Dosen dan Upaya Citasi Karya Akademik
OpiniAkhir-akhir ini saya termasuk sering untuk melakukan checking terhadap peringkat dosen di dalam pemeringkatan yang dilakukan oleh AD Scientific Rank, terutama dalam ilmu sosial. Tentu karena saya berada di dalamnya. Sebagai seorang dosen yang berkecimpung di dalam proses transformasi ilmu pengatahuan ilmu sosial, maka menjadi relevan jika saya mengamati perubahan rangking dosen di bidang ilmu social. Perubahan itu terasa sangat cepat. Artinya bahwa citasi atas karya ilmiah tersebut terjadi dengan sangat cepat seirama dengan kecenderungan untuk menulis karya akademik dewasa ini.
Untuk saat ini, program rumah publikasi dirasa sangat penting akan tetapi harus dibarengi dengan upaya untuk mencitasi karya-karya ilmiah dimaksud. Gerakan menulis, buku atau artikel, harus dibarengi dengan upaya untuk mengangkat citasi karya tulis dimaksud. Apalagi yangmendapatkan perhatian dan menjadi sasaran perangkingan di level lokal maupun internasional adalah berapa banyak citasi yang diperoleh seorang dosen, berapa jumlah totalnya dan berapa H. Index dan Hi-10 yang didapatkannya.
Memang program rumah publikasi juga harus menjadi perhatian di tengah upaya untuk menambah repository bagi PT. Kekayaan files sangat menentukan atas rangking PT dalam percaturan peringkat internasional. Namun demikian, program citasi PT juga perlu mendapatkan perhatian. Sebagaimana diketahui bahwa AD Scientific Rank juga mendasarkan atas capaian atau peringkat dosen dalam rangking 100 dosen dalam bidang yang relevan. Bisa saja masuk dalam 100 dosen dalam lampiran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
Ada beberapa nama yang sering saya lihat peringkatnya. Misalnya Prof. Dr. Irwan Abdullah, promotor saya pada waktu saya menulis disertasi. Peringkat beliau naik drastis. Pada bulan Maret 2023 menjadi 23, sementara sebelumnya di atas 40. Sementara itu Prof. Imam Suprayoga berada di peringkat 49 dan Prof. Dr. Abdul Mujib berada pada rangking 48, Prof. HM. Atho Mudzhar berada pada peringkat 51.
Saya ingin mengambil contoh tentang rangking saya dalam AD Scientific Rank pada bulan Maret 2023 berada pada urutan 96 di bawah Yudhi Latief dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada peringkat 95. Berdasarkan peringkat institusi, saya berada pada nomor 2, Nasional berada pada peringkat 1638, peringkat Asia pada rangking 78.211 dan dunia pada peringkat 432.737. Nilai Indeks H total 18, enam tahun terakhir 17, enam tahun terakhir/total 0,944. i10 Indeks 28, enam tahun terakhir 21, enam tahun terakhir/total 0,750, kutipan total 2361, enam tahun terakhir 1486, enam tahun terakhir/total 0,629.
Berdasarkan atas release AD Scientific Ranking, maka posisi saya pada tahun Januari 2023 berada di rangking 14 pada 100 dosen ilmu sosial di lampiran kedua, dan sebelumnya pada bulan November 2022 berada pada rangking 99 dari 100 dosen ilmu social pada lampiran pertama. Pada bulan Maret 2023 saya naik lagi pada rangking 96 pada lampiran pertama. Gambaran yang diperoleh bahwa memang terjadi perubahan yang sedemikian cepat terkait dengan citasi pada karya akademis dosen, sehingga juga terjadi lompatan naik drastis dan juga lompatan turun secara drastis. Semua tergantung bagaimana tingkatan citasi yang diperoleh seorang dosen.
Berdasarkan data-data tersebut, maka sungguh dirasakan batapa pentingnya untuk mengembangkan program citasi pada PTKIN dengan memberikan peluang sebesar-besarnya bagi dosen untum menulis baik buku daras atau artikel di jurnal dan kemudian mengembangkan citasinya baik di dalam kalangan internal perguruan tinggi maupun pada perguruan tinggi lainnya. Tanpa upaya untuk mengembangkan citasi secara structural, maka dipastikan bahwa akan terdapat perlambatan dalam peningkatan jumlah citasi yang diperoleh oleh PTKI, khususnya pada dosen.
Sebagaimana yang pernah saya tulis, bahwa berdasarkan pengamatan sementara bahwa yang mendapatkan citasi banyak di kalangan akademisi adalah karya dalam bentuk buku teks atau buku daras. Beberapa dosen yang citasi tinggi ternyata disebabkan oleh penulisan buku daras. Misalnya buku metode penelitian yang memang diperlukan oleh para akademisi dalam menulis karya ilmiah. Prof. Zakiyah Darajad memiliki citasi yang tinggi disebabkan oleh bukunya yang sangat penting yaitu psikologi agama. Demikian pula Prof. Imam Suprayoga yang juga cukup tinggi citasinya karena buku metode penelitian agama. Sedangkan buku saya, Islam Pesisir dicitasi oleh sebanyak 611 orang. Sementara itu Agama Pelacur oleh sebanyak 128 orang, dan buku Madzhab-Madzhab Antroplolgi dicitasi oleh 369 orang. Sedangkan buku-buku lain, seperti Dari Bilik Birokrasi, Perjalanan Etnografis Lima benua, Perjalanan Etnografis Spiritual, Menjaga Harmoni Menuai Damai, Sosiologi Pendidikan Islam Kontemporer, Demi Nusa, Bangsa dan Agama, Islam Nusantara Berkemajuan dan bahkan Tarekat Petani tidak banyak yang mencitasi. Padahal di dalam Google Scholar, jumlah tulisan saya telatif banyak, baik yang berupa buku, artikel maupun tulisan di blog dan nursyamcentre.com.
Belajar dari kenyataan ini, maka sebaiknya dosen menulis buku teks atau buku daras, selain menulis artikel yang ngetren sehingga banyak orang yang meliriknya. Dan ini sungguh kita butuhkan.
Wallahu a’lam bi al shawab.

