Fenomena Hikikomori di Jepang, Mungkinkah Terjadi di Indonesia?
InformasiEva Putriya Hasanah
Hikikomori adalah fenomena sosial yang cukup umum di Jepang. Istilah ini merujuk pada individu yang memilih untuk menarik diri dari interaksi sosial dan mengisolasi diri dalam ruang pribadi mereka untuk jangka waktu yang lama.
Hikikomori berasal dari kata Jepang \"hiku\" yang berarti menarik diri dan \"komoru\" yang berarti mengunci diri. Fenomena ini pertama kali dikenali pada tahun 1990-an dan menjadi perhatian publik karena dampak sosial dan psikologis yang signifikan pada individu dan masyarakat Jepang.
Terdapat beberapa studi yang dilakukan untuk mengukur prevalensi Hikikomori di Jepang. Menurut data yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2016, diperkirakan sekitar 541.000 individu berusia antara 15 hingga 39 tahun mengalami Hikikomori. Namun, angka ini kemungkinan hanya mencakup sebagian kecil dari populasi sebenarnya, karena banyak individu yang terkena Hikikomori tidak terdaftar atau tidak terdeteksi.
Studi lainnya menunjukkan bahwa fenomena Hikikomori lebih umum terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2020, sekitar 77% dari individu yang mengalami Hikikomori adalah laki-laki. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan gender yang signifikan dalam kasus Hikikomori di Jepang.
Faktor Penyebab
Beberapa faktor yang diyakini mempengaruhi kemunculan fenomena Hikikomori adalah tekanan sosial, beban akademik yang berlebihan, perasaan tidak mampu bersaing dalam masyarakat, masalah keluarga, dan isolasi teknologi yang memungkinkan individu untuk terhubung dengan dunia luar tanpa meninggalkan rumah.
Dampak yang Ditimbulkan
Baca Juga : Marbot
Hikikomori dapat memiliki dampak serius pada individu dan masyarakat. Individu yang mengalami Hikikomori sering mengalami depresi, kecemasan, rendahnya harga diri, dan kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang sehat.
Dalam skala yang lebih luas, fenomena ini juga berdampak pada ekonomi dan kehidupan sosial di Jepang. Dampak sosial dan ekonomi dari fenomena Hikikomori, seperti beban finansial bagi keluarga, penurunan produktivitas, dan masalah sosial yang timbul. Misalnya, individu yang mengalami Hikikomori sering kali menghadapi kesulitan dalam menemukan pekerjaan atau menjalin hubungan sosial yang sehat. Hal ini dapat menyebabkan beban ekonomi dan sosial yang lebih besar bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Hikikomori di Indonesia
Fenomena hikikomori, meskipun awalnya berasal dari Jepang, juga bisa ditemukan di beberapa negara lain, termasuk Indonesia. Hikikomori adalah istilah Jepang yang menggambarkan individu yang memilih untuk menarik diri dari interaksi sosial dan mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat.
Beberapa artikel yang saya temukan dalam hasil pencarian serta beberapa realitas sosial yang saya tangkap, menunjukkan bahwa fenomena hikikomori juga melanda anak muda di Indonesia.
Beberapa faktor yang dikaitkan dengan fenomena ini di Indonesia termasuk tekanan sosial, kesulitan beradaptasi dengan tuntutan masyarakat, kegagalan dalam mencapai ekspektasi, dan masalah kesehatan mental. Banyak dari mereka yang terkena dampak hikikomori menghabiskan waktu mereka di dalam rumah, menghindari interaksi sosial dan preferensi untuk berkomunikasi melalui media sosial atau internet.
Penting untuk mencatat bahwa prevalensi hikikomori di Indonesia belum sepenuhnya dipahami dan masih perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena ini di Indonesia. Namun, kesadaran akan masalah ini harus semakin ditingkatkan dan beberapa langkah harus diambil untuk mencegah maupun mengatasi dampak hikikomori di Indonesia.
Dalam rangka mengatasi fenomena ini, pendekatan yang melibatkan dukungan keluarga, pendidikan kesehatan mental, dan peningkatan akses ke perawatan kesehatan mental mungkin diperlukan. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah ini dan mengurangi stigma terhadap individu yang mengalami hikikomori agar mereka dapat mendapatkan bantuan yang diperlukan serta mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif bagi setiap individu.

