In Memorium Dr. Suryadharma Ali: Semangat Kerukunan Bangsa (Bagian Dua)
KhazanahSuatu kegembiraan bahwa Menteri-Menteri Agama di Indonesia memiliki kekhasan dalam menakhodai Kementerian Agama (Kemenag) dan memiliki program yang khas sebagai monument di dalam pembangunan masyarakat beragama di Indonesia. Di antara yang menonjol adalah mengenai kerukunan umat beragama. Semuanya menjadikan kerukunan beragama dan persatuan bangsa sebagai misi utamanya dan selalu ada capaian-capain monumental yang menggambarkan kehadirannya.
Sebutlah misalnya, Pak Alamsyah Ratu Prawiranegara, yang konsepnya langgeng sampai sekarang yakni “Tri Kerukunan Umat Beragama” , Prof. Mukti Ali yang memiliki legacy dalam mengembangkan “Metodologi Penelitian Agama” dan “Pembaharuan Perbandingan Agama”, Prof. Munawir Syadzali yang mengembangkan konsep “Tata Negara Islam dan Rekonstruksi Hukum Pewarisan”, Pak Maftuh M. Basuni, dengan “Pembenahan dan Pengembangan Manajemen Haji”, DR. Suryadharma Ali dengan “Gerak Jalan Kerukunan Beragama”, DR. Lukman Hakim Saefuddin dengan “Moderasi Beragama”, Gus Yaqut dengan “Gerakan Moderasi Beragama” dan Prof. Nasaruddin Umar dengan “Agama Berbasis Cinta dan Teologi Lingkungan.”
Saya tentu saja mengetahui tentang implementasi Gerak Jalan Kerukunan. Sebuah program yang unik dan menarik dalam kerangka membumikan kerukunan umat beragama di Indonesia. Konsep ini semula digagas pada waktu ada forum pertemuan di Kantor Wilayah Kementerian Agama di Yogyakarta. Kami bertiga: Pak Surya, saya dan Pak Maskul Haji. Pada waktu itu kemudian muncul pemikiran agar Kemenag menyelenggarakan “Gerak Jalan Kerukunan Umat Beragama” yang diikuti oleh pemeluk agama yang berbeda. Ada tokoh Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha serta Konghucu. Program ini mendapat support yang sedemikian gegap gempita dari para kepala Kanwil Kemenag. Semuanya setuju dan mendukung untuk mengimplementasikan program ini. Maka, yang pertama untuk menyelenggarakan adalah Kepala Kanwil Kemenag Semarang, dan kemudian berturut-turut Kanwil Kemenag agama lainnya. Bahkan juga di Kanwil Kemenag NTT, yang ditempatkan di Pulau Ende. Ketepatan ada kegiatan di sana. Separuh lebih kanwil Kemenag yang menyelenggarakan.
Di dalam kegiatan ini, tentu tidak hanya gerak jalan bersama, akan tetapi juga terdapat pesan-pesan keagamaan dari seluruh tokoh agama di Indonesia. Pesan dari Tokoh Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan agama Buddha serta Agama Konghucu. Di antara pesan keagamaan yang menarik adalah tiada persatuan tanpa kerukunan dan tidak kerukunan tanpa kebersamaan. Persatuan, kerukunan dan kebersamaan merupakan syarat terjadinya perdamaian. Jika kita ingin melihat Indonesia yang damai, maka persyaratannya harus ada persatuan, kerukunan dan kebersamaan. Gerak Jalan Kerukunan merupakan instrument dalam membangun kesepahaman dan kesamaan sikap dan tindakan. Rangkaian acara ini kemudian ditutup dengan Gerak Jalan Kerukunan di Monumen Nasional (Monas) yang dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Budiono. Acara yang diikuti oleh semua ASN Kemenag, tokoh agama, tokoh organisasi keagamaan, siswa Madrasah Aliyah dan masyarakat umum. Sebuah kegiatan yang sangat monumental dan ditutup dengan penampilan Band Wali dari Jakarta. Pak Surya memang seorang Menteri yang sedemikian kuat konsennya untuk membangun kerukunan beragama.
Keterlibatannya secara sangat aktif inilah yang kemudian mengantarkannya untuk memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari dua PT, yaitu UIN Maliki Malang dan Princess of Naradhiwas University di Thailand. Upacara penganugerahan Doktor HC diberikan bersamaan dengan Wisuda Program Sarjana, Program Master dan Program Doktor, 23/09/2013. Selain itu Pak Surya juga berkesempatan untuk menyampaikan Orasi Ilmiah kepada segenap jajaran pimpinan, dosen dan mahasiswa dengan tema :”Pengalaman Indonesia dalam Mengelola Pluralitas dan Multikulturalitas” (Nur Syam, Perjalanan Etnografis Lima Benua”, 2014).
Selain itu juga menyampaikan Orasi Ilmiah di Rajaratnam School of International Studies Nanyang Technological University (NTU) di Singapura. Pak Surya menyampaikan orasi ilmiah dengan tema “Managing Religious Diversity in Democratic Indonesia”, 20/11/2013. Di dalam kesempatan ini, Pak Surya menyatakan bahwa kerukunan umat beragama adalah kata kunci untuk membangun Indonesia. Jika selama ini ada dugaan bahwa sedang terjadi intoleransi di Indonesia, maka pemerintah dan masyarakat Indonesia memiliki kesadaran bahwa kerukunan umat beragama adalah modal dasar dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa. (Nur Syam, Perjalanan Etnografis Lima Benua”, 2014).
Sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), maka pemikirannya tentang Islam yang berwajah damai, rukun dan harmonis tentu sudah tertata di dalam mindsetnya. Tidak terdapat di dalam berbagai sambutan dan pesan-pesan keagamaan dan birokratisnya yang tidak mengusung mengenai kesatuan dan persatuan bangsa. Islam rahmatan lil alamin merupakan pegangan hidup yang tidak pernah ditinggalkannya. Sebagai anggota DPR dan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maka kata kuncinya adalah menjadikan partai sebagai partai terbuka dan untuk siapa saja. Pak Surya adalah sosok yang dapat bergaul dengan segala lapisan masyarakat. Kecintaannya pada kyai-kyai diwujudkannya dalam bentuk kunjungan ke banyak pesantren. Hampir setiap datang ke daerah atas undangan Kepala Kantor wilayah Kemenag maupun PTKI, selalu disempatkannya untuk datang ke pesantren. Memang Pak Surya Adalah seorang santri tulen yang belajar dengan para kyai dan mendapatkan ilmu dari para kyai.
Upaya untuk membangun perdamaian juga dilakukannya. Misalnya dalam menggalang perdamaian bagi Masyarakat Islam di Thailand Selatan. Ada banyak kerja sama yang dilakukannya dalam membangun kesepahaman dalam merumuskan perdamaian. Di antaranya adalah dengan Southern Border Province Administrations Center (SBPAC). Pernah dilakukan kegiatan dengan SBPAC Thailand di Indonesia dan juga pertemuan di Prince Of Naradhiwat University Thailand. Di antara yang disepakati adalah pemberian beasiswa bagi para pelajar dan mahasiswa Pattani di Indonesia.
Pada zamannya, banyak kegiatan yang dilabel dengan singkatan yang menarik, misalnya Pendidikan Terpadu Anak Harapan (dikterapan), Gerakan Mahasiswa Cinta Alqur’an (Gemacintaqu), Madrasah Riset Nasional (Madrina). Dan bagi PTKIN adalah peluang untuk mengembangkan diri dari IAIN ke UIN. Saya kira perkembangan dewasa ini tentang banyaknya UIN adalah berkah Pak Surya kepada PTKIN. Dalam jajaran Madrasah Aliyah juga dikenal Madrasah Aliyah Insan Cendekia (MAN-IC) yang berkembang di seluruh provinsi di Indonesia, dan regulasi tentang Pesantren, seperti Program Muadalah dan rekognisi pendidikan pesantren. (Nur Syam, Dari Bilik Birokrasi, 2014).
Pak Surya lahir pada 19 September 1956 dan wafat pada 31 Juli 2025. Bersama istrinya, Wardatul Asriah, Pak Surya memiliki putra putri: Sherlita Nabila Suryadharma Ali, Nadia Jessica Nurul Wardani, Abdurrahman Sagara Prakasa dan Kartika Yudistira Suryadharma. Pak Surya Adalah alumni IAIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Indonesia. pernah mendapatkan Bintang Mahaputra Adipradana.
Selamat Jalan menuju Tuhan Pak Surya. Ada banyak legacy yang telah panjenengan tancapkan dalam pengembangan pendidikan, pesantren, birokrasi dan kerja sama yang berbasis pada kerukunan umat beragama. Panjenengan termasuk ahli Jannah. Amin. Lahu al fatihah…
Wallahu a’lam bi al shawab.

