Belajarlah pada Stephen Hawking: Civitas Akademika IAI Uluwiyah
KhazanahProf. Dr. Nur Syam, MSi
Salah satu kebanggaan sebagai seorang akademisi, adalah di saat memberikan orasi pada acara Wisuda Sarjana yang diselenggarakan oleh sebuah institusi pendidikan tinggi. Hal inilah yang juga saya rasakan pada saat saya diundang oleh Rektor Institut Agama Islam (IAI) Uluwiyah Mojokerto, yang menyelenggarakan wisuda sarjana pada Hari Sabtu, 16/11/2024 di Padepokan Sinar Putra (PSP) Trawas Mojokerto.
Acara ini dihadiri oleh KH. Zainul Ibad pendiri Pondok Pesantren Uluwiyah dan juga IAI Uluwiyah, Rektor Dr. Nining Khurrotul Aini, S. Pd, ST, MSi, Para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, dosen, yang mewakili PJ. Bupati Mojokerto, Forkomincam, Tokoh NU Kabupaten Mojokerto, dan juga Sekretaris Kopertais Wilayah IV, Dr. Hasan Ubaidillah, MAg., dan seluruh wisudawan dan keluarganya.
Ada beberapa catatan dari acara wisuda ini, antara lain: pertama, sebagaimana diungkapkan oleh Rektor IAI Uluwiyah, bahwa perguruan tinggi ini terus berbenah, utamanya terkait dengan pengembangan kelembagaan. Di antara yang sudah diusulkan adalah pendirian Program Pascasarjana yang sudah dilakukan asesmen lapangan, kiranya tinggal menunggu kapan selesainya Surat Keputusan dari Kementerian Agama. Kemudian juga upaya untuk mengubah status dari institut menjadi universitas. Semua kelengkapan sudah dipenuhi dan juga sedang menunggu untuk mendapatkan status menjadi universitas.
Para dosen dan mahasiswa juga banyak yang terlibat di dalam berbagai kompetisi nasional baik yang diselenggarakan oleh Kemenag, misalnya hibah Litapdimas, dan juga mahasiswa terlibat di dalam berbagai ajang kompetisi di tingkat regional maupun nasional. Pondok Pesantren Uluwiyah yang di dalamnya terdapat IAI Uluwiyah juga menjadi targeted institution untuk memberikan makanan bergizi bagi para siswa atau santri di sekitarnya. IAI Uluwiyah juga telah menjadi mitra Pemerintah Daerah Kabupatem Mojokerto di dalam pemberian beasiswa dan kerja sama dengan Kemenag dalam penyaluran program beasiswa dan program bantuan pendidikan berbasis pada Program Indonesia Pintar.
Kedua, saya menyampaikan betapa pentingnya pendidikan tinggi mengadaptasi teknologi informasi. Pada era digital ini, maka perguruan tinggi yang dapat mengadaptasinya pasti dialah pendidikan tinggi yang akan survive. Sebagaimana dinyatakan oleh Clayton Christenson, professor of Harvard Business School, bahwa di Amerika Serikat dalam kurun waktu 10-15 tahun akan terdapat sebanyak 50 persen perguruan tingginya yang akan kolaps disebabkan semakin menguatnya penggunaan IT untuk pendidikan tinggi. Di Amerika Serikat terdapat 5.000 perguruan tinggi dan diperkirakan hanya tinggal 2.500 saja. Maka Perguruan tinggi yang eksis dan survive adalah perguruan tinggi yang menggunakan IT untuk program pendidikannya.
Oleh karena itu, janganlah berpikir bahwa Perguruan Tinggi Uluwiyah berada di kota kecamatan, sebab di era digital ini tidak ada batas antara kota dan desa. Tidak ada batas antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Selama terjangkau oleh internet, maka apapun dapat dilakukan. Dari perguruan tinggi di pedesaan ke perguruan tinggi perkotaan. Semua bisa menjadi perguruan tinggi kelas dunia atau World Class University (WCU), sehingga menjadi perguruan tinggi yang menginternasional.
Kita sekarang sudah memasuki era Internet of Thing (IoT), misalnya system perkuliahan berbasis daring atau di dalam jaringan, banyak di antara perguruan tinggi yang sudah melakukannya. Banyak yang menggunakan system blended learning. Semua ini dilakukan agar perguruan tinggi dapat berkiprah tidak hanya di wilayahnya saja tetapi keluar wilayah, bisa lokal atau regional, bahkan nasional. Sudah ada sistem pembelajaran yang dipandu oleh regulasi terkait dengan hal ini. Perguruan tinggi dapat mengakses dosen yang professional di dalam proses pembelajaran karena system pembelajaran yang fleksibel dan fungsional.
Ketiga, untuk penguatan kelembagaan ke depan, maka harus diupayakan kualitas akreditasi. Terutama akreditasi institusi atau Akreditasi Insitusi Perguruan Tinggi atau AIPT. Jika IAI Uluwiyah telah terakreditasi unggul, maka akan sama statusnya dengan UIN Sunan Ampel, sama dengan Universitas Airlangga dan sebagainya. Bagi kita akreditasi unggul memberikan jaminan bahwa lembaga kita sudah memiliki kesamaan status kelembagaannya.
Untuk ini para pimpinan, dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan harus bekerja keras untuk meraihnya dengan memberikan peluang untuk terus berinovasi. Para dosen harus berkarya dengan artikel, buku dan penelitian yang baik atau banyak menulis opini baik di web Institusi maupun media online atau lainnya. Para mahasiswa juga harus berkarya dengan benar. Jika misalnya menggunakan ukuran skripsi sebagai karya akhir mahasiswa, maka skripsi tersebut juga merupakan karya sendiri sehingga bisa menjadi memori kehidupan. Skripsi yang baik, tesis yang baik, disertasi yang baik adalah memory kehidupan yang luar biasa. Kita harus berpegang pada prinsip “akademisi boleh salah tetapi tidak boleh bohong, politisi boleh bohong tetapi tidak boleh salah”. Temuan akademisi boleh salah sebab ada peluang untuk difalsifikasi atau diverifikasi oleh akademisi lain, tetapi jangan pernah berbohong dengan data pada karya tersebut. Jika politisi bohong bisa, tetapi kalau salah, maka hukum sudah menantinya.
Teruslah berkarya dalam level apapun. Kita harus belajar pada Stephen Hawking, seorang difabel yang semenjak usia 25 tahun sudah mengalami disabilitas, tetapi tetap berkarya. Bayangkan dalam tiga menit hanya dapat satu huruf, akan tetapi dengan kerja kerasnya akhirnya bisa melahirkan teori dalam astronomi yang disebut sebagai teori Black Hole, yang merupakan suatu hipotetis yang menyatakan bahwa dalam suatu waktu jagat raya akan ditelan oleh Black Hole atau Lubang Hitam, yang kira-kira sama dengan kiamat di dalam keyakinan teologis kita.
Pelajaran yang kita ambil dari Hawking adalah jangan berhenti berkarya, apalagi kita dikaruniai kelengkapan penginderaan dan kelengkapan badan yang hebat. Menulislah sebagai bukti bahwa kita ada. Verba volant scripta manent, diungkapkan dengan pernyataan akan hilang ditulis akan abadi.
Wallahu a’lam bi al shawab.

