(Sumber : Pikiran Rakyat)

Guru Imam Syafi'i Tidak Dapat Membaca dan Menulis

Khazanah

Oleh: Iklil Nafisah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya

  

“Kalau membaca dan menulis saja tidak bisa, mengapa bisa menjadi guru Imam Syafi’i? Sedang Imam Syafi’i merupakan pendiri madzhab sunni Syafi’i serta ilmuan muslim yang masyhur dalam bidang fikih dan hadits.\" Mungkin pertanyaan ini yang muncul di benak pembaca setelah melihat tema yang tertera diatas. Terkesan mustahil memang, tetapi pada realitanya seorang ilmuan muslim yang masyhur ini memang memiliki guru yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) namun senantiasa mendidik dan membimbing Imam Syafi’i.

  

Sayyidah Nafisah binti Hasan namanya. Lahir dari pasangan Hasan bin Zaid dan Ummu Walad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 145 H di Makkah. Sayyidah Nafisah merupakan seorang perempuan istimewa yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) namun berhasil memiliki murid sehebat Imam Syafi’i serta mampu menghatamkan al-Qur’an sebanyak 12 ribu kali dan melaksanakan ibadah haji sebanyak 17 kali semasa hidupnya. Sayyidah Nafisah masih termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW.   

  

Sayyidah Nafisah merupakan salah satu ulama perempuan yang masyhur sebagai ilmuan terkemuka. Beliau juga terkenal sebagai ahli ibadah (abid), taat beragama, zuhud dan berbudi pekerti luhur sehingga beliau mendapat julukan “Nafisah al-‘ilm wa karamah ad-darain” yang berarti Nafisah sang ulama perempuan dan perempuan yang mulia di dunia dan akhirat. Bahkan masyarakat mengkategorikannya sebagai seorang wali perempuan. Beberapa sifat Sayyidah Nafisah yakni Taqiyyah, Shalihah, \'Alimah bi al-Tafsir wa al-Hadits, sehingga ia memiliki gelar Nafisah al-Darain, Nafisah al-Thahirah, Nafisah al-\'Abidah, Nafisah al-Mishriyyah, dan Nafisatul Mishriyyin. 

  

Sayyidah Nafisah tinggal di Madinah bersama orang tuanya dan selalu menjalani hari-harinya dengan berpuasa sunnah pada siang hari dan menghidupkan malam dengan dzikir serta tadarus al-Qur’an. Pada siang hari beliau tidak pernah makan kecuali pada tiga hari tasyrik dan dua hari raya. Selama 40 tahun Sayyidah Nafisah tidak pernah tidur malam karena kekhawatiran atas nasibnya di akhirat kelak. Sayyidah Nafisah seringkali membaca al-Qur’an sampai menangis karena beliau hafal dan memahami tafsiran ayat, sehingga beliau dapat menjiwai atau meresapi makna yang terkandung dalam setiap ayat al-Qur’an.

  

Pada umur 15 tahun (193 H), Sayyidah Nafisah menikah dengan Ishaq al-Mu\'tasim bin Imam Ja’far as-Siddiq dan dari pernikahannya ini melahirkan 2 anak yakni Qosim dan Ummu Kultsum. Sayyidah Nafisah terkenal sebagai sosok yang taat dan selalu mematuhi perintah suami serta melayani suaminya dengan sebaik-baiknya.

  

Tahun 193 H Sayyidah Nafisah dan suaminya pergi ke Baitul maqdis untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim as (kakek moyangnya), kemudian dilanjutkan dengan menginjakkan kaki di Mesir. Kabar ini sampai kepada masyarakat Mesir dan Sayyidah Nafisah mendapat sambutan hangat. Banyak masyarakat yang meminta Sayyidah Nafisah untuk menetap di negara ini karena masyarakat percaya akan karomah Sayyidah Nafisah dan masyarakat menyukai mau’idzoh hasanah Sayyidah Nafisah. Akhirnya Sayyidah Nafisah pun memutuskan untuk tinggal, tepatnya di rumah milik seorang pedagang besar bernama Jamaluddin bin Abdullah Jashshash. Setiap hari banyak masyarakat yang datang menemui Sayyidah Nafisah untuk berkonsultasi, meminta nasihat, mendengar ilmu dan ada juga yang meminta berkah guna kesembuhan orang yang sakit. Bahkan sampai ada yang menginap di luar rumahnya hanya untuk menunggu giliran berkonsultasi dengan Sayyidah Nafisah.

  


Baca Juga : Gambaran Siti Khadijah di Abad 19

Ramainya masyarakat yang datang, membuat Sayyidah Nafisah merasa waktu ibadahnya terganggu dan memutuskan untuk pindah ke Hijaz. Namun gubernur Mesir (Abdullah bin as-Sirri bin al-Hakam) yang mewakili masyarakat melobi Sayyidah Nafisah untuk tetap bertahan di Mesir. Kemudian Sayyidah Nafisah berkata, \"Aku adalah seorang wanita lemah, aku tidak bisa lagi beribadah kepada Tuhanku, tempat tinggalku kecil tidak memiliki kapasitas untuk menampung sedemikian banyak orang”. Gubernur tersebut kemudian memberinya sebuah rumah dengan tujuh pintu dan meminta 2 hari saja kepada Sayyidah Nafisah untuk melayani umat, sehingga sisa hari yang lain dapat digunakan Sayyidah Nafisah untuk berkhalwat dan beribadah. Sayyidah Nafisah pun menyetujuinya karena beliau juga mendapat anjuran dari Rasulullah SAW melalui mimpi. Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu pergi dari Mesir karena nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”

  

Sebagai seorang sufi kecintaan warga Mesir, Sayyidah Nafisah banyak berkontribusi dalam menyembuhkan masyarakat yang sakit serta membantu menanggulangi masalah sosial lainnya seperti masa paceklik (kekeringan) di Mesir dan sungai Nil. Saking tingginya kedudukan Sayyidah Nafisah di sisi masyarakat Mesir, sampai-sampai untuk membuktikan suatu kebenaran masyarakat mengklaim dengan cara bersumpah atas nama Sayyidah Nafisah. Diantara penyebab kecintaan masyarakat Mesir adalah sikap zuhud, kedermawanan dan kekaraban Sayyidah Nafisah dengan al-Qur’an yang sangat besar.

   

Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris Syafi\'i) merupakan salah satu murid yang meriwayatkan hadits dari Sayyidah Nafisah. Imam Syafi’i selalu menjunjung tinggi adab terhadap Sayyidah Nafisah dan sering datang ke kediaman Sayyidah Nafisah untuk mengaji, belajar serta meminta doa dan keberkahan. Ketika sakit, Imam Syafi’i selalu mengirim utusan kepada Sayyidah Nafisah agar Sayyidah Nafisah berkenan mendoakan kesembuhannya. Qadarullah, Imam Syafi’i pun sembuh dari sakitnya. Kecuali saat sakit terakhir sebelum kematiannya, Sayyidah Nafisah berkata “Matta’ahu Allah bi al-Nazhr Ila Wajhih al-Karim (Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafi’i dengan melihat wajah-Nya yang mulia).” Mendengar ucapan ini Imam Syafi’i paham bahwa waktu ajalnya akan tiba. Kemudian Imam Syafi’i berwasiat kepada utusannya untuk meminta Sayyidah Nafisah agar berkenan mensholati jenazahnya. Dan ketika telah wafat, jenazah Imam Syafi’i dibawa ke kediaman Sayyidah Nafisah untuk disholati.

  

 Diantara murid Sayyidah Nafisah yang masyhur selain Imam Syafi’i adalah Ahmad bin Hanbal (ahli fikih dan pakar hadits), Abu al-Faidh Zhunnun al-Mashri, Imam Abu al-Hasan ad-Dinawari, Abu Ali ar-Rauzbari, Abu Bakar ad-Daqqaq, Imam Ismail al-Muzani asy-Syafi’i, Imam Abu Ya’qub al-Buwaithi, Abdullah bin Wahb al-Quraisyi al-Maliki, Imam Abu Ja’far ath-Thawi al-Hanafi, Abu Nasr Sirajuddin al-Mughafiri, Imam Yusuf bin Ya’qub al-Harawi, Imam Abu Zakaria as-Sakhawi, Al-Faqih al-Imam Ahmad bin Zarruq al-Maliki as-Sufi, Imam Warasy, Al-Imam al-Muhaddits asy-Syirazi, dan Abu al-Hasan al-Mushali. Beberapa nasihat Sayyidah Nafisah kepada para muridnya yakni, apabila ingin berkecukupan, tidak menjadi miskin, bacalah QS. al-Waqi’ah. Jika ingin tetap dalam keimanan Islam, bacalah QS. al-Mulk. Sedangkan jika ingin tidak kehausan pada hari dikumpulkan di akhirat, bacalah QS. al-Fatihah. Dan jika ingin meminum air telaga Nabi di akhirat, maka bacalah QS. al-Kautsar.

  

Sayyidah Nafisah menghabiskan waktunya untuk mengaji, mengajar, mendidik umat, dan beribadah kepada Allah. Wafat pada usia 63 tahun (bulan Ramadhan, 208 H) dan dimakamkan di Kairo, Mesir. Beliau wafat dalam keadaan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Beliau sedang berpuasa dan tengah melantunkan al-Qur’an Surat al-an’am ayat 12 dan ayat 127, yang artinya “Katakanlah (Muhammad), \"Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?\" Katakanlah, \"Milik Allah.\" Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya.\" dan \"Bagi mereka (disediakan) tempat yang damai (surga) di sisi Tuhannya. Dan Dialah pelindung mereka karena amal kebajikan yang mereka kerjakan.\" Makam Sayyidah Nafisah digali dengan tangannya sendiri dimana setiap hari beliau masuk ke dalamnya untuk melaksanakan sholat serta menghatamkan al-Qur’an. 

  

Makam Sayyidah Nafisah terletak di rumahnya yang dikenal sebagai Darb Al-Sab\'ah dan Darb Yazrab. Sampai saat ini makamnya banyak dikunjungi oleh para peziarah dari seluruh pelosok negeri karena tempat pemakamannya dianggap sebagai salah satu tempat terkabulnya doa. Pada makam Sayyidah Nafisah terdapat sebuah monumen yang dibangun oleh Ubaidullah bin Siri bin Hakam (penguasa Mesir) pada bulan Rabi’ul Tsani tahun 482 H. Dan pada tahun 533 H, Hafidz Khalifah merenovasi tempat tersebut dan membangun sebuah dharih dan kubah.

  

Suatu ketika suami Sayyidah Nafisah sempat berkeinginan untuk memindahkan makam Sayyidah Nafisah ke pemakaman Baqi’ di Madinah. Tetapi masyarakat Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan niatnya karena masyarakat ingin mendapatkan berkah dari Sayyidah Nafisah. Dan pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkah-Nya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.

  

Setiap hari lahir Sayyidah Nafisah, masyarakat Mesir selalu merayakannya dengan melantunkan qasidah dan bertawasul di pusaranya hingga larut malam. Hal ini terjadi sejak tahun 889 H. Masyarakat setempat pun memiliki adat untuk mengadakan perayaan pernikahan di sekitar pusara Sayyidah Nafisah. Hari Rabu diyakini masyarakat Mesir sebagai hari ziarah kepada Sayyidah Nafisah. Terdapat doa khusus saat berziarah ke makam Sayyidah Nafisah yang mana dalam doa ini terkandung makna kedudukan spiritual, kemulian nasab Sayyidah Nafisah dan ucapan salam kepadanya sebagai perempuan dari keluarga suci Nabi (Itrah). Doa ziarahnya sebagai berikut:

  

السلام و التحیة و الاکرام و الرضا من العلی الاعلی الرحمن علی سیدة نفیسة سلالة نبی الرحمة و هادی الامة... و اقض حوائجنا فی الدنیا و الاخرة یا رب العالمین

  

Artinya: “Salam, tahiyat, penghormatan dan ridha Allah atas Sayyidah Nafisah, cucu Nabi al-Rahmah dan pemberi petunjuk umat.....kabulkanlah hajat-hajat kami di dunia dan akhirat Wahai Tuhan seluruh alam.”

  

Kisah Sayyidah Nafisah memang tak banyak dikenal dibumi, tetapi namanya sangat masyhur di langit. Kisah ini menjadi fakta sejarah bahwa seorang perempuan mampu menjadi ulama terkemuka dan riwayatnya sangat berjasa bagi khazanah islam serta penting untuk dijadikan ikhtibar khususnya bagi kaum perempuan agar dapat belajar, bermuhasabah dan memotivasi diri untuk terus mengaktualisasikan diri dalam segala hal positif sesuai ajaran Islam. Dunia menantikan munculnya generasi Sayyidah Nafisah berikutnya.

  

Wallahu A’lam Bish-Shawaab.