(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Gugur Gunung Untuk Makam Keramat

Khazanah

Di tengah semakin menguatnya tradisi ekonomi yang berselaras dengan uang sebagai alat tukar, maka istilah gugur gunung atau kerja bakti di wilayah Jawa Timur, atau sambatan di wilayah Jawa Tengah juga mengalami degradasi. Istilah ini pernah menjadi tradisi bagi masyarakat Nusantara, yang mengindikasikan kehidupan untuk saling tolong menolong dan saling membantu. Misalnya, yang terkait dengan kepentingan bersama, misalnya acara kebersihan desa, membuat rumah, acara pengantenan (perkawinan atau pernikahan) dan acara khitanan. Semua ini dilakukan dengan saling membantu yang disebut dengan konsepsi gugur gunung, kerja bhakti, sambatan atau yang lebih popular disebut sebagai gotong royong. 

  

Sebagai akibat modernisasi, maka konsep-konsep ini pun secara lambat tergusur, dan digantikan dengan sistem pengupahan kerja. Misalnya untuk kerja di sawah, membuat rumah, acara pernikahan dan lainnya selalu dinilai dengan uang. Makanya, uang menggantikan sistem kebersamaan di masa lalu, dan menggusur tradisi-tradisi agung yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Sekarang jarang dijumpai kerja sama dalam bentuk gugur gunung atau kerja bhakti atau sambatan. Orang lebih suka menilai pekerjaan bukan dari kerja sama tetapi pengupahan secara individual.

  

Namun tradisi ini tentu tidak punah, ternyata masih ada ruang bagi kebersamaan dimaksud terutama pada masyarakat desa. Beberapa hari yang lalu, saya melakukan penelitian di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban dalam kerangka untuk melacak jejak dakwah para waliyullah (penyebar Islam) di wilayah Merakurak, Tuban. Bertepatan saat itu sedang terjadi kegiatan merehab makam Kiai Shaleh Kelapa Telu. Dilakukan pembenahan di sekitar makam Kyai Shaleh, dengan memasang marmer di area sekitar makam. 

   

Acara ini diprakarsai oleh Pak Rukin, juru kunci makam Kiai Shaleh, dengan mengikutsertakan para tukang dan masyarakat di Desa Kapu. Jumlahnya kira-kira 40-an orang. Terdiri dari anak-anak muda, dan orang-orang dewasa. Bahkan juga terdapat beberapa perempuan yang terlibat di sini. Ada yang melakukan perekaman kegiatan dan ada juga yang menjaga buku tamu di makam Kiai Shaleh. Kegiatan ini dilakukan murni karena inisiatif warga agar makam Kiai Shaleh semakin baik. Menurut Pak Rukin, bahwa: “Sekarang banyak orang yang berziarah ke makam ini, sehingga diperlukan kenyamanan ketika melakukan ziarah”. 

  

Desa Kapu diperkenalkan dengan nama “Bumi Al Fatihah”, memang memiliki makam Auliya, khususnya yang dikenal dengan Kiai Kelapa Telu. Makam ini dibangun dengan murni swadaya masyarakat. Ada yang menyumbang uang, semen, pasir, kayu dan lainnya. Semuanya merupakan swadaya masyarakat. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memperoleh pahala dari Allah SWT melalui upaya menghormati para penyebar Islam. Pak Rukin menyatakan: “Masyarakat di sini ikhlas menyumbang untuk pembangunan makam dengan tujuan untuk nguri-nguri atau mengingat-ingat jasa wali yang menyebarkan Islam. Selain itu tentu untuk berzikir kepada Allah SWT semoga selalu dalam kebaikan”. Beliau menegaskan bahwa “Dengan berziarah ke makam maka kita mengingat akan kematian yang akan datang kapanpun”. 

  

Gugur gunung atau kerja bakti memang dilakukan khususnya yang mengandung makna keberkahan. Jika bekerja untuk pekerjaan di sawah, ladang, bahkan bersih desa itu nuansanya lebih profan atau duniawi, maka pada acara-acara yang terkait dengan dunia sacral atau bermakna kesucian, maka masyarakat masih dengan tulus dan ikhlas melakukannya. Mereka bekerja dengan tanpa upah dan yang diharapkan adalah balasan dari Allah SWT yang berupa pahala. Saya menjadi teringat dengan ungkapan “matematika supra rasional” yang dikemukakan oleh Pujo Semedi (UGM)  ketika memberikan pengantar pada buku saya “Islam Pesisir” (LKiS, 2005). Dinyatakannya bahwa cara berpikir ini terjadi bahwa ketika sumber daya di dunia tidak didapatkan, maka orang akan mengembalikan bahwa di akhirat dipastikan akan mendapatkan balasan. Ketika seseorang melakukan kerja bakti atau gugur gunung membangun makam para wali, maka yang tergambar di dalam benaknya, bahwa pasti Allah SWT akan membalasnya kelak di akhirat. 

  

Membangun masjid pun sudah dinilai dengan sistem upah kecuali dalam beberapa bagian yang memang diperlukan kerja bakti. Namun dalam membangun makam wali, maka masyarakat menyadari sepenuhnya bahwa hal ini adalah kerja ibadah. Dengan membangun makam para auliya maka diyakini akan memperoleh berkah dari Allah SWT. Kata “barakah” (Bahasa Arab) yang di dalam lidah Jawa disebut “berkah” atau “berkat” merupakan kata kunci tindakan yang memiliki keterkaitan dengan dunia sacral. Di sini terdapat “mistifikasi” atau sesuatu yang bersifat fisikal tetapi mengandung makna kegaiban atau kesakralan. Kerja bakti atau gugur gunung adalah bercorak fisik, akan tetapi bisa mengandung dunia kegaiban, sebab yang dikerjakan memang memiliki dimensi sakralitas yang diyakini. 

  

Saya bersyukur masih bisa menemui  kegiatan gugur gunung atau kerja bakti di Makam Kiai Shaleh. Yang bekerja bakti  bersemangat, yang mendorong juga bersemangat dan yang memberikan sumbangan juga bersemangat. Waktu ada kerja bakti ini, saya juga melihat terdapat makanan atau jajanan,  minuman kopi dan teh. Pak Rukin menyatakan: “Semua ini bantuan masyarakat”. Siang hari mereka mendapatkan asupan gizi berupa makanan khas Tuban, misalnya mangut, kare, dan asem-asem ikan laut. Dan yang penting, setelah saya mengunjungi sumur Kyai Shaleh, maka  saya diminta berkunjung di rumah Pak Rukin, dan akhirnya makanan kare pedas khas Tuban pun saya rasakan. Terima kasih Pak Rukin. Usaha-usaha ini semoga mendapatkan ridha Allah SWT.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.