di Indonesia, telah memainkan peran penting dalam membentuk jati diri Islam bangsa ini.20 Muncul sejak abad ke-15, pesantren didirikan untuk melestarikan ajaran Islam sekaligus memenuhi kebutuhan sosial budaya masyarakat setempat. Perkembangannya sejalan dengan penyebaran Islam di nusantara, memadukan doktrin Islam dengan tradisi adat untuk mengembangkan bentuk pendidikan agama khas Indonesia. Sintesis nilai-nilai lokal dan Islam ini mendukung peran pesantren yang lestari sebagai penjaga moderasi dan tradisi.

   

Meskipun pendidikan pesantren secara tradisional dikenal dengan ketergantungannya pada hafalan dan transmisi teks-teks klasik (taqlid), beberapa lembaga telah mengembangkan strategi pedagogis yang mendorong keterlibatan kritis dengan kitab kuning. Misalnya, pesantren seperti Nurul Jadid (Probolinggo) dan Al-Kamal (Blitar) menggabungkan sesi bahsul masail terstruktur, yang mendorong siswa untuk menganalisis isu-isu kontemporer melalui lensa yurisprudensi klasik. Sesi-sesi ini bukan sekadar latihan tekstual tetapi melibatkan penalaran dialektis, kritik sejawat, dan interpretasi kontekstual—praktik yang menumbuhkan pemikiran analitis dalam kerangka tradisional. Dengan demikian, meskipun pembelajaran berbasis hafalan masih lazim, pedagogi yang muncul ini menunjukkan upaya yang berkembang untuk mensintesis tradisi dengan ketelitian intelektual.


Baca Juga : Down to Earth: Generasi Milenial, Ketahanan Pangan dan Indonesia Emas 2045

  

Struktur komunal pesantren semakin memperkuat peran mereka sebagai pusat moderasi. Para santri tinggal bersama di asrama, menumbuhkan rasa persaudaraan yang melampaui batas. Tata kehidupan ini, dipadukan dengan bimbingan kiai , menciptakan lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai seperti saling menghormati dan empati. Praktik-praktik seperti itu merupakan contoh kontribusi pesantren terhadap kohesi sosial dan kemampuan mereka untuk menghasilkan pemimpin yang mewujudkan nilai-nilai ini. 

  

Sepanjang sejarah, pesantren telah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi tekanan eksternal. Selama era kolonial, mereka menolak upaya untuk meminggirkan sistem pendidikan pribumi. Pada periode pasca-kemerdekaan, pesantren memperluas kurikulumnya dengan memasukkan mata pelajaran modern, sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat yang berubah dengan cepat. Perkembangan ini menggarisbawahi kemampuan mereka untuk menyeimbangkan tradisi dengan inovasi, memastikan bahwa mereka tetap relevan sambil mempertahankan nilai-nilai inti mereka. Keselarasan pesantren dengan prinsip-prinsip Aswaja juga menempatkan mereka sebagai kekuatan penangkal radikalisme. Tidak seperti ideologi ekstremis yang mempromosikan eksklusivisme dan perpecahan, pesantren menganjurkan jalan tengah yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi harmoni sosial. Dengan menekankan dialog dan pemahaman, pesantren telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap reputasi Indonesia sebagai model Islam moderat.

   

Fondasi historis pesantren sangat terkait erat dengan misi mereka untuk mempromosikan moderasi dan melestarikan tradisi. Melalui komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip Aswaja, kemampuan beradaptasi mereka, dan peran mereka sebagai pusat komunitas, pesantren telah menjadi sangat penting bagi tatanan sosial-keagamaan Indonesia. Relevansi mereka yang abadi berfungsi sebagai bukti nilai-nilai dasar dan kemampuan mereka untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang tanpa mengorbankan misi inti mereka. Warisan sejarah ini menempatkan pesantren sebagai pelaku penting dalam membina identitas Islam yang moderat, inklusif, dan harmonis di Indonesia.

   

Pesantren dan Dorongan Relevansi Modern

  

Evolusi pesantren di Indonesia menunjukkan kemampuan luar biasa mereka untuk beradaptasi dengan perubahan lanskap sosial-politik sambil tetap berakar pada tradisi Islam mereka. Namun, tekanan globalisasi, meningkatnya radikalisme, dan tuntutan inovasi pendidikan telah menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi pesantren. Mengatasi tantangan ini tidak hanya membutuhkan pelestarian identitas historis mereka tetapi juga menata kembali peran mereka dalam membina masyarakat yang moderat dan inklusif.

  

Salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi pesantren adalah globalisasi, yang telah menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Di satu sisi, globalisasi menawarkan akses ke pengetahuan modern, kemajuan teknologi, dan interaksi lintas budaya. Di sisi lain, globalisasi memaparkan para santri pada ideologi dan praktik eksternal yang mungkin bertentangan dengan ajaran Islam tradisional. Menyeimbangkan pengaruh pengaruh ini sambil mempertahankan nilai-nilai inti telah menjadi perhatian penting bagi para pemimpin pesantren. Meskipun pesantren sering dipuji sebagai benteng moderasi agama, penting untuk menyadari bahwa hubungan mereka dengan radikalisme tidaklah monolitik. Penelitian dan laporan pemerintah telah mengungkapkan bahwa sejumlah kecil pesantren di Indonesia telah dikaitkan dengan jaringan Salafi-Jihadi atau telah menyebarkan ideologi eksklusif dengan kedok Islam.

  

Radikalisme, yang dipicu oleh ideologi-ideologi ekstremis, menimbulkan tantangan signifikan lainnya bagi pesantren. Meskipun pesantren secara historis berfungsi sebagai benteng moderasi, penyebaran narasi radikal di ruang daring dan luring telah menempatkan para siswanya pada risiko indoktrinasi. Kelompok kelompok radikal sering kali menargetkan pikiran-pikiran muda dengan memanfaatkan kesenjangan dalam pendidikan agama, menekankan interpretasi-interpretasi eksklusif Islam yang bertentangan dengan komitmen pesantren terhadap inklusivitas dan toleransi. Cara  untuk melawan radikalisme, pesantren harus memperkuat kurikulum dan pedagogi mereka untuk menekankan prinsip-prinsip wasatiyyah (kesederhanaan), rahmatan lil alamin (rahmat bagi semua makhluk), dan tasamuh (toleransi). Program pendidikan yang menanamkan pemikiran kritis dan mempromosikan dialog antaragama sangat penting. Upaya-upaya ini tidak hanya melindungi siswa dari pengaruh radikal tetapi juga memberdayakan mereka untuk menjadi duta moderasi di dalam komunitas mereka. 

   


Baca Juga : Meneliti Terapi Spiritual Kaum Tarekat: Abdul Basid Jadi Doktor

Menjembatani Tradisi dan Modernitas

  

Salah satu strategi yang paling menonjol untuk menjembatani tradisi dan modernitas di pesantren adalah modernisasi kurikulum mereka. Secara historis berfokus pada teks-teks Islam klasik seperti Kitab Kuning, banyak pesantren telah memperluas silabus mereka untuk mencakup mata pelajaran seperti sains, teknologi, dan bahasa asing. Integrasi disiplin ilmu modern ini memungkinkan para lulusan pesantren untuk memberikan kontribusi pada berbagai bidang di luar bidang keilmuan agama, sehingga menghasilkan generasi santri yang tangguh secara spiritual dan kompeten secara profesional. 

  

Dimensi penting lain dari modernisasi kurikulum adalah dimasukkannya pemikiran kritis dan keterampilan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran. Secara tradisional, hafalan merupakan metode yang paling umum digunakan. ciri khas pendidikan pesantren. Meskipun metode ini memastikan keterlibatan mendalam dengan teks-teks klasik, metode ini sering kali tidak menekankan aplikasi analitis dan praktis. Pesantren modern telah beralih ke pedagogi interaktif, yang mendorong siswa untuk mempertanyakan, menganalisis, dan menerapkan prinsip-prinsip Islam pada isu-isu kontemporer seperti keberlanjutan lingkungan, hak asasi manusia, dan etika teknologi. 

  

Integrasi teknologi juga menjadi landasan strategi inovatif pesantren. Kini, perangkat digital digunakan untuk memfasilitasi pengajaran dan pembelajaran, dengan platform daring yang menyediakan akses ke berbagai sumber daya global. Beberapa pesantren telah mengadopsi platform pembelajaran elektronik, yang memungkinkan siswa untuk terlibat dengan konten pendidikan di luar kelas fisik. Pendekatan ini tidak hanya memperluas wawasan mereka, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembelajaran selama gangguan, seperti yang terlihat selama pandemi Covid-19. 

  

Inisiatif keterlibatan masyarakat adalah bidang lain di mana pesantren telah melakukan inovasi yang signifikan. Program-program ini berfungsi sebagai jembatan antara pesantren dan masyarakat yang lebih luas. Misalnya, pesantren sering menyelenggarakan kegiatan amal, kampanye kesehatan, dan upaya bantuan bencana, memposisikan diri sebagai pusat komunitas penting yang menjawab kebutuhan masyarakat. 

  

Pelatihan kejuruan merupakan pendekatan inovatif lain yang digunakan oleh pesantren untuk mempersiapkan santrinya menghadapi tantangan dunia nyata. Banyak pesantren kini menawarkan pelatihan keterampilan di bidang-bidang seperti pertanian, kewirausahaan, dan teknologi informasi. Program-program ini sejalan dengan filosofi pendidikan holistik pesantren, yang menekankan bukan hanya pertumbuhan intelektual tetapi juga kemandirian praktis dan ekonomi. 

  

Selain itu, pesantren secara aktif telah membina dialog antaragama dan antarkomunitas sebagai bagian dari upaya keterlibatan masyarakat mereka. Prakarsa-prakarsa semacam itu menyoroti komitmen mereka terhadap moderasi dan inklusivitas Islam. Melalui penyelenggaraan lokakarya, seminar, dan program pertukaran budaya, pesantren menciptakan ruang untuk saling pengertian dan kolaborasi antara berbagai kelompok, yang melawan narasi eksklusivitas dan radikalisme. 

  

Integrasi seni dan budaya ke dalam kegiatan pesantren merupakan strategi lain yang menjembatani kesenjangan antara tradisi dan modernitas. Banyak pesantren yang mendorong para santrinya untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk seni Islam seperti kaligrafi, nasyid, dan pertunjukan teater. Terakhir, kemitraan strategis pesantren dengan organisasi eksternal, termasuk badan pemerintah, LSM, dan lembaga pendidikan internasional, menunjukkan keterbukaan mereka terhadap kolaborasi. Kemitraan ini memfasilitasi pembagian sumber daya, pengembangan kapasitas, dan pemaparan terhadap praktik terbaik global. Melalui kolaborasi semacam itu, pesantren tidak hanya memperkuat kapasitas kelembagaannya tetapi juga berkontribusi pada tujuan pendidikan dan sosial yang lebih luas. 

  

Membayangkan Kembali Masa Depan: Peran Pesantren dalam Membentuk Masyarakat Islam Moderat

  

Sementara pesantren beradaptasi dan berinovasi, mereka harus tetap berakar pada identitas unik mereka. Nilai-nilai Aswaja, yang menekankan keseimbangan, toleransi, dan inklusivitas, memberikan landasan yang kuat bagi pesantren untuk terlibat dengan modernitas tanpa kehilangan esensinya. Dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini, pesantren dapat mempertahankan keaslian dan otoritas moralnya. Masa depan pesantren juga bergantung pada kemampuan mereka untuk menarik dan mempertahankan pendidik berbakat. Menawarkan manfaat yang kompetitif, peluang pengembangan profesional, dan lingkungan kerja yang mendukung dapat membantu pesantren mempertahankan standar pengajaran yang tinggi. Fokus pada sumber daya manusia ini memastikan bahwa siswa menerima pendidikan berkualitas yang mencerminkan kearifan tradisional dan wawasan modern. narasi seputar pesantren harus ditata ulang agar menarik bagi generasi muda. Melalui penceritaan, kampanye media sosial, dan penjangkauan masyarakat, pesantren dapat menunjukkan dampak transformatifnya terhadap individu dan masyarakat. Upaya ini dapat membangkitkan kebanggaan dan menarik dukungan dari khalayak lokal dan global. 

  

Kesimpulan

  

Studi tersebut ni telah mengeksplorasi peran transformatif pesantren dalam membentuk masyarakat Islam moderat dalam konteks sosial-keagamaan Indonesia yang pluralistik dan dinamis. Melalui integrasi rekonstruksi epistemologis, inovasi kelembagaan, dan keterlibatan sosial, pesantren menunjukkan kemampuan beradaptasi mereka terhadap tuntutan modernitas sambil mempertahankan kesetiaan pada tradisi Islam. Temuan tersebut menegaskan bahwa pesantren tidak hanya melestarikan nilai-nilai inti agama tetapi juga menumbuhkan pandangan dunia yang inklusif melalui pedagogi kritis, etika lingkungan, dialog antaragama, dan inisiatif sipil. Upaya-upaya ini memposisikan pesantren sebagai lembaga strategis untuk melawan ideologi radikal dan mempromosikan kerukunan di antara berbagai kelompok sosial dan agama.