(Sumber : Kementerian Komunikasi dan Informatika)

Menghalau Radikalisme di Media Sosial

Khazanah

Oleh: Lukman Hakim 

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam Konsentrasi Komunikasi Islam IAIN Kediri

 

Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi memberikan sumbangan performa peningkatan kuantitas dan kualitas informasi. Semuanya dengan mudah dapat diakses darimanapun, kapanpun, oleh siapapun. Tidak ada lagi batas untuk jarak, ruang dan waku. Berbagai kemudahan tersebut dapat dimaknai sebagai peluang di satu sisi, sementara di sisi lain menjadi tantangan yang perlu segera mendapatkan respon. 

  

Dalam konteks ini, media sosial merupakan sarana paling popular dan diminati banyak kalangan. Konten informasi yang terus diproduksi seakan tidak pernah habis. Arus gelombang informasi yang sedemikian besar. Setiap hari berjuta-juta, milyaran tersedia membanjiri ruang digital. Termasuk konten tentang narasi keagamaan yang semakin subur bak cendana di musim hujan.  

  

Menariknya, narasi keagamaan yang bermuatan radikal dan intoleran termasuk yang paling banyak berseliweran, Bahkan hingga detik ini masih menyebar secara massif di media sosial. Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Per 3 April 2021 pihaknya sudah mengidentifikasi dan memblokir sebanyak 20.543 konten terindikasi radikal di media sosial Instagram, Twitter, Youtube, Telegram, Facebook, situs sharing dan web. 

  

Temuan Kementerian Kominfo mempertegas Survei Wahid Institute pada 2020 yang menggambarkan bahwa sikap intoleransi di Indonesia cenderung meningkat dari 46% hingga sekarang menjadi 54%. Kecenderungan meningkat ini di pengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya kontestasi politik, ceramah yang bermuatan ujaran kebencian, dan unggahan bermuatan ujaran kebencian di media sosial. Kecenderungan meningkatnya radikalisme dan intoleransi berakibat kepada tindakan merusak atau berdampak kepada kelompok lainnya di tengah kehidupan bermasyarakat. 

  

Data tersebut menunjukkan bahwa di Indonesia tren radikalisme yang mengarah pada terorisme meningkat dari waktu ke waktu. Di antara faktor yang berdampak besar dari meningkatnya radikalisme dan terorisme adalah konten di media sosial. Kemudahan dan kecepatan akses yang ditawarkan media sosial menjadi ruang gerak yang bebas bagi para radikalis melakukan doktrinasi pada generasi muda. 

  

Kaum Muda 

  


Baca Juga : Ritual Haji yang Dirindukan

Ketika berselancar di media sosial, algoritma mengantarkan pada Channel Youtube Deddy Corbuzier dengan konten populernya Podcast Close The Door. Di Tumbnail ada dua narasumber. Keduanya mantan narapidana terorisme (Napiter). Pepi Fernando dan Hendro Fernando. Meski namanya sama, mereka bukan dari satu keluarga. Pepi divonis 18 tahun, sedangkan Hendro 6 tahun 2 bulan. 

  

Pepi adalah aktor bom buku yang ditujukan ke Ahmad Dhani, Japto Suryo Sumarno, Ulil Abhsar Abhdalla dan Komjen Goris Mere. Ia juga hendak melakukan pengeboman terhadap rombongan Presiden SBY. Paling membahayakan adalah rencana aksinya untuk melakukan pengeboman di Puspitek, Serpong, Tangerang. Lokasi tersebut dipilih karena terdapat reaktor nuklir yang jika meledak akan menimbulkan ledak super dahsyat.

  

Dari seluruh penuturannya dalam podcast, yang paling mengejutkan adalah pengakuan tentang kemampuannya merakit bom.

“Saya liat youtube untuk membuat bom”

Sementara Hendro merupakan aktor Bom Thamrin. Pengatur dana untuk salah satu organisasi teroris terbesar di Indonesia yaitu Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang ada di Poso, Sulawesi Tengah. Bahkan ia juga fasilitator pendanaan bagi WNI yang hendak pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. 

  

Penulis terhenyak begitu Podcast memasuki menit 46.30. Hendro mengaku pertama kali bersentuhan dan menjadi radikal justru dari media sosial. 

  

“Saya dulu kena awalnya ya dari media sosial. Bahan (konten), semuanya tersedia di media sosial. Dengan melihat, membaca dan menonton bisa langsung jadi (radikal). Dan updatenya luar biasa, 24 jam (realtime). Imbauan untuk anak muda ketika ingin berubah (hijrah) perlu lebih hati-hati lagi belajar di media sosial”.

  

Ahmad Fuad dalam tulisannnya berjudul “Fenomena Radikalisme di Kalangan Kaum Muda” di Jurnal Maarif menyebut radikalisme dan generasi muda merupakan sesuatu yang sangat berdekatan. Kaum muda yang sedang dalam proses pencarian jati diri dan identitas menjadi sasaran yang paling strategis untuk memperkuat gerakan radikal. Sebuah pemahaman yang  menginginkan perubahan secara total dan revolusioner dengan mengubah nilai yang ada secara drastis melalui tindakan ekstrim dan kekerasan. 

  

Badan Intelejen Negara (BIN) memberikan beberapa ciri dari radikalisme yaitu pertama fanatik, menganggap diri sendiri selalu benar dan orang lain salah). Kedua, intoleran yaitu kurang menghargai pendapat serta keyakinan orang lain. Ketiga, revolusioner menginginkan perubahan cepat dengan cara kekerasan dalam mencapai tujuan. Keempat, eksklusif, membedakan dan memisahkan diri dari kaum Muslimin pada umumnya.


Baca Juga : Kiat Menghadapi Era Digitalisasi Bagi Anak Dan Ortu

  

Kaum muda yang terlihat kalem, soleh, sopan dalam kesehariannya, tetapi tiba-tiba berubah menjadi kasar dan memaki-maki ketika berkomunikasi di media sosial. Hal ini disebabkan karena kaum muda terpapar konten radikal yang disebarkan melalui media sosial. Identifikasi dari Wahid Foundation, hal tersebut disebabkan cepatnya pertumbuhan teknologi inovasi dan media sosial yang masif tetapi tidak diiringi dengan kemampuan analisis dan menyaring konten-konten yang dilihat.

  

Sebab lain adalah masa transisi krisis identitas generasi muda berpotensi untuk mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikro-sosiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti itu yang menyebabkan mereka sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok radikal. 

  

Kelompok radikal menyadari problem psikologis generasi muda. Kelompok teroris memang mengincar mereka yang selalu merasa tidak puas, mudah marah dan frustasi baik terhadap kondisi sosial maupun pemerintahan. Mereka juga telah menyediakan kebutuhan terkait ajaran pembenaran, solusi dan strategi meraih perubahan, dan rasa kepemilikan. Kelompok radikal juga menyediakan lingkungan, fasilitas dan perlengkapan bagi remaja yang menginginkan kegagahan dan melancarkan agenda kekerasannya.

  

Temuan Suhardi Alius, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Periode 2016-2020 mendapatkan relevansi dan pembenaran bahwa kelompok-kelompok radikal mempunyai keahlian dalam memasukkan konten berupa propaganda-propaganda yang berhasil untuk memikat, menarik, dan mempengaruhi kaum muda yang mayoritas pengguna internet dan media sosial. 

  

Media sosial dimanfaatkan untuk melakukan perekrutan, mempengaruhi, mengumpulkan, serta mengajak kaum muda untuk ikut bergabung dalam kelompok radikal. Bahkan berdasarkan pendalaman yang dilakukan BNPT, beberapa pelaku teror melakukan aksinya setelah mendapatkan informasi dari internet dan media sosial. 

  

Dakwah Pesantren

  

Problem radikalisme dan terorisme memang cukup rumit dan kompleks. Namun di antara yang menjadi kegelisahan adalah masih minimnya sosok publik figur yang cukup kuat di media sosial terutama dari institusi pendidikan agama otoritatif seperti Pesantren. Selama ini, pesantren dikenal sebagai kawah candradimuka, tempat melahirkan banyak santri dan ulama yang bukan saja memiliki paham keagamaan inklusif namun juga mampu menjadikan ajaran agama sebagai pondasi membangun kerukunan.

  

Pesantren sebagai lembaga otoritatif selama ini diikuti dan dipatuhi anjurannya oleh umat Islam. Meski harus diakui, ada pergeseran yang cukup besar setelah gelombang masifnya penggunaan media sosial. Akibatnya, preferensi dan pencarian sumber pengetahuan keagamaan perlahan beralih ke media sosial. Melihat fenomena demikian, kalangan pesantren sangat ditunggu perannya untuk tampil di tengah arus besar hegemoni wacana agama yang cenderung radikal di media sosial. 

  

Survei Poltracking tahun 2022 tentang pendakwah paling populer misalnya. Dari kalangan Pesantren muncul nama Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Gus Mus, Pengasuh Pesantren Pondok Pesantren Tahfidzul Quran LP3IA Rembang, Gus Baha dam Pengasuh Pesantren Ora Aji Sleman Yogyakarta, Gus Miftah. Tentu tiga nama tersebut masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pesantren di Indonesia yang berdasarkan data Kementerian Agama (Kemenag) hingga April 2022 sebanyak 26.975 unit. 

  

Dalam konteks ini, Gus Mus dalam sebuah kesempatan Sarasehan Nasional memberi nasehat bernada kelakar. Jika dulu ada pepatah “Sing Waras Ngalah”, maka saat ini sudah eranya “Sing Waras Ojok Ngalah”. Kalimat tersebut sarat pesan ajakan untuk ambil bagian dan mulai meramaikan media sosial dengan narasi-narasi moderat. 

  

Meski belakangan di media sosial setidaknya dalam kurun waktu 10 tahun ini, dalam amatan penulis sudah mulai muncul pendakwah pesantren. Misalnya Gus Muwaffiq, Gus Nadirsyah Hosen, Kiai Anwar Zahid, Gus Ulil, Gus Kaustar, Gus Romzi Ahmad, Lora Ismael al Kholilie dan Lora Husain Basyaiban. Lalu juga ada Ning Sheila Hasina dan Ning Imaz. 

  

Mungkin masih ada yang terlewat dari data pendakwah pesantren yang penulis sebut di atas. Tapi mempertimbangkan beragam cara dan jumlah konten propaganda radikal di media sosial maka pendakwah dari Pesantren masih belum cukup. Media sosial ibarat ruang luas, tak terbatas. Semakin banyak pendakwah yang memproduksi konten maka dapat mengimbangi atau setidaknya memberikan alternatif kepada kaum muda untuk mendapatkan konten agama yang lebih ramah. 

  

Dunia dakwah sudah banyak berubah, media sosial benar-benar mengubah lanskap. Dakwah yang semula hanya dilakukan di ruang-ruang publik seperti rumah ibadah, kini bertransformasi dalam bentuk digital melalui ruang maya. Berharap sekali ada lebih banyak lagi Kiai, Bu Nyai, Gus/Lora, Ning dan Santri yang mau hadir di media sosial, baik akun yang dikelola secara mandiri maupun dikelola tim publikasi. 

  

Tentu tugas saya, anda dan kita semua sama. Mulai sekarang, mari aktifkan dan isi media sosial masing-masing dengan narasi agama yang menyejukkan. Tapi jika belum mampu melakukan, setidaknya mendukung dakwah Kiai, Bu Nyai, Gus/Lora, Ning dan Santri dengan like, comment, share dan subsribe. Tidak berat, hanya dengan satu dua klik yang dilakukan bersama-sama, sudah bisa mengubah algoritma media sosial.