(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Hari Santri 2021: Santri Salafiyah Versus Santri Salafi

Khazanah

Di Indonesia memang dikenal dua organisasi besar Islam yang telah memberikan sumbangan signifikan bagi Pendidikan di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan NU. Melalui dua organisasi ini, maka Pendidikan di Indonesia menjadi variatif dan juga menghasilkan SDM yang memadai dalam pengembangan pendidikan, ekonomi dan sosial dalam kapasitasnya masing-masing. Selain itu tentu juga banyak organisasi lain yang bergelut dengan pendidikan misalnya PERTI, PERSIS, Jam’iyatl al-Washliyah, Nahdlatul Wathan dan sebagainya.

  

NU mengembangkan Pendidikan Keislaman yang  berfokus pada kajian-kajian keagamaan Islam, sedangkan Muhammadiyah berkhidmah dalam Pendidikan Umum. Meskipun keduanya berbeda tetapi akhirnya juga sama-sama mengembangkan pendidikan umum berbasis agama. Muhammadiyah mengembangkan pendidikan dalam jalur umum, misalnya TK, SD, SMP, SMA dan PTU, sedangkan NU berkhidmah dalam pendidikan keislaman, seperti RA, MI, MTs, MA dan PTKI. Tentu seirama dengan perkembangan zaman, maka keduanya juga sama-sama mengembangkan pendidikan keagamaan dan umum sekaligus. 

  

Jika kita lakukan flashback, maka bisa dipahami bahwa keduanya bergerak dalam satu titik, yaitu memadukan pendidikan umum dan agama dalam coraknya yang nyaris sama. NU dari pendidikan agama ke pendidikan umum, sementara itu Muhammadiyah juga bergerak dari pendidikan umum ke pendidikan agama. Secara kelembagaan, bahwa pendidikan di bawah NU bernaung kebanyakan di Kementerian Agama (Kemenag), sementara itu Muhammadiyah bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Suatu perjalanan yang menarik karena akhirnya NU dan Muhammadiyah sama-sama bernaung dalam dua kementerian, yaitu Kemenag dan Kemendikbud.

  

NU mengembangkan pendidikan melalui pesantren dengan berbagai varian pendidikan di dalamnya, sementara Muhammadiyah mengembangkan pendidikan persekolahan. Dalam pengaturan managerialnya, semua institusi pendidikan Muhammadiyah berada di dalam satu kesatuan menajemen, sementara itu institusi pendidikan di NU lebih bercorak segmental, karena masing-masing kyai NU mendirikan pesantren sendiri tetapi secara kultural berbasis pada pemahaman keagamaan sebagaimana para Kiai NU lainnya. Dengan demikian  NU dikenal dengan Lembaga Pendidikan pesantrennya, sementara Muhammadiyah dikenal dengan Lembaga Pendidikan sekolahnya. NU melahirkan alumni yang mahir di dalam penguasaan ilmu keislaman, sementara Muhammadiyah melahirkan orang professional dalam bidang ilmu-ilmu umum. Inilah kehebatan dua organisasi besar ini dalam memberikan sumbangannya pada pengembangan SDM di Indonesia.

  

Akhir-akhir ini pesantren  tidak hanya menjadi milik NU, sebab sesuai dengan perkembangan zaman, maka Muhammadiyah juga mengembangkan pesantren dan yang lebih atraktif lagi adalah kelompok Salafi yang juga menyelenggarakan pendidikan pesantren. Hiruk pikuk dunia pendidikan juga menjadi semakin semarak dengan keterlibatan kelompok Tarbiyah yang di masa lalu berada di dunia kampus kemudian mendirikan sekolah-sekolah unggulan, seperti SDIT, SMPIT, SMAIT yang nyaris berada di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia. Dan yang juga spektakuler kaum Salafi juga mendirikan pesantren dengan perkembangan yang sangat pesat. Kebanyakan menggunakan Pesantren Tahfidz. Jadi yang diajarkannya adalah pendidikan keislaman murni berbasis pada madzhab Salafi yang berkembang di Arab Saudi. Perkembangannya sangat cepat dengan kualitas fisikal yang sangat memadai. Dengan demikian, kelompok ini cerdas dalam merespon terhadap tuntutan religiositas masyarakat yang semakin meningkat dan kebanyakan adalah klas menengah baru. Sekolah-sekolah berbasis IT dan pesantren ini sebenarnya memiliki satu kesatuan visi dan misi, yaitu mengembangkan paham Islam Wahabi kepada masyarakat Indonesia, dan jalur yang paling strategis adalah melalui pendidikan.

  

Saya melabel para santri yang berasal dari jalur pendidikan berbasis paham Wahabi dengan  sebutan  sebagai Santri Salafi. Mereka adalah para santri yang ke depan akan memiliki paham Salafi Wahabi dengan berbagai tafsir  keberagamaannya. Mereka dipastikan akan memiliki sikap keagamaan yang konservatif dengan menjadikan isu TBC sebagai bagian penting di dalam pemahaman keagamaannya. Mereka akan menjadi agen-agen tangguh yang akan menyebarkan ajaran Wahabisme di Indonesia. Mereka adalah anak-anak dari keluarga klas menengah baru Indonesia, yang tentu dari segi pendidikan juga akan mengarah kepada pendidikan yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Mereka ini memiliki bekal kemampuan ilmu keislaman yang sangat baik, bahkan para penghafal Alqur’an. Makanya tentu tidak diragukan komitmennya di dalam memperjuangkan paham keagamaannya berbasis pada tafsir keagamaan yang dipelajarinya. Melalui strategi seperti ini, maka ke depan akan diperoleh kader-kader Salafi Wahabisme yang memiliki komitmen dalam dakwah dan pendidikan berbasis paham keagamaan Wahabisme.

  

Di sisi lain, terdapat pesantren yang telah eksis dan memiliki sejarah panjang terutama yang dikelola oleh pesantren-pesantren berbasis paham keagamaan Islam Sunni ala Nahdlatul Ulama, yang tentu mengajarkan Islam dalam coraknya yang genuine keindonesiaan. Islam yang mengusung tema-tema pengembangan nasionalisme dan kebangsaan, toleran, menjadikan tradisi dan kebudayaan sebagai sarana untuk islamisasi dan anti kekerasan. Mereka ini yang di dalam banyak hal disebut sebagai Islam moderat. Mereka memang tidak mengusung konservatifisme apalagi ultra konservatifisme, tetapi mengembangkan Islam yang berkolaborasi dengan tradisi local dan akhirnya membangun tradisi Islam lokal. Mereka dilabel dengan terminologi “Santri Salafiyah”. Mereka adalah agen-agen Islam wasathiyah di Indonesia. Mereka adalah pendukung semangat kebangsaan, keislaman dan kemoderenan. Di tangan mereka sebenarnya masa depan moderasi beragama sungguh dipertaruhkan.

  

Jika kedua kelompok ini ke depan semakin kuat, maka tentu akan terjadi pertarungan otoritas keagamaan yang semakin tidak terhindarkan. Dan ke depan akan memunculkan penggolongan “Santri Salafiyah versus Santri Salafi”. Tentu kita tidak berharap bahwa akan terdapat kontestasi yang destruktif sehingga akan dapat melumpuhkan sendi-sendi ukhuwah Islamiyah yang selama ini sudah terbangun dengan sangat baik.

  

Walllahu a’lam bi al shawab.