Penelitian Sosiologi Teks
Kelas SosiologiKebanyakan pendapat menyatakan bahwa kajian sosiologi hanya dapat dilakukan dengan subyek kajian atau obyek kajian yang berupa masyarakat atau individu. Maka pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, kualitatif atau mixed method. Jika yang dikaji adalah individu, maka menggunakan pendekatan kualitatif, dan jika yang dikaji adalah masyarakat dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Jika bergerak di antara dua pendekatan tersebut, maka dapat digunakan metode penelitian campuran atau mixed method. Bisa menggunakan penelitian kualitatif dulu baru kemudian kuantitatif atau sebaliknya.
Namun demikian, bisa juga yang dikaji secara sosiologis adalah teks atau konsep dan pemikiran yang terdapat di dalam suatu teks dan dilihat atau berperspektif sosiologis. Di dalam hal ini, maka penelitian sosiologi atas teks bisa dinyatakan sebagai penelitian tentang pemikiran sosiologis yang merupakan bagian dari filsafat sosial. Jadi yang dikaji adalah pemikiran, pandangan, konsep atau proposisi yang terdapat di dalam sebuah teks dan kemudian didekati dengan pendekatan sosiologis.
Secara teknis, maka penelitian dapat dilakukan dengan langkah sebaga berikut: pertama, temukan karya seseorang, baik berupa buku, laporan penelitian, karya jurnal, atau teks-teks suci atau teks-teks di masa lalu yang terkenal atau memiliki keunikan lalu dijadikan sebagai teks yang akan dikaji. Kedua, carilah di dalam teks tersebut, pemikiran, pandangan atau konsep yang memiliki relasi atau keterkaitan dengan dimensi sosiologis, misalnya penggolongan sosial, stratifikasi sosial, gender, kesetaraan, kerukunan, keharmonisan, keadilan, konflik sosial, struktur sosial, agen atau actor dan sebagainya. Jika sudah ditemukan maka pilihlah yang sangat relevan dengan minat kajian dan focus kajian yang akan diteliti lebih jauh.
Ketiga, deskripsikan pandangan, gagasan, ide atau konsep yang terdapat di dalam teks dengan cermat dan hati-hati sesuai dengan apa yang tertulis di dalam teks tersebut. Sama dengan ketika peneliti menuliskan data-data empiris dari penelitian lapangannya. Jelaskan tentang pandangan penulisnya, apa yang dinyatakannya, dan bagaimana menuangkan dalam diksi atau kalimat di dalam teksnya.
Keempat, lakukan analisis dengan cara membandingkan dengan teks-teks lain, baik yang mendukung atau menolaknya. Tempatkan teks tersebut dalam latar historis, konteks sosial, latar belakang penulisnya, kehidupan sosial penulisnya, dan faktor-faktor sosial, politik, keagamaan, ekonomi dan sebagainya yang mempengaruhi terhadap teks dimaksud. Kelima, simpulkan dengan cermat dan memadai.
Sebagai contoh, misalnya karya Ronggowarsito, “Serat Wirid Hidayat Jati”, maka dapat dikaji dengan menggunakan pendekatan sosiologis, misalnya konsep relasi antara manusia dengan Tuhan atau shalat daim (shalat sepanjang hidup), maka akan menghasilkan konsep misalnya “Manunggaling kawulo Gusti” atau konsep “Sufisme Jawa”. Di antara yang pernah melakukan kajian atas teks ini adalah Prof. Dr. Simuh, mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Teks lain yang dikaji adalah “Het Book van Bonang” yang dikaji oleh B.J.O. Shrike, yang menghasilkan konsep “manunggaling Kawulo Gusti” yang merupakan pandangan Sunan Bonang tentang relasi manusia dengan Tuhan. Kajian ini dapat dikategorikan sebagai kajian tasawuf falsafi, yaitu kajian yang mencoba untuk menjelaskan tentang relasi manusia dengan Tuhan dalam coraknya yang sufistik atau pengamalan beragama yang esoterik.
Teks yang juga menarik dikaji oleh Zainul Milal Bizawi tentang Teks Al Muwahhidun. Selama ini ada pandangan bahwa Syekh Mutamakin merupakan ulama yang sesat karena berpandangan tasawuf falsafi. Tetapi dengan buku itu akhirnya dapat dinyatakan bahwa Syekh Mutamakin adalah seorang sunni yang memiliki pengamalan beragama yang esoterik atau tasawuf yang memang memberikan peluang bagi pemeluknya untuk kemenyatuan antara manusia dengan Tuhan melalui ritual yang dibenarkan.
Baca Juga : Jihad Melawan Narkoba
Karya lain yang menarik adalah Agus Sunyoto, “Rahuvana Tatwa” yang menggambarkan peperangan antara Rahwana dan Rama dalam episode Ramayana. Tulisan ini didasarkan atas teks-teks yang membahas tentang episode Ramayana. Dalam pandangan Agus Sunyoto, bahwa Rahuvana melambangkan orang kulit berwarna di India yang berkeyakinan tentang Dewa Syiwa sebagai Dewa Tertinggi, dengan Ramawijaya yang melambangkan Orang India berkulit putih dan menjadikan Dewa Indra sebagai dewa tertingginya. Jadi bukan peperangan antara “Yang Jahat” melawan “Yang Baik” akan tetapi adalah perang yang didasari oleh agama sebagai keyakinannya.
Karya di atas merupakan contoh penelitian teks dalam ragam pendekatan, ada yang historis, filosfis dan religiusitas. Contoh yang bercorak sosiologis, misalnya adalah Teks Gatoloco, yang menggambarkan konflik antara Orang Islam dengan Orang Abangan. Kitab Gatoloco merupakan teks yang ditulis oleh orang Abangan untuk menggambarkan “kebenciannya” terhadap umat Islam yang dianggapnya telah melakukan “perusakan” terhadap keyakinan-keyakinan local, khususnya animisme dan dinamisme. Kaum Abangan merupakan orang yang berkeyakinan atas kemenyatuan antara ajaran Hindu, Buddha dan animisme atau dinamisme. Melalui karya ini dapat dilihat konteks sosial dan religius apa yang mendasari penulisannya.
Teks Babad Tuban, misalnya dapat diteliti tentang konteks sejarah pemerintahan Kabupaten Tuban, pemerintahan Tuban dari Hindu/Buddha ke Islam dan juga konflik-konflik antara bupati di dalamnya. Naskah-naskah kuno terkait dengan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa saya kira bisa dijadikan sebagai kajian berbasis sosiologis. Termasuk Babad Tanah Jawa, juga menggambarkan tentang bagaimana kekuasaan didapat dan bagaimana relasi kekuasaan tersebut terbentuk dan terjadi di tanah Jawa, termasuk bagaimana pandangan orang Jawa tentang relasi antara dunia masa lalu dengan sekarang.
Yang juga bisa dikaji dengan pendekatan sosiologi, misalnya karya saya “Perjalanan Etnografis Spiritual”. Di dalam buku ini saya gambarkan tentang moderasi beragama secara sangat mendalam dalam kunjungan ke Vatican dan juga berbagai pembahasan di dalam seminar atau ceramah di berbagai tempat. Buku ini misalnya dapat dikaji dengan tema “Moderasi beragama dalam Buku Perjalanan Etnografis Spiritual”. Sebagai pembanding misalnya bisa dikaji buku saya tentang “Islam Nusantara Berkemajuan, Tantangan dan Solusi Moderasi agama”, atau buku “Demi Agama, Nusa dan Bangsa” atau “Menjaga Harmoni Menuai Damai”. Karya-karya saya ini membahas tentang banyak hal terkait dengan kerukunan, harmoni dan kesetaraan beragama.
Saya kira bolehlah kita terfokus pada kajian empiris, tetapi kajian teks juga menjadi kekayaan akademis yang sangat menantang. Saya berharap masih ada di di antara akademisi yang tetap memprioritaskan kajian teks untuk melihat relasi antara agama, ekonomi, sosial dan budaya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

