(Sumber : Orami)

Benarkah Tidur Saat Puasa Itu Ibadah? Yuk, Pahami Maknanya!

Khazanah

Oleh: Ust. Abdul Wasik, M.HI

  

"نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ\"

  

Artinya: Tidurnya orang yang berpuasa adalah badah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.

  

Potongan Hadits yang berbunyi "Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah" sering kali dikutip oleh umat Islam untuk menggambarkan betapa agungnya ibadah puasa di sisi Allah SWT. Namun, penting untuk menelaah hadits ini secara mendalam, baik dari segi sanad (rantai periwayatan) maupun maknanya dalam praktik kehidupan sehari-hari.

  

Status Keshahihan Hadits, Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa ulama, namun kebanyakan ahli hadits mengategorikannya sebagai hadits dha\'if (lemah). Beberapa ulama yang menilai hadits ini sebagai dha'if adalah: Imam Al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman, Imam Al-Iraqi dalam Takhrij Ihya' Ulumuddin dan Imam Al-Munawi dalam Faidh al-Qadir. Namun, meskipun hadits ini lemah, maknanya tidak sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Islam.

  

Makna Hadits Secara Umum. Secara substansi, hadits ini mengandung pesan bahwa orang yang berpuasa berada dalam kondisi ibadah sepanjang hari, baik saat aktif maupun saat beristirahat. Hal ini karena puasa itu sendiri merupakan ibadah yang terus berlangsung selama seseorang menahan diri dari makan, minum, dan segala ibadah puasa lainnya.

  

Konsep Ibadah dalam Islam. Ibadah dalam Islam tidak hanya terbatas pada shalat, puasa, atau membaca Al-Qur'an. Segala aktivitas yang dilakukan dengan niat yang baik dan sesuai dengan syariat dapat bernilai ibadah, termasuk istirahat dan tidur jika diniatkan untuk menyegarkan tubuh guna beribadah lebih baik.

  

Tidur yang Bernilai Ibadah. Tidur bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik, seperti: Agar tubuh lebih segar untuk shalat dan ibadah lainnya, Agar terhindar dari maksiat dan perkataan sia-sia dan Agar dapat melanjutkan aktivitas kebaikan setelah bangun tidur. 


Baca Juga : Pentingnya "Emotional Well Being" Menghadapi Gelombang Pandemi Kedua

  

Sebagai perbandingan dengan Hadits Shahih, Meskipun hadits ini dha\'if, ada hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa seluruh aktivitas orang berpuasa bisa bernilai ibadah, seperti sabda Rasulullah: \"Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh harap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.\" (HR. Bukhari dan Muslim)

  

Kesalahpahaman dalam Memahami Hadits

  

Sebagian orang memahami hadits ini secara keliru dengan menganggap bahwa tidur sepanjang hari di bulan Ramadhan adalah ibadah tanpa perlu melakukan amalan lainnya. Pemahaman ini tidak tepat karena Islam tetap mengajarkan umatnya untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur\'an, shalat sunnah, dan berdzikir.

  

Keseimbangan antara Ibadah dan Istirahat. Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Tidur memang diperlukan untuk menjaga kesehatan, namun tidak boleh berlebihan sehingga melalaikan kewajiban ibadah lainnya. Rasulullah SAW sendiri membagi waktu antara ibadah, istirahat, dan aktivitas duniawi.

  

Perbandingan dengan Tidur di Luar Ramadhan. Tidur seorang Muslim di luar Ramadhan tidak otomatis bernilai ibadah kecuali jika diniatkan untuk kebaikan. Oleh karena itu, nilai ibadah dalam tidur sangat bergantung pada niat dan tujuan seseorang. Beberapa ulama tetap menggunakan hadits ini untuk memberikan motivasi kepada orang-orang yang berpuasa agar tidak merasa terbebani dengan keletihan akibat puasa. Namun, mereka juga menekankan bahwa ibadah yang aktif lebih utama daripada sekadar tidur.

  

Tidur yang Berkahi dalam Islam. Rasulullah SAW memberikan petunjuk tentang tidur yang baik, seperti: Tidur di awal malam dan bangun di lingkaran malam terakhir untuk shalat tahajud, Tidur dalam keadaan berwudhu dan Menghindari tidur berlebihan yang menyebabkan kemalasan. 

  

Dampak Tidur yang Lebih Besar. Jika tidur dilakukan secara berlebihan hingga meninggalkan kewajiban seperti shalat fardhu atau tadarus Al-Qur\'an, maka itu tidak bisa disebut sebagai ibadah. Justru, tidur yang berlebihan bisa mendatangkan kemalasan dan mengurangi pahala puasa.

  


Baca Juga : Umat Masa Depan: Menyeimbangkan State and Civil Society (Bagian Sepuluh)

Kaitan dengan Konsep Ihsan dalam Ibadah. Dalam Islam, ibadah yang terbaik adalah yang dilakukan dengan kesungguhan dan ihsan. Seorang Muslim hendaknya berusaha mengisi waktu di bulan Ramadhan dengan berbagai amal saleh, bukan hanya dengan tidur.

  

Keutamaan Aktivitas Saat Berpuasa. Beberapa aktivitas yang lebih dianjurkan dibandingkan tidur berlebihan saat berpuasa antara lain: Membaca Al-Qur\'an dan memahami maknanya, Bersedekah dan membantu sesama, Berzikir dan berdoa dan Menghadiri majelis ilmu. 

  

Tidur Siang (Qailulah) dalam Islam. Dalam Islam, ada anjuran untuk tidur sebentar di siang hari (qailulah) karena memiliki manfaat bagi kesehatan dan membantu bangun malam untuk tahajud. Namun, tidur qailulah bukan alasan untuk bermalas-malasan sepanjang hari.

  

Dibandingkan dengan Tradisi Tidur dalam Islam. Beberapa sahabat dan ulama terdahulu juga memanfaatkan waktu istirahat mereka secara optimal. Imam Syafi\'i, misalnya, hanya tidur sebentar di malam hari karena banyak menghabiskan waktu untuk menulis dan beribadah.

  

Hadits Dha'if Boleh Diamalkan dalam Motivasi. Sebagian ulama membolehkan penggunaan hadits dha'if untuk motivasi ibadah selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang sahih. Dalam konteks ini, hadits “Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah” dapat dimaknai sebagai dorongan agar orang yang berpuasa tetap semangat dalam beribadahnya.

  

Meskipun hadits ini dha'if, maknanya dapat dimaknai secara positif bahwa orang yang berpuasa berada dalam kondisi ibadah sepanjang hari. Namun, tidak dapat dijadikan alasan untuk bermalas-malasan dan meninggalkan ibadah lain yang lebih utama. Puasa adalah ibadah yang agung dan harus dijalani dengan kesungguhan. Tidur yang bernilai ibadah adalah tidur yang dilakukan dengan niat yang baik, tidak berlebihan, dan tetap menjaga keseimbangan dengan ibadah lainnya. Oleh karena itu, di bulan Ramadhan, umat Islam hendaknya memperbanyak amal saleh dan tidak hanya sebuah mengandalkan tidur sebagai ibadah utama.