(Sumber : nursyamcentre.com)

ANAK SHALEH, ASET TERBAIK KEHIDUPAN

Khazanah

Oleh : Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Anak merupakan produk dari hasil perkawinan yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan melalui ikatan perkawinan yang sesuai dengan ajaran Islam.  Di dalam Islam tentu saja adalah  mereka yang dilahirkan dari hasil perkawinan yang sah sehingga  menjadi standart keberadaan anak yang diharapkan menjadi anak yang shaleh atau shalehah. Saya kira semua orang yang memiliki keyakinan tentang agama dipastikan menginginkan kehadiran anak yang berperilaku shaleh dan shalehah.

 

Berdasarkan konsepsi  di bidang psikhologi, maka didapati beberapa konsep tentang seseorang di dalam kehidupannya. Ada yang menyatakan bahwa seseorang akan sangat tergantung kepada bakatnya atau disebut sebagai teori nativisme. Menjadi baik atau buruk sangat tergantung kepada bakat yang melekat pada seseorang. Ada juga teori empirisme, yang menyatakan bahwa seseorang menjadi baik atau buruk tergantung pada lingkungannya. Jadi,  jika ada orang yang berada di dalam perilakunya: baik atau buruk , maka karena dukungan lingkungan. Baik teori bakat atau teori lingkungan keduanya memperoleh pembenaran. Kemudian, ada yang menggabungkan bahwa dua faktor tersebut, bakat atau lingkungan, keduanya berkontribusi bagi perilaku seseorang.

 

Konsepsi Islam juga membenarkan keduanya. Ada faktor bakat, yang berupa takdir yang bersifat azali, sehingga seseorang sudah mengantongi bakatnya masing-masing menjadi baik atau jahat, menjadi shaleh atau sebaliknya. Tetapi di satu sisi juga ada faktor lingkungan. Jika seseorang  dilahirkan dari keluarga muslim,  maka jadilah muslim dan sebaliknya. Setiap yang yang dilahirkan dalam keadaan suci dan setelah itu tergantung kepada orang tuanya. Jadi Islam menggunakan dua konsep bakat dan lingkungan sekaligus.

 

Anak bagi sebuah keluarga memiliki fungsi sosial, budaya, dan ekonomi. Di dalam fungsi sosial,  maka anak adalah penerus generasi keluarganya, yang akan menyambung relasi sosial dengan keluarga dan masyarakatnya. Dari aspek budaya,  maka anak dapat menjadi penyambung tradisi keluarga dan masyarakat untuk melestarikan berbagai kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat dimaksud. Sedangkan dari perspektif ekonomi,  maka anak juga dapat menjadi sumber ekonomi, misalnya: menjadi pekerja yang hasilnya untuk menutupi kebutuhan keluarga. Anak memiliki dimensionalitas fungsi di dalam kehidupan masyarakat.

 

Anak juga memiliki fungsi "penyelamat" bagi kehidupan orang tuanya. Disebut sebagai penyelamat, sebab anaklah yang akan menyambungkan ketakterputusan pahala orang tuanya meskipun yang bersangkutan telah meninggal. Di dalam Islam didapati suatu konsep yang sangat mendasar tentang fungsi anak dalam menjaga pahala orang tuanya.

 

Sebuah hadits Nabi Muhammad SAW menyatakan: "idza matabnu 'Adama inqata'a 'amaluhu illa min tsalatsin: shadaqatin jariyatin, auw 'ilmin yuntafa'u bihi auw waladin shalihin yad'u lahu". Hadits Riwayat Imam Muslim. Yang artinya kurang lebih: "jika mati anak Adam, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah atau  ilmu yang diambil manfaatnya atau  anak shaleh yang mendoakannya".

 

Allah memberikan kepada kita semua kehidupan yang bahagia yang difasilitasi oleh kehadiran anak. Makanya, pasangan suami istri akan berusaha secara optimal untuk melahirkan keturunannya. Bisa usaha ke dokter spesialis kandungan bahkan juga dengan upaya spiritual lewat doa dan dzikir agar memperoleh keturunan. Tentu ada juga yang tidak dikaruniai kebahagiaan karena anak, tetapi saya yakin Allah SWT pasti akan memberikan kebahagiaan lain, misalnya dengan mengangkat anak yang dididiknya sebagaimana anaknya sendiri.

 

Anak ternyata tidak hanya memberikan kebahagiaan di dunia saja,  akan tetapi juga berterusan ke dunia pasca kehidupan dunia, yaitu di alam barzakh bahkan di alam akhirat. Hadits Nabi Muhammad SAW di atas memberikan gambaran bahwa amalan yang tidak terputus meskipun roh sudah meninggalkan jasad atau di kala roh sudah kembali kepada pemiliknya, Allah SWT, maka pahala anak shaleh akan terus berkelanjutan. Roh manusia di alam barzakh akan terus menerima pahala dari kebaikan perilaku anaknya. Anak yang shaleh pastilah akan terus mendoakan orang tuanya, baik yang sudah meninggal atau yang masih hidup. Betapa bahagianya roh orang tua kita yang sudah meninggal di saat Allah SWT menyampaikan limpahan pahala atas doa atau bacaan dzikir atau bacaan Al Qur'an kepadanya. Di sana akan terdapat cahaya-cahaya yang bersinar memberikan penerangan dan keteduhan bagi roh yang berada di alam kuburnya. Subhanallah.

 

Anak yang shaleh adalah asset yang sangat berharga di dalam kehidupan. Maka pantaslah kalau seseorang  mendidik anak-anaknya   agar menjadi anak yang shaleh dengan pendidikan agama yang sesuai dengan keyakinannya. Tentu adalah Islam yang memberikan kedamaian dan keteduhan bagi siapa saja. Islam yang mengajarkan tentang kebaikan untuk semua manusia, seluruh alam dan isinya.

 

Ya Allah, jadikan anak-anak kita dan keturunan kita menjadi anak yang shaleh dan shalehah dan jadikan mereka sebagai hambamu yang bertabur dengan keberkahan dan kebaikan. Untuk orang tua kita: "al-fatihah".

 

Wallahu a'lam bi al shawab.