(Sumber : Suara.com)

Gus Miftah, Netizen dan Sikap Kesatria

Khazanah

Sesungguhnya di dunia ini tidak ada orang yang benar seratus persen dan tidak ada orang yang salah seratus persen. Pasti akan tergerak di antara ekstrim kebenaran dan ekstrim kesalahan. Manusia hidup dengan mengayuh di antara kebaikan dan kesalahan. Orang bisa berada di dalam ruang kebenaran karena factor internal maupun eksternal dan orang juga bisa berada di dalam ruang kesalahan karena factor internal dan eksternal. Factor internal berasal dari dirinya sendiri atau in order to motives atau motif tujuan, dan factor eksternal atau datang dari lingkungan atau bercause motives atau motif penyebab. 

  

Tidak perduli siapapun, sesungguhnya manusia berpotensi untuk melakukan kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan bisa dikaitkan dengan kesengajaan, sedangkan kekhilafan bisa dikaitkan dengan ketidaksengajaan. Manusia memang diberikan potensi oleh Allah SWT sebagai tempat kesalahan dan kekhilafan. Di dalam teks Islam dijelaskan seperti itu. Makanya, ada orang awam yang bisa melakukan kesalahan atau kekhilafan, dan ada kaum cerdik pandai yang juga melakukan kesalahan dan kekhilafan. 

  

Saya ingin membahas satu konten media social yang sangat viral akhir-akhir ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah video yang diunggah tentang Gus Miftah yang mengungkapkan kata “goblog” yang dinyatakan oleh netizen sebagai ucapan yang tidak pantas diungkapkan oleh orang sekelas da’i yang sangat kondang. Da’i dikenal sebagai para juru dakwah yang mengajak kepada kebaikan dan melarang kejelekan, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Da’i adalah ulama, yang kata-katanya menjadi teladan,  sikap dan tingkah lakunya menjadi rujukan bagi masyarakat lainnya. Ibaratnya para da’i adalah ulama yang menjadi referensi bagi umat manusia untuk melakukan kebaikan. 

  

Gus Miftah memang seorang da’i yang menjadikan gurauan sebagai salah satu daya pikatnya. Di dalam kerangka untuk menarik jamaahnya terkadang diselipkan ungkapan-ungkapan yang bisa dianggap sebagai pelecehan, bullying, merendahkan derajat orang lain. Jika dicermati ada banyak ungkapan yang bisa dianalisis sebagai ucapan yang merendahkan martabat orang lain. Meskipun para jamaah juga menertawakannya sebagai ekspresi kegembiraan. Padahal oleh orang lain dianggap sebagai kesalahan fatal.

  

Gus Miftah memang kepleset di dalam ceramahnya. Di dalam unggahan Youtube bisa didengarkan bagaimana Gus Miftah menjadikan kata goblog sebagai bahan guyonannya. Lalu, terdapat seseorang yang mengunggahnya di dalam Youtube, maka kemudian viral. Sebagaimana dunia social yang tidak ramah atas “kesalahan”, maka ungkapan tersebut menjadi sangat viral dan memantik berbagai komentar netizen. Mereka tidak memerlukan fakta yang diungkapkan dan memang tidak perlu, maka kemudian menggelinding dengan sangat deras unggahan berbasis persepsi atas apa yang diungkapkan oleh Gus Miftah. Di era post truth, orang tidak memerlukan fakta. Kebenaran bukan fakta tetapi kebenaran adalah persepsi. Dari persepsi kemudian menjadi sangat viral komen tentang diksi goblog tersebut. 

  

Gus Miftah kemudian sungguh-sungguh dikuliti atas berbagai unggahan di Youtube atas ceramah-ceramahnya yang juga dianggap melakukan penghinaan kepada seseorang. Bahkan begitu dahsyatnya juga dikuliti semuanya. Komentar datang dari netizen orang awam, komentator politik dan social, bahkan juga para akademisi dan tokoh organisasi. Semua tumplek bleg untuk menyayat-nyayat atas Gus Miftah. Mulai dari konten ceramahnya sampai genealoginya.  Semua  diungkap dengan sangat transparan. 

  

Dewasa ini, di tengah media social yang powerfull, maka Sunhaji penjual teh juga mendapatkan berkah dari ungkapan goblog yang diterimanya. Begitu banyak orang yang simpati.  Dari  yang mendonasikan uang sampai mengumrahkan. Sekarang Sunhaji telah memiliki banyak uang. Banyak orang yang berlaku baik kepadanya. Jadi media social dapat memantik perilaku pilantropi yang luar biasa. Sunhaji menjadi orang yang terdholimi sehingga perlu untuk diangkat derajatnya oleh para pilantroper yang berbuat baik. Ungkapan “goblog” ternyata bisa menjadi medium untuk mengangkat derajat Sunhaji dari keterpinggiran.

  

Tetapi ada hal yang tidak banyak mendapatkan respon positif terhadap Gus Miftah, yaitu kemauannya untuk mengundurkan diri dari Jabatan Staf Khusus Presiden Bidang Kerukunan Umat Beragama. Jabatan ini diserahkan kembali kepada Presiden Prabowo. Tradisi seperti ini merupakan hal baru di dalam dunia birokrasi di Indonesia. Di beberapa negara lain sudah mentradisi jika ada seorang pejabat yang melakukan kesalahan fatal, maka mengharuskan dirinya untuk mundur. Di Jepang dan Korea Selatan, jika ada pejabat yang memiliki kesalahan fatal dalam pelayanan public maka akan mundur. Gus Miftah mengawali tradisi yang langka ini.

  

Saya mengapresiasi atas sikap kesatria yang ditunjukkan oleh Gus Miftah. Keberanian yang langka bagi para pejabat di Indonesia. Memang Gus Miftah bukanlah tipe pejabat yang tebal muka. Di kala dirinya banyak dicerca oleh orang karena tindakannya, maka mundur adalah pilihan terbaik.Tetapi satu pelajaran penting dari public figure, bahwa ungkapan di dalam ruang publik harus ditata dengan diksi-diksi yang tepat. Saya kira bahwa Gus Miftah tidak sedang menghina orang lain. Semata-mata bahan guyonan, tetapi juga harus dipahami bahwa: say with flower is better than say with goblog”. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.