Aku Menulis, Maka Aku Ada
KhazanahProf. Dr. Nur Syam, MSi
Suatu pagi, saya dihubungi melalui HP oleh Fitriana Ayu, reporter Radio Suara Surabaya (SS) untuk diajak ngobrol tentang Kehidupan Sosial Pasca Covid-19. Dan yang unik, saya justru menawarkan diri untuk datang ke Radio SS. Tidak sebagaimana biasa wawancara by phone. Saya tentu enjoy saja datang ke Radio SS di Sukomanunggal, Surabaya. Selesai wawancara lalu saya ditawari oleh Ayu untuk rekaman acara “Titik Nol” Suara Surabaya.
Setelah itu, HP saya kereset tanpa sengaja, sehingga seluruh nomor hilang kecuali yang di WA Group. Dan yang seperti ini juga tidak seluruhnya ada. Makanya, saya tidak bisa menghubungi sahabat saya, kecuali yang nomornya masih bisa dikenali lewat WA Group. Dan yang di situ juga tidak semuanya tertulis namanya, hanya nomornya saja. Kehilangan nomor HP di era sekarang sungguh menyusahkan. Ada hal-hal yang perlu mendapatkan akses segera menjadi tidak tersalurkan. Benar-benar kita sudah tergantung dengan benda gepeng itu.
Sampai suatu ketika, ada pesan masuk dari Dr. Sri Utami, murid saya di Program Doktor Ekonomi Syariah, yang mendengarkan Radio SS, tentang acara “Titik Nol” dan merekamnya. Saya lihat gambarnya dan saya tahu dia yang mengirimkan, dan ditambahi dengan ungkapannya yang menggambarkan rasa hormatnya kepada gurunya. Lalu Cak Rofik juga mengirimkan rekamannya dari Radio SS. Di dalam pesannya melalui WA dinyatakan: “Suaranya yang khas, memastikan ini adalah Prof. Nur Syam”. Seperti biasanya kalau bertemu pasti saling menertawakan.
Saya juga dikirimi pesan oleh Dr. Sirajul Arifin, Dekan FEBI UINSA. Rupanya Pak Siraj sudah mengirimkan “titik Nol” Radio SS tersebut di Instagram. Secara lengkap diinstagramnya dinyatakan: “Aku Menulis, Aku Ada adalah quote inspiratif dari Prof. Nur Syam, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya. Quote ini saya peroleh dari tayangan Radio Suara Surabaya saat perjalanan ke kantor. Semoga dapat menginspirasi kita semua”. Pak Siraj juga menambahkan: “Maaf Prof ijin rekaman ini saya posting di Instagram saya, Prof, biar didengar oleh milenial yang maniak medsos”.
Barulah kemudian, saya membuka ada kiriman video dari yang tidak saya kenal nomornya. Ternyata setelah saya cek adalah kiriman video dari Fitriana Ayu. Di WA itu saya tulis: “ini nomor Ayu ya. Kereset. Wis gak ada blas nomornya. Thanks”. Jawaban Ayu: “MashaAllah. Betul Prof. Nur Syam. Semoga tetap aman data-datanya ya”. Lalu saya kirimkan dua tulisan dari nursyamcentre.com tentang “Perilaku Masyarakat Indonesia Pasca Covid-19” dan “Identitas Kita Harus Bangsa Indonesia”. Lalu Ayu membalasnya “tulisannya sangat enteeeng Prof, di nursyamcentre.com jadi gak malas membacanya”. Tulisan sekarang ini hadir untuk memenuhi permintaan Ayu agar yang hasil rekaman tentang “Titik Nol” Suara Surabaya itu dituliskan. Dan akhirnya saya penuhi.
Menulis merupakan kebiasaan. Siapa yang terus menulis maka kosa kata akan mengalir seirama dengan tema yang sedang dituliskan. Kira-kira sama dengan ahli orator atau ahli ceramah agama, maka semakin banyak media dan frekuensi ceramahnya maka tidak akan sulit untuk mengutarakan maksudnya. Akan muncul sendiri tanpa harus merencanakannya. Menulis bukan sesuatu yang benar-benar bakat atau memiliki talent menulis, tetapi juga persoalan habit. Semakin sering menulis dan menjadi habitual action, maka akan semakin mengalir kata demi kata yang terangkai di dalam kalimat.
Jangan juga berpikir menulis harus dalam suasana hening. Di rumah, di kantor, di café sambil minum kopi atau teh, bisa juga kita menulis. Yang penting ada semangat menulis. Ada orang yang berpikir tidak mood atau tidak keluar idenya, tetapi dengan menjadi habitual action, maka hal itu akan segera teratasi. Jika kita belajar dari para pesohor, seperti Raffie Ahmad, Denny Cagur, Ruben Onsu, dan lainnya, maka mereka menjadi lancar dan mampu mengekspresikan pikirannya dalam kata dan canda karena telah memiliki jam terbang yang sangat tinggi.
Begitu juga seorang penulis, seperti Tere Liye, Asma Nadia, Agus Musthofa, Agus Sunyoto dan Pramudya Ananta Toer adalah karena keseriusan dan kebiasannya di dalam menulis. Khusus Pak Agus Sunyoto (alm) yang menulis buku-buku sejarah imajinatif saya harus menyatakan kekaguman. Bukunya tujuh jilid tentang Syekh Abdul Jalil adalah bukti kehebatannya. Beliau itu mampu menggambarkan suasana dan nuansa zaman yang ditulisnya. Sama dengan kekaguman saya pada Pak Pram yang juga sangat piawai dalam menuliskan zaman dan analisisnya yang mengagumkan. Jika selama ini banyak yang berpikir bahwa Empu Gandring itu seorang pembuat keris saja ternyata oleh Pak Pram dinyatakan sebagai orang yang memiliki pabrik senjata pada masanya.
Tidak ada kata terlambat di dalam menulis. Saya termasuk penulis yang terlambat. Saya baru sadar untuk serius menulis di saat usia sudah berada pada kepala lima, di tahun 2006. Sebelumnya memang sudah menulis buku atau opini di surat kabar, akan tetapi menulis sebagai aktivitas rutin harian pada saat saya sudah menjabat sebagai Pembantu Rektor bidang Administrasi di IAIN Sunan Ampel.
Seperti tulisan ini, maka tulisan inipun hadir pada waktu pagi hari, jam 05.00 WIB sambil menunggu pesawat City Link yang akan membawa saya ke Surabaya pagi itu. Tiba-tiba Dr. Lilik Hamidah (dosen UINSA) dan kemudian Muhammad Siraj (mantan pimpinan PKS Jawa Timur, dan aktivis PMII) datang. Jadi, tulisan ini hadir di Café Tama Java, Coffee and Kitchen Bandara Halim Perdana Kusuma. Sambil nyeruput Latte Macchiato Hot.
Wallahu a’lam bi al shawab.

