Gambaran Siti Khadijah di Abad 19
Riset AgamaArtikel berjudul “Khadija’s Image in 19th Century Orientalisme merupakan karya Ahlam Sbaihat dari Universitas Jordan. Tulisan ini terbit di Journal of Islamic Studies: Aljamiah tahun 2022. Penelitian ini berusaha mengkaji gambaran Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW dalam teks-teks bahasa Perancis. Setidaknya, ada 49 tulisan yang akan dianalisis termasuk buku, kamus, ensiklopedia, artikel jurnal sastra dan sains. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Perancis dan perubahannya. Ketiga, Khadijah dalam pendekatan sejarah. Keempat, Khadijah di akhir abad 19.
Pendahuluan
Pada akhir abad ke-18 yang terkenal dengan orientalisme, para akdemisi mencoba mengkaji kembali biografi Nabi Muhammad SAW melalui al-Qur’an, hadis dan tulisan-tulisan sejarawan Islam. Saat itu dunia akademis dipengaruhi oleh orientalisme secara institusional, penyebaran kolonialisasi, kemajuan ekonomi, revolusi teknologi, konflik nasional, serta persaiangan komersial dan budaya di antara negara adidaya di Eropa. Konsekuensinya adalah teks sejarah dan sastra menjadi titik balik kajian Islam yang terfokus pada istri-istri Nabi Muhammad SAW.
Ketertarikan Eropa kepada Khadijah dimulai sekitar abad pertengahan, pasca keingintahuannya mengenai Nabi Muhammad SAW. Salah satu manuskrip tertua yang membahas Khadijah adalah “Istoria de Mahomet” yang berkali-kali memunculkan Khadijah sebagai seorang janda yang dinikahi Nabi Muhammad SAW. Periode abad pertengahan yang didominasi oleh geraja dan mentalitas religius Eropa dan perkembangan sastra liturgi telah berkembang, menjadikan kehidupan Nabi Muhammad SAW yang “palsu” menjadi bahan subur untuk mendidik masyarakat barat.
Vincent de Beauvais dalam “Miroir Historial” menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai saudagar kaya yang merayu janda. Manuskrip Johannes de la Colonna berjudul “Mare Historium” menggambarkan pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah yang diasosiasikan dalam bingkah dakwah sang nabi. Artinya, ia senegaja merepresentasikan relasi antara pernikahan dengn pembentukan dokrin baru. Selain itu, buku berjudul “Relacion de las Cosas de Mahoma” juga menceritakan biografi Nabi Muhammad SAW, namun dengan klaim yang salah. Misalnya, adanya klaim bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang budak dari pedagang bernama Abdomanoples yang tidak memiliki keturunan. Setelah kematiannya, budaknya itu mewarisi semua kekayaannya.
Klaim yang lain menyatakan bahwa Khadijah adalah orang yang mewarisi kekayaan dan menikah dengan budak bernama Muhammad atas nasihat kerabatnya dan seorang biarawan bernama Sergio the Nestorian, sebelum ia mencapai usia 50 tahun. Melalui kefasihan dan sihirnya, Muhammad berhasil mengendalikan istrinya. Sama seperti wanita lainnya, Khadijah mempercayai dan mencintainya sebagai suami dan sosok nabi yang suci. Akhirnya, Khadijah meninggal dan mewariskan kekayaannya kepada sang suami untuk “mempromosikan diri” sebagai orang suci.
Perancis dan Perubahannya
Revolusi Perancis yang terjadi menyebabkan perubahan sosial dan intelektual pada tahun 1814. Beberapa perubahan sosial telah memberikan kontribusi terhadap keberhasilan industry percetakan. Pada masa damai saat itu, gairah untuk membaca, menulis dan melakukan penelitian mulai hidup kembali. Beberapa tokoh besar juga menganjurkan penerbitan buku sains dan sastra yang dimotivasi oleh revolusi sekaligus perang kekaisaran Perancis.
Baca Juga : Di Balik Lukisan Henna Indah Untuk Pengantin
Salah satu kontribusi dalam hal akademik yang dibuat oleh Perancis pada adab 19 adalah penulisan sejarah. Buku-buku sejarah kemudian dipadukan dengan politik, pendidikan, sekaligus penelitian. Hal ini berkorelasi dengan humaniora, hierarki sosial, opini, keyakinan agama, sekaligus semua genre sastra. Tidak terkecuali biografi nabi dan istrinya yang menjadi bagian dari ‘pedagogi’ periode ini. Kajian abad-19 mengenai kehidupan Muhammad dan Khadijah diterbitkan dalam tiga majalah utama yakni jurnal, revue dan bulletin. Asumsinya adalah hal ini karena dimotivasi oleh komitmen para pembuat kebijakan di Prancis untuk menggambarkan stereotip publik tentang kependudukan negara-negara Islam seperti Al-Jazair, Tunisia, Lebanon dan Suriah.
Khadijah dalam Pendekatan Sejarah
Literatur pada abad-19 tidak memberikan catatan tersendiri mengenai Khadijah. Sebaliknya, ia dibahas dalam konteks biografi Nabi Muhammad dan asal-usul Islam. Secara umum, kehidupan Nabi Muhammad SAW dan istri pertamanya distereotipkan secara berbeda dalam sejarah, injil, kolonialisasi, narasi rakyat dan fantasia.
Pandangan orientalis abad 19 mengenai Khadijah menegaskan tentang peran yang dimainkan mengubah citra Nabi Muhammad SAW. Ia bukan lagi seorang pedagang yang ahli melainkan seorang nabi dengan pembaharu. Khadijah mendukungnya secara finansial dan moral sekaligus lingkungan yang membuka jalan untuk keyakinan baru. Ia mempercayai cerita mengenai wahyu yang diperoleh dari dalam gua. Kaum orientalis menyebut ini sebagai halusinasi. Pasca kematian Khadijah, Nabi Muhammad SAW kehilangan seseorang yang memberikan dukungan moral baginya. Terutama, pasca kematian pamannya yang menyebabkannya harus hijrah ke Madinah untuk mencari dukungan.
Khadijah di Akhir Abad 19
Sebenarnya, penelitian yang membahas mengenai Nabi Muhammad SAW dan Khadijah mengalami penurunan sejak tahun 1970. Meskipun bahasan mengenai Khadijah hanya sdikit dan dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW, namun sebenarnya kaum orientalis menggambarkan Khadijah dengan citra yang baik. Mereka memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap seorang janda yang menikah dengan proa muda dari kalangan kelas sosial dan ekonomi yang rendah. Seluruh tulisan menunjukkan bahwa ia adalah sumber dukungan bagi suaminya. Ia juga digambarkan sebagai perempuan yang dermawan dan cantik. Selain itu, teks pada abad 19 banyak dipengaruhi oleh karya berjudul “Arabian Nights” yang menyebut nama Muhammad dan Khadijah sebagai tokoh utama, Pada karya tersebut juga banyak mengutip kejadian dalam kehidupan nabi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dari beberapa karya yang dianalisis, menunjukkan bagaimana sebagian besar karya tersebut menyudutkan Nabi Muhammad SAW. Nabi akhir zaman tersebut digambarkan seolah menjadi manusia yang memanfaatkan perkawainannya dengan Khadijah guna meraih kemakmuran dan pengaruh politik. Sedangkan, Khadijah digambarkan sebagai sosok janda kaya yang memberikan kontribusi besar pada mentaitas baru umat Islam. Khadijah adalah perempuan pandai, bijak, dan sebagai istri yang mendukung suaminya. Selain itu, karakter keduanya digambarkan sebagai fantasi yang disejajarkan dengan kisah seribu satu malam.

