(Sumber : Yayasan Tabung Wakaf Umat)

Pentingnya Respons Aktif Audiens Bagi Pendakwah

Riset Sosial

Artikel berjudul “From Listening to Producing: Ustaz Abdul Somad’s Active Audiences in Pekanbaru, Indonesia” merupakan karya Imron Rosidi, Khairunnas Rajab, Kasmuri, M. Arrafie Abduh dn Masduki. Tulisan tersebut terbit di Ulumuna: Journal of Islamic Studies tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mengetahui respon khalayak Ustaz Abdul Somad terhadap dakwah yang disampaikannya. Artikel tersebut menggunakan metode kualitatif dengan mewawancarai sepuluh informan terpilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Informan adalah pemuda muslim yang tinggal di Pekanbaru. Sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau cenderung menyukai dakwah Ustaz Abdul Somad.  Terdapat lima sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, Pekanbaru dan Dakwah. Ketiga, Ustaz Abdul Somad. Keempat, pemuda muslim dan dakwah di Indonesia. Kelima, awal mendengarkan hingga memproduksi. 

  

Pendahuluan

  

Pada beberapa tahun terakhir, dakwah di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Beberapa pendakwah muncul di ruang publik, salah satunya adalah Ustaz Abdul Somad yang isi dakwahnya menarik perhatian pengguna internet, dan kerap kali viral. Pada akhir Agustus 2019, sebuah video ceramahnya tentang hukum Islam terkait melihat salib menjadi viral di media sosial. Sebelumnya, video ceramah Ustaz Abdul Somad juga viral karena membahas bahwa menjadi penggemar K-Pop hukumnya haram. Hal yang terbaru , ia menjadi  populer di media sosial dan media arus utama Indonesia karena ia tidak diizinkan masuk ke Singapura. Selain itu, ia merupakan seorang pendakwah yang aktif menggunakan YouTube untuk menyebarkan pesan-pesan Islam. Ia memiliki 2,74 pelanggan pada YouTube. Bahkan berdasarkan data Tempo, Ustad Abdul Somad merupakan pendakwah nomor satu dan terpopuler di media sosial. Transformasi dakwah dari metode tradisional ke media digital semakin menambah dinamika perubahan kaum muda. Para ulama ini tidak membahas secara mendalam bagaimana respon kaum muda muslim sebagai khalayak terhadap pesan-pesan dakwah seorang pendakwah tertentu.

  

Saat ini, masyarakat Indonesia sedang aktif mendengarkan ceramah. Mereka dapat disebut sebagai khalayak aktif karena mereka lebih aktif menggunakan media sosial. Mereka dapat mengakses program dakwah di media sosial melalui telepon genggam kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, dengan kemajuan teknologi, masyarakat dapat menggunakan ponsel atau laptop untuk mendengarkan dan menyaksikan konten dakwah yang diinginkan. Oleh karena itu, masyarakat saat ini tidak perlu lagi menunggu konten dakwah dengan duduk di hadapan khatib di masjid atau tempat lainnya. Hal ini cocok bagi masyarakat yang sibuk dan terkadang tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkan konten dakwah secara langsung di masjid.

  

Pekanbaru dan Dakwah 

  

Pekanbaru merupakan ibu kota yang sangat penting bagi Provinsi Riau, Indonesia. Pasalnya, posisi ini menjadikan Pekanbaru sebagai pusat pemerintahan, bisnis, dan pendidikan di Riau, yang menarik minat masyarakat sekitar Riau untuk berkunjung, bermigrasi, dan menetap. Kota ini berkembang dari pasar Senapelan pada masa kerajaan Siak Indrapura pada abad kedelapan belas. Lokasi pasar Senapelan masih dapat ditemukan di dekat Sungai Siak dan sekarang disebut Pasar Bawah, yang berarti pasar bawah tanah. Disebut \"pasar bawah tanah\" karena terletak di dataran rendah.

  

Dakwah (seruan kepada doktrin Islam) adalah istilah Arab yang dikaitkan dengan khotbah misionaris. Dakwah mengacu pada khotbah yang dilakukan di depan khalayak di masjid atau tempat lain. Dakwah semakin berkembang di Pekanbaru, terutama setelah lengsernya Soeharto. Pekanbaru merupakan kota berpenduduk mayoritas Muslim yang memiliki kegiatan dakwah Islam yang aktif. Sebanyak 23 komunitas Muslim mengembangkan kegiatan dakwah melalui wirid (kajian atau ceramah) di berbagai tingkatan masyarakat, mulai dari perguruan tinggi, sekolah, RT (Rukun Tetangga), lembaga pemerintahan, hingga masjid. Kegiatan wirid ini menjadi sarana bagi para pendakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di Pekanbaru. Ustad Abdul Somad berceramah di wirid tersebut dari satu masjid ke masjid lain di Pekanbaru. Pengikut Ustad Abdul Somad pun semakin bertambah seiring dengan pergaulannya dengan dunia digital. Akun YouTube miliknya, Ustadz Abdul Somad Official, memiliki 2,74 juta subscribers yang berpotensi menjadi pendengar dan pengguna aktif. Mereka dapat dengan mudah mengakses video tersebut atau mengunduhnya secara gratis. Berkat media sosial, Ustaz Abdul Somad dikenal di kalangan masyarakat muslim Pekanbaru dan masyarakat muslim Indonesia. Jejak dakwahnya sudah merambah hingga ke luar daerah. Setiap bulan Ramadan, ia diundang untuk berdakwah di televisi nasional. 

  

Ustaz Abdul Somad


Baca Juga : Erick Thohir, Sepak Bola Indonesia dan Piala Dunia U-17

  

Pendakwah ini lahir di Asahan, Sumatera Utara. Ia memiliki basis pengetahuan agama Islam yang kuat. Ustaz Abdul Somad menyelesaikan pendidikan dasarnya di SD Al-Washliyah Medan. Ia kemudian tamat SMA di Madrasah Tsanawiyah al-Washliyah Medan dan Madrasah Aliyah Nurul Falah Air Molek, Indragiri Hulu, Riau. Setelah itu, beliau menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas al-Azhar, Mesir, pada tahun 2002. Kemudian, pada tahun 2004, Ustaz Abdul Somad memperoleh beasiswa magister dari pemerintah kerajaan Maroko. Ia menyelesaikan magister hadisnya pada tahun 2006. Kemudian , ia memperoleh gelar doktor hadis dari Universitas Islam Omdurman, Sudan, pada tahun 2019. Ia menjadi dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Namun, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dosen di universitas tersebut karena kesibukannya berdakwah pada tahun 2019. Ia membutuhkan bantuan untuk membagi waktu antara mengajar di universitas dan berdakwah di masyarakat. Sementara sebagai pegawai negeri sipil, ia harus hadir setiap hari di kampus.

  

Selain aktif sebagai pendakwah, ia juga merupakan anggota Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau periode 2019-2024. Selain itu, Ustaz Abdul Somad juga aktif sebagai Sekretaris Bathsul Masa\'il (Forum Diskusi) Nahdlatul Ulama Riau 2009-2014. Kedudukannya di organisasi Islam tradisional Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa Ustaz Abdul Somad lekat dengan pemikiran Islam yang dikembangkan Nahdlatul Ulama. Meski demikian, Ustaz Abdul Somad bisa berdakwah di berbagai ormas, dan dakwahnya diterima dengan baik, khususnya di kalangan pemuda muslim. Beberapa khalayak muda muslim di Pekanbaru yang aktif melaksanakan kegiatan keagamaan di Masjid Raya Pekanbaru pun aktif. Para pemuda muslim ini tidak hanya mendengarkan ceramah Ustaz Abdul Somad tetapi juga memproduksi konten ceramahnya dalam bentuk video untuk diunggah di YouTube.

  

Pemuda Muslim dan Dakwah di Indonesia 

  

Secara historis, keterlibatan pemuda muslim Indonesia dalam kegiatan dakwah dapat ditelusuri kembali pada masa Orde Baru. Pemerintah Orde Baru melarang aktivitas mahasiswa dalam organisasi ekstra kampus, yang dikenal dengan istilah normalisasi kampus. Kebijakan ini dilandasi oleh adanya beberapa aktivis kampus yang melakukan demonstrasi dan menyuarakan protes terhadap kebijakan pemerintah. Mereka menuntut pemerintah membubarkan paguyuban presiden dan menurunkan harga sembako. Demonstrasi ini juga melibatkan elemen masyarakat lainnya yang dikenal dengan peristiwa Malari (peristiwa 15 Januari). Pada tahun 1983, pemerintah Orde Baru melakukan intimidasi yang lebih luas terhadap gerakan mahasiswa di kampus. Pemerintah melarang kegiatan organisasi kemahasiswaan seperti HMI (Organisasi Mahasiswa Islam) di kampus. Kebijakan ini  membuat mahasiswa mengubah strategi kegiatannya, yang sebelumnya mereka aktif dalam menanggapi kebijakan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan. Mereka lebih memfokuskan diri pada kegiatan untuk menjadi mahasiswa muslim yang taat. Mahasiswa muslim banyak terlibat dalam halaqah (lingkaran studi Islam) yang berpusat di masjid kampus dan di luar kampus.

  

Pasca runtuhnya Orde Baru, banyak pemuda muslim yang terlibat dalam kegiatan dakwah. Mahasiswa membentuk komunitas dakwah di masjid kampus dan di luar kampus. Ungkapan ketakwaan mereka merupakan bentuk ketakwaan aktif  dan untuk meningkatkannya mereka dan mengajak orang lain untuk melakukannya. Ketakwaan aktif ini memiliki keragaman yang tidak dapat dipungkiri karena setiap kelompok pemuda muslim memiliki segmentasi audiens yang berbeda. Hal ini termasuk segmentasi dakwah kaum muda Muslim yang menegosiasikan identitas mereka dengan simbol-simbol budaya populer dan Islam.

  

Munculnya berbagai konten dakwah di media sosial juga diiringi dengan berbagai ideologi pendakwah yang bersumber dari ideologi ekstrem, moderat, maupun liberal. Perdebatan mengenai isu dakwah semakin marak di ruang digital. Hal ini dipicu oleh kemudahan khalayak dalam merespon dakwah di media sosial, di mana pun dan kapan pun. Setiap khalayak berpotensi untuk aktif di era digital saat ini. Keaktifan mereka dalam merespon dakwah yang dilakukan oleh pendakwah dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Salah satu bentuknya adalah dengan memproduksi video Ustaz Abdul Somad untuk diunggah di YouTube.

  

Awal Mendengarkan hingga Memproduksi

  

Beberapa pemuda muslim di Pekanbaru memiliki ketakwaan yang aktif, seperti yang ditunjukkan oleh sekelompok pemuda muslim anggota Sahabat Hijrah Pekanbaru. Di tengah globalisasi dan modernisasi, mereka memiliki semangat untuk menghidupkan kembali ajaran Islam. Mereka adalah anak-anak muda yang sering melaksanakan kegiatan keagamaan bersama di Masjid Raya Pekanbaru. Anak-anak muda ini mengadakan kegiatan dakwah setiap minggu dengan mengundang khatib ke masjid. Mereka mendengarkan dakwah yang disampaikan oleh beberapa khatib, termasuk Ustaz Abdul Somad. Sejak saat itu mereka mulai merekam dakwah Ustaz Abdul Somad. Awalnya, mereka merekam menggunakan ponsel untuk diunggah di YouTube melalui kanal masjid, ternyata mendapat respons positif dari para pengguna YouTube. Hasilnya, subsciber akun Youtube mereka meningkat signifikan. Pendapatan finansial yang diperoleh menunjukkan Islam tidak hanya bekerja di ranah duniawi. Islam telah beradaptasi dengan kehidupan modern melalui komodifikasi. Komodifikasi Islam mengacu pada proses di mana simbol, praktik, dan identitas Islam diubah menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan di pasar. Dalam konteks globalisasi dan kapitalisme, aspek-aspek agama sering kali disampaikan dalam masyarakat untuk keuntungan ekonomi.

  

Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda Muslim ini mampu memadukan semangat dakwah dengan kemajuan teknologi. Bagi mereka, modernisasi yang bersumber dari Barat tidak menghalangi Islamisasi masyarakat Muslim yang lebih luas. Di Indonesia, secara formal, dakwah keagamaan, termasuk dakwah, tidak sepenuhnya terbatas pada pembukaan demokrasi pasca tumbangnya Soeharto. Terkait dakwah Ustaz Abdul Somad yang dikaitkan dengan pertimbangan etika terkait dengan persetujuan, privasi, dan hak atas kekayaan intelektual dalam merekam dan menyebarluaskan konten keagamaannya, Ustaz Abdul Somad menjelaskan bahwa konten dakwah Ustaz Abdul Somad yang diunggah oleh Tafaqquh (sebuah lembaga kajian agama di Pekanbaru) merupakan hak cipta Tafaqquh

  

Dakwah telah memadukan logika pasar dengan kebutuhan keagamaan dan spiritual dengan sempurna. Logika pasar dan kualitas telah disampaikan oleh khalayak Ustaz Abdul Somad melalui produksi videonya. Logika pasar disajikan dalam bentuk tayangan video yang dikemas dengan baik sesuai dengan kebutuhan pasar. Beberapa video disebar melalui media sosial tertentu seperti Facebook, YouTube dan Instagram. Sementara itu, logika kualitas ditampilkan dengan baik melalui konten dakwah Ustaz Abdul Somad yang sesuai dengan standar kualitas ilmu agama yang dimiliki seorang pendakwah. 

  

Kesimpulan

  

Banyak faktor yang mempengaruhi popularitas seorang pendakwah di Indonesia. Selain kedalaman ilmu agama dan pemanfaatan teknologi media dalam berdakwah, khalayak pendakwah muslim juga memegang peranan penting dalam memopulerkan pendakwah tersebut. Mereka adalah khalayak aktif yang dipengaruhi oleh motivasi keagamaan untuk meningkatkan ketakwaan mereka dan ketakwaan umat Islam lainnya, yang disebut ketakwaan aktif. Pemuda Muslim ini dapat memadukan semangat dakwah dengan media baru seperti YouTube dan Facebook. Hal ini menunjukkan bahwa Islamisasi yang meluas di tengah masyarakat muslim terus dilakukan di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi. Dakwah di tengah masyarakat muslim terus beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini. Pada konteks ini, peran umat Islam sebagai agen sosial sangat menentukan dalam mendorong agama untuk beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Islam sebagai agama dengan demikian memiliki fleksibilitas yang mendorong keberagaman penafsiran dan pluralitas upaya Islamisasi di tengah masyarakat. Selain itu, bukti bahwa dakwah dan modernitas tidak bertentangan, tetapi dapat bekerja sama.