(Sumber : Dokumentasi Penulis)

In Memoriam Prof. Abu Azam Al-Hadi

Khazanah

Saya sebenarnya sudah tidak ingin lagi menulis berita lelayu. Berita kematian atau berita kesedihan. Tetapi keinginan tersebut akhirnya runtuh juga pada saat saya mendengar kabar bahwa Prof. Dr. Abu Azam Al Hadi, telah menghadap Allah SWT dan telah dipanggil untuk memasuki alam lain, alam barzakh yang memang sudah menjadi ketentuannya. 

  

Saya membaca teks di Zoominar Nur Syam Center (NSC) pada saat ada acara seminar tentang “Quo Vadis Islam Wasathiyah” yang menghadirkan Dr. Abdul Mujib Adnan, Dr. Fakhrudin Ali Shobri dan Mevy Eka Nurhalizah, MSos dengan moderator Ali Mursyid Azisi. Di dalam teks saya baca kiriman Pak Fahrudin, bahwa Prof. Dr. Abu Azam Al Hadi dalam keadaan kritis dan mohon doanya agar disembuhkan oleh Allah SWT. Saya tentu saja kaget, sebab selama ini saya kurang mendengar Prof. Abu Azam itu sakit. 

  

Beberapa saat kemudian, saya membaca di WAG UIN bahwa Allah sudah memanggil Prof. Azam untuk kembali ke hadiratnya. Dalam pekan terakhir memang ada beberapa sahabat kita yang dipanggil oleh Allah, yaitu Drs. Bukhori Thoyib, MM, Purnatugas Pustakawan UIN Sunan Ampel yang meninggal pada tanggal 30 November 2023. Prof. Azam dipanggil Allah SWT pada jam 17.30 WIB di Rumah Sakit Semen Gresik, hari Jum'at, 01 Desember 2023. Memang lahir dan mati merupakan takdir Tuhan yang tidak bisa dimajukan dan tidak bisa diundur. Benar-benar ketentuan Tuhan yang azali dan akan berlaku bagi siapa saja.

  

Prof Abu Azam merupakan guru besar UIN Sunan Ampel dan pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II UIN Sunan Ampel Surabaya, pada masa kepemimpinan Prof. Masdar Hilmy, 2018-2022. Prof Azam merupakan alumni Syariah IAIN Sunan Ampel, lalu melanjutkan Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel dan Doktor IAIN Sunan Ampel. Kini menjadi UIN Sunan Ampel. Prof Azam merupakan produk IAIN Sunan Ampel yang berhasil menjadi profesor dan juga pejabat tinggi di UIN Sunan Ampel. Tentu sebuah prestasi yang sangat baik di kalangan dosen di UIN Sunan Ampel.

  

Prof. Azam adalah orang baik. Pasti. Prof. Azam orang yang khusnul khatimah juga pasti. Prof. Azam orang yang bermanfaat selama hidupnya juga pasti. Prof. Azam orang yang sedarhana juga pasti. Hal ini bisa dibaca dari pesan di dalam WAG di UIN Sunan Ampel. Banyak yang mendoakannya dan banyak yang menyaksikan kebaikannya. Pak Muhammad Syarif, seniornya, juga menyatakannya bahwa Beliau orang yang baik. Secara lengkap Pak Syarif menyatakan: “Ketika mahasiswa almarhum yunior saya. lewat bisma (PBAK) saya plonco dia. Begitu pula di Senat mahasiswa saya ajak bersama, namun setelah sama-sama lulus saya tabik karena capaian tingkat pendidikan dan gubes. Saya berguru kepadanya perihal kepribadian dan selalu sopan andap asor kepada siapapun.” Prof. Azam  memang pribadi yang menyenangkan dan murah senyum. Yang tidak bisa dilupakan adalah senyumnya yang selalu mengembang di kala bertemu. 

  

Yang tidak kalah menarik adalah komentar Pak Fajar. Panjang Pak Fajar yang memberikan testimoninya. Saya harus menuliskan seluruh isi komentarnya agar kita semua memahami siapa Prof. Azam. “Prof. Azam oase yang hadir kala kebingungan menyapa. Lelah baru saja hilang pasca buat proposal prodi hukum bersama Pak Arif WJ dan Bunda Sri Warjiati. Proposal baru terupload sukses di silenkerma. ‘Ngapunten, sampun terupload Prof’. ‘Yo matur nuwun Mas, mugi hasil’. Bulan berikutnya, tibalah masa awal gencarnya susun KKNI plus akreditasi PM. Tiap minggu kumpul. Agenda yang ditanya sama. ‘Sampai mana KKNI, bagaimana akreditasi?’ KKNI kami serahkan, tiba-tiba Beliau bilang. ‘Mas format KKNI salah. Mohon susun ulang’. ‘Susun ulang KKNI. Buat baru’. Sambil sempurnakan akreditasinya. Saya mutung. Guondok puol karena raw data unit pusat, bahkan saya tunjukkan  cookie data penyusunan dari pusat. Seminggu dua minggu beliau jenguk di kantor prodi. ‘Ayo mas kerjakan, saya bantu’. Minggu berikutnya, kehilangan computer melanda kantor prodi. data yang siap  proofread hilang. ‘wes talah, ojok dipikir. Ayo kerjakan lagi. Piye maneh. Iki Amanah mas’. Beliau lembut berucap sambil tepuk bahu. Bahkan beliau beri saya mouse Bluetooth warna merah. ‘iki pean tak sumbang, pean ojok mutung. Ayo mulai maneh tak kancani.\' Prof Azam wadek dan gubes ringan tangan bicara kepada saya seperti itu kepada saya. Mak nyes.  Visitasi tiba. Alhamdulillah akreditasi pertama  PM dapat B dan berkas KKNI selesai juga dengan banyak kekurangan. Dua tahun beliau dengan tangan dingin, santun, sopan, lembut lembut tutur kata, down to earth dan pantang menyerah dalam membimbing bawahannya. Beliau figure kuat dalam menejerial saya selanjutnya. Guru yang baik, mentor yang tulus, professor yang membanggakan. Alfatihah”.

  

Ada banyak komentar dari sahabat dan koleganya, tetapi secara sengaja memang hanya saya tulis dua saja. Satu dari seniornya dan satu dari yuniornya. Dua kesaksian ini sudah bisa mewakili betapa besar peran dan kontribusi Prof. Azam, bagi pengembangan UINSA secara umum dan fakultasnya secara khusus. Kita semua tentu mengamini atas kesaksian yang diberikan sebagai persaksian atas sikap dan tindakan Prof. Azam. 

  

Prof Azam juga guru besar yang telah menyumbangkan karya akademik yang mampu. Ada sebanyak 40 karya ilmiah yang berupa buku dan artikel di jurnal bereputasi sesuai dengan rekapitulasi Google Scholar. Citasnya juga cukup banyak 604 dengan 7 Indeks-H dan 7 indeks-110. Di antara karya ilmiah berkutat sesuai dengan guru besarnya. Di antaranya adalah Fiqh Muamalah dengan 379 kutipan yang diterbitkan oleh Rajawali Press 2019. Selain ini juga buku Studi Hadits, dan karya-karya di dalam berbagai jurnal yang fokus pada hukum Islam. 

  

Saya termasuk orang yang sering mengkritisi Prof. Azam sewaktu menjabat sebagai warek II, namun karena bersamaan dengan adanya Covid 19, maka ada banyak gagasan dan keinginan Prof. Azam yang tidak atau belum terealisasi. Prof Azam merupakan dosen dan pejabat yang tidak alergi saat dikritik dan diberikan masukan. Secara simbolik bisa digambarkan sebagai orang yang lebar telinganya, karena mau mendengar saran orang lain, tetapi juga orang yang sabar dalam menghadapi masalah-masalah yang menghadangnya. Beliau juga termasuk 10 orang dosen UINSA yang masuk dalam ranking 5000 dosen di Indonesia karena sitasi dan karya-karyanya versi AD Scientific Rank.  

  

Prof Azam meninggal dalam usia 65 tahun. Lahir pada tanggal 12 Agustus 1958 dan wafat pada 01 Desember 2023. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Selamat jalan Prof. Azam, insyaallah panjenengan termasuk orang yang khusnul khatimah. Amin. Lahu al fatihah…

  

Wallahu a'lam bi al shawab.